Di Tengah Era AI, Rektor UNS Titip Pesan Ini untuk Wisudawan
Lulusan perguruan tinggi diharapkan memiliki kemampuan berkolaborasi lintas bidang dan lintas disiplin.
NUMLIT, SURAKARTA — Di tengah gegap gempita wisuda dan kemajuan teknologi yang terus melesat, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta justru menitipkan pesan yang sederhana namun mendalam kepada para lulusannya: jangan kehilangan empati.
Pesan itu disampaikan Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr., M.Si., saat mewisuda 593 lulusan pada Wisuda Periode IV Tahun 2026 di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS, Sabtu (30/5/2026).
Bagi Prof. Hartono, masa depan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual (AI) atau kemampuan menguasai teknologi. Di era ketika kecerdasan buatan mulai mengambil alih banyak pekerjaan teknis manusia, justru nilai-nilai kemanusiaan menjadi hal yang paling penting untuk dipertahankan.
“Ketika dunia dilingkupi pesimisme, bawalah optimisme yang terukur melalui karya, empati, dan kolaborasi yang nyata,” pesan Prof. Hartono kepada para wisudawan.

Menurutnya, teknologi mungkin mampu bekerja lebih cepat dan lebih canggih, tetapi empati tetap menjadi kemampuan yang tidak bisa digantikan mesin. Empati dinilai sebagai kompas moral agar ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki seseorang tetap berpihak pada kemaslahatan masyarakat.
Dalam sambutannya, Prof. Hartono juga mengingatkan bahwa tantangan masa depan semakin kompleks dan tidak bisa diselesaikan sendirian. Karena itu, lulusan perguruan tinggi harus memiliki kemampuan berkolaborasi lintas bidang dan lintas disiplin.
Ia menyebut dunia saat ini bukan lagi era kompetisi yang saling menjatuhkan, melainkan era jejaring dan kerja sama.
Berbagai persoalan sosial, ekonomi, kesehatan, hingga lingkungan membutuhkan sinergi dari banyak pihak. Mulai dari ilmuwan, tenaga kesehatan, insinyur, ekonom, hingga ahli sosial dan humaniora.
“UNS ingin alumninya hadir bukan sekadar menjadi penonton perubahan, tetapi ikut mengambil peran sebagai penggerak solusi,” ujarnya.
Pesan tersebut terasa relevan dengan kondisi global saat ini, ketika masyarakat menghadapi berbagai tantangan seperti disrupsi teknologi, ketimpangan sosial, hingga perubahan pola kerja akibat digitalisasi.
Di tengah perubahan yang cepat itu, UNS menekankan pentingnya menjaga integritas dan karakter.
Prof. Hartono mengingatkan para lulusan agar tidak hanya mengejar prestasi karier, tetapi juga menjaga nama baik almamater dengan kejujuran, tanggung jawab, dan keluhuran budi pekerti.
Suasana wisuda juga semakin inspiratif dengan hadirnya alumni muda berprestasi, Dennis A. Kosasih, lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNS angkatan 2014.
Dennis berhasil menempuh studi magister di Columbia University melalui beasiswa penuh LPDP dan kini menjabat sebagai Director Marketing and Commercials di Aerostreet Indonesia.

Dalam sesi berbagi pengalaman, Dennis mendorong para wisudawan untuk terus belajar dan beradaptasi menghadapi perubahan dunia kerja yang sangat dinamis.
Kehadirannya menjadi bukti bahwa lulusan UNS memiliki peluang besar untuk berkembang di tingkat global, selama mau terus bertumbuh dan tidak berhenti belajar.
Wisuda kali ini pun tidak sekadar menjadi seremoni akademik, tetapi juga momentum refleksi bahwa keberhasilan pendidikan tinggi bukan hanya soal gelar, melainkan tentang bagaimana ilmu pengetahuan digunakan untuk memberi dampak bagi sesama.
Di tengah dunia yang semakin digital, UNS ingin para alumninya tetap menjadi manusia yang utuh: cerdas, adaptif, berintegritas, sekaligus memiliki kepedulian sosial yang kuat. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.