Dari Posyandu ke Perpustakaan Keliling, Menanam Benih Literasi Sejak Dini
Budaya literasi perlu ditanamkan sejak usia dini agar tumbuh menjadi karakter yang melekat hingga dewasa.
NUMLIT, WONOGIRI — Suasana Pendapa Kelurahan Pagutan, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Senin (25/5/2026), terasa berbeda dari biasanya.
Puluhan anak tampak duduk melingkar dengan mata berbinar. Sesekali mereka tertawa lepas saat mendengarkan dongeng yang dibawakan Kak Husain. Di sudut lain, sejumlah anak balita bersama orang tua mereka sibuk membuka buku-buku bergambar yang baru saja dipinjam dari mobil perpustakaan keliling.
Pagi itu, literasi hadir bukan dalam bentuk ruang kelas yang kaku, melainkan melalui suasana hangat yang menyatukan anak-anak, orang tua, sekolah, tenaga kesehatan, hingga pemerintah daerah.
Kelurahan Pagutan berkolaborasi dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kabupaten Wonogiri menggelar Gerakan Literasi Masyarakat sebagai bagian dari dukungan program Posyandu Enam Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang pendidikan melalui Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS).
Kegiatan tersebut menghadirkan berbagai layanan sekaligus, mulai dari perpustakaan keliling, pembinaan perpustakaan desa dan kelurahan, literasi gizi, hingga dongeng anak.
Pesertanya pun beragam. Ada anak-anak usia balita bersama orang tua mereka, siswa SDN 2 Pagutan, hingga murid TK Pertiwi Pagutan. Mereka larut dalam berbagai aktivitas yang dirancang untuk menumbuhkan kecintaan terhadap membaca dan belajar sejak dini.
Bagi Kelurahan Pagutan, gerakan literasi bukan sekadar program seremonial. Literasi dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk membangun kualitas sumber daya manusia.

Lurah Pagutan, Sukadi, mengajak anak-anak untuk menjadikan membaca dan menulis sebagai kebiasaan sehari-hari.
Menurutnya, budaya literasi perlu ditanamkan sejak usia dini agar tumbuh menjadi karakter yang melekat hingga dewasa.
Pesan senada juga disampaikan Sekretaris Kecamatan Manyaran, Widodo. Ia menyoroti tantangan besar yang dihadapi keluarga saat ini, yakni penggunaan gawai yang semakin masif di kalangan anak-anak.
Karena itu, peran orang tua dinilai sangat penting untuk mendampingi sekaligus mengarahkan anak agar tidak hanya akrab dengan layar, tetapi juga dekat dengan buku.
“Anak-anak perlu diawasi dalam penggunaan handphone dan diarahkan untuk membaca serta menulis sebagai kebiasaan,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Pemkab Wonogiri.
Kehadiran mobil perpustakaan keliling menjadi salah satu daya tarik utama dalam kegiatan tersebut. Deretan buku cerita, ensiklopedia anak, hingga buku pengetahuan umum langsung diserbu para peserta.
Kepala Bidang Perpustakaan Disarpus Wonogiri, Suseno, yang hadir mewakili Kepala Disarpus Kabupaten Wonogiri, mengatakan layanan perpustakaan keliling diharapkan mampu mendekatkan akses bacaan kepada masyarakat.
Melalui layanan itu, anak-anak tidak hanya diajak membaca, tetapi juga diperkenalkan bahwa perpustakaan merupakan tempat yang menyenangkan untuk belajar dan berimajinasi.
Tak hanya menyasar anak-anak, Disarpus Wonogiri juga memberikan pembinaan kepada pengelola perpustakaan desa dan kelurahan. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan kualitas layanan sehingga perpustakaan dapat berkembang menjadi pusat belajar masyarakat yang aktif dan bermanfaat.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kegiatan sederhana di Pendapa Kelurahan Pagutan itu menghadirkan pesan penting: membangun budaya literasi tidak selalu membutuhkan langkah besar.
Kadang, perubahan justru dimulai dari hal-hal sederhana—membacakan dongeng, membuka lembar demi lembar buku bersama anak, atau menghadirkan perpustakaan lebih dekat ke tengah masyarakat.
Dari Pagutan, benih-benih literasi itu mulai ditanam. Harapannya, kelak tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya gemar membaca, tetapi juga mampu berpikir kritis, kreatif, dan siap menghadapi masa depan. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.