Ketika Kebaikan Perlu Dipublikasikan, Mentor Genzaki Dibekali Strategi Komunikasi
Komunikasi yang baik tidak harus selalu menggunakan produksi konten yang rumit. Hal yang lebih penting adalah adanya cerita yang kuat, konsistensi publikasi, visual yang layak, serta pesan yang mudah...
Praktisi media dan komunikasi, Damar Sri Prakoso, SS, MM, menyampaikan materi seputar strategi komunikasi dan media kekinian dalam Sarasehan Mentor Genzaki UPZ UNS, Jumat (25/9/2026). (istimewa) NUMLIT, SURAKARTA – Kebaikan tidak selalu cukup hanya dilakukan. Agar manfaatnya meluas, praktik baik juga perlu dikomunikasikan dengan cara yang tepat sehingga diketahui, dipahami, dan mampu menggerakkan lebih banyak orang untuk ikut berkontribusi.
Table Of Content
Gagasan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Sarasehan Mentor September yang diikuti belasan mentor Bimbingan Belajar (Bimbel) Genzaki di bawah naungan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jumat (25/9/2026).
Dalam kegiatan yang berlangsung mulai pukul 12.30 WIB tersebut, praktisi media dan komunikasi Damar Sri Prakoso, S.S., M.M. hadir sebagai narasumber utama dalam sesi sharing mengenai strategi komunikasi dan media kekinian.
Damar yang juga Founder media Numeralitera ini mengajak para mentor tidak hanya melihat aktivitas Bimbel Genzaki sebagai kegiatan pendampingan pendidikan, tetapi juga sebagai sebuah gerakan sosial yang memiliki cerita, nilai, dan dampak yang layak diketahui masyarakat.
Menurutnya, berbagai aktivitas positif yang dilakukan para mentor bersama anak-anak binaan jangan sampai hanya berhenti sebagai kegiatan internal. Pengalaman, proses, maupun perubahan yang terjadi di dalam program dapat dikemas menjadi cerita yang mampu memperkenalkan Bimbel Genzaki kepada masyarakat secara lebih luas.
“Praktik baik itu perlu kita syiarkan. Bukan untuk riya, tetapi agar ketika orang lain mengetahui ada kebaikan yang sedang dilakukan, mereka bisa tersentuh, tergerak hatinya, kemudian ikut berkontribusi,” ujar Damar dalam sesi tersebut.
Media Bukan Sekadar Dokumentasi
Dalam diskusi bersama para mentor, Damar menekankan pentingnya perubahan cara pandang terhadap aktivitas komunikasi.
Dokumentasi kegiatan, menurutnya, jangan hanya dibuat untuk menunjukkan bahwa sebuah program telah dilaksanakan. Dokumentasi seharusnya mampu menjawab pertanyaan yang lebih penting. Apa yang dilakukan, siapa yang mendapatkan manfaat, mengapa kegiatan tersebut penting, dan perubahan apa yang ingin diwujudkan?
Karena itu, setiap kegiatan Bimbel Genzaki memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi konten media sosial maupun bahan pemberitaan.
Mulai dari aktivitas belajar, interaksi mentor dengan anak-anak binaan, cerita perjuangan peserta, kegiatan kreatif, hingga berbagai capaian program dapat menjadi bahan komunikasi yang memperlihatkan wajah Bimbel Genzaki secara lebih utuh.
“Jangan hanya mendokumentasikan acaranya. Yang lebih penting adalah menangkap ceritanya. Apa persoalan yang dihadapi anak-anak, apa yang dilakukan mentor, dan dampak apa yang muncul dari proses pendampingan itu. Di situlah nilai sebuah cerita,” jelasnya.
Menurut Damar, komunikasi yang baik tidak harus selalu menggunakan produksi konten yang rumit. Hal yang lebih penting adalah adanya cerita yang kuat, konsistensi publikasi, visual yang layak, serta pesan yang mudah dipahami masyarakat.
Menghubungkan Kebaikan dengan Partisipasi Publik
Sarasehan tersebut juga menjadi ruang bagi para mentor untuk melakukan brainstorming mengenai aktivitas Bimbel Genzaki dan tujuan yang ingin dicapai bagi anak-anak binaan.
Para peserta mendiskusikan bagaimana program pendampingan dapat memberikan manfaat lebih besar bagi anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu di lingkungan sekitar kampus UNS.
Dari diskusi tersebut, komunikasi kemudian ditempatkan sebagai salah satu bagian penting dalam membangun keberlanjutan program.
Sebab, ketika masyarakat mengenal Bimbel Genzaki dan memahami manfaat yang dihasilkan, peluang munculnya dukungan dari pihak luar juga semakin terbuka.
Dukungan tersebut dapat berupa donasi, tenaga, keahlian, jejaring, maupun bentuk kontribusi lainnya.
Dalam konteks inilah media sosial dan pemberitaan tidak sekadar berfungsi sebagai saluran informasi, tetapi juga sebagai jembatan antara program dan masyarakat.
“Tujuannya bukan sekadar agar orang tahu bahwa Genzaki punya kegiatan. Lebih jauh, kita ingin masyarakat memahami bahwa ada anak-anak yang sedang didampingi, ada mentor yang bergerak, dan ada sebuah gerakan kebaikan yang membutuhkan dukungan bersama,” kata Damar.
Dari Cerita Kecil Menjadi Gerakan yang Lebih Besar
Bimbel Genzaki sendiri menjadi bagian dari upaya UPZ UNS dalam menghadirkan manfaat bagi masyarakat, khususnya melalui pendampingan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di sekitar lingkungan kampus.

Karena itu, menurut Damar, cerita tentang Bimbel Genzaki perlu dikemas secara manusiawi.
Anak-anak binaan tidak semata-mata ditampilkan sebagai penerima bantuan. Mereka juga perlu hadir sebagai individu yang memiliki cita-cita, potensi, perjuangan, dan kesempatan untuk berkembang.
Sementara para mentor tidak hanya diposisikan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai bagian dari proses yang membantu membuka peluang bagi anak-anak tersebut untuk tumbuh.
Pendekatan seperti ini dinilai dapat membuat komunikasi program lebih inspiratif sekaligus menjaga martabat penerima manfaat.
“Cerita yang baik bukan cerita yang membuat orang merasa kasihan. Cerita yang baik adalah cerita yang membuat orang peduli dan kemudian bertanya, ‘Apa yang bisa saya lakukan?’” ungkap Damar.
Mengubah Dokumentasi Menjadi Energi Kebaikan
Melalui sarasehan tersebut, para mentor juga diajak memikirkan strategi komunikasi yang lebih terarah, mulai dari menentukan pesan utama, memilih platform media sosial, membuat konten yang relevan dengan karakter audiens, hingga mengembangkan aktivitas menjadi materi pemberitaan yang dapat dipublikasikan di berbagai platform media.
Manajer Program UPZ UNS, Edi Santoso, mengatakan secara berkala pihaknya mengadakan pembinaan relawan maupun sarasehan mentor.
“Di situ, kami ada penguatan kapasitas, sarahsehan, pembinaan, sekaligus sharing session yang bisa menambah wawasan dan pengetahuan tim UPZ UNS. Kebetulan pada bulan September ini, kami adakan sarasehan untuk para mentor Bimbel Genzaki,” ujar Edi.
Dengan strategi tersebut, aktivitas Bimbel Genzaki diharapkan tidak hanya terdokumentasi, tetapi memiliki jejak digital yang dapat memperkuat citra program sekaligus memperluas jangkauan informasi.
Semakin banyak masyarakat yang mengenal program tersebut, semakin terbuka pula peluang terbangunnya ekosistem dukungan untuk keberlanjutan kegiatan.
Bagi Damar, pada akhirnya komunikasi tentang kebaikan bukan tentang mencari pengakuan.
Sebaliknya, komunikasi menjadi cara untuk mempertemukan mereka yang sedang berbuat baik dengan orang-orang yang mungkin ingin ikut berbuat baik, tetapi belum mengetahui di mana dan bagaimana harus memulainya.
“Kebaikan yang disimpan sendiri mungkin hanya berdampak pada lingkungan yang kecil. Tetapi ketika kebaikan itu dikomunikasikan dengan cara yang baik, orang lain bisa mengetahui, terinspirasi, lalu ikut bergerak. Dari satu kebaikan, bisa lahir kebaikan-kebaikan berikutnya,” pungkasnya.
Sarasehan mentor September tersebut diharapkan menjadi momentum bagi para mentor Bimbel Genzaki untuk tidak hanya semakin kuat dalam menjalankan pendampingan pendidikan, tetapi juga mampu menceritakan setiap proses dan dampaknya kepada publik.
Dengan demikian, cerita tentang anak-anak binaan, dedikasi para mentor, dan gerakan sosial yang dilakukan UPZ UNS dapat menjangkau lebih banyak orang, hingga akhirnya semakin banyak pula pihak yang tergerak untuk ikut mendukung dan memperluas manfaatnya. (Redaksi)



No Comment! Be the first one.