Tak Hanya Jago Mendesain, Mahasiswa DKV ISI Surakarta Taklukkan Orienteering Nasional
Medali emas MOCN 4 juga menambah catatan perjalanan Tri di dunia orienteering. Sebelumnya, ia aktif mewakili daerah dalam berbagai kompetisi orienteering hingga tingkat nasional dan internasional.
NUMLIT, SURAKARTA — Kemampuan membaca peta, menentukan rute, mengambil keputusan dalam hitungan detik, dan menjaga stamina hingga garis finis mengantarkan Tri Yulianti, mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Surakarta, meraih medali emas dalam kompetisi orienteering tingkat nasional.
Mahasiswa angkatan 2025 yang akrab disapa Tri itu menjadi juara I kelas U20 pada MAPASA Orienteering Competition National (MOCN) 4 Tahun 2026, yang digelar UKM Mahasiswa Pecinta Alam (MAPASA) Universitas Al-Irsyad Cilacap, Sabtu-Minggu (29-30/8/2026).
Prestasi tersebut menjadi menarik karena orienteering bukan sekadar olahraga yang mengandalkan kecepatan berlari. Peserta harus mampu menggabungkan kemampuan membaca peta, menggunakan kompas, mengenali medan, menentukan rute, mengambil keputusan dengan cepat, sekaligus mempertahankan ketahanan fisik.
Dalam perlombaan, peserta dituntut menemukan sejumlah titik kontrol (control point) secara berurutan dengan bantuan peta dan kompas. Pemenang ditentukan berdasarkan waktu tempuh tercepat dengan tetap mengikuti ketentuan lintasan.
Di kelas U20, Tri harus berhadapan dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi dan komunitas di Indonesia. Persaingan di kelas tersebut diikuti antara lain mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada, Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta, Universitas Budi Luhur, Universitas Sebelas Maret, Universitas Harkat Negeri, Universitas Jenderal Soedirman, serta sejumlah perguruan tinggi dan komunitas lainnya.
Kompetisi berlangsung di Lapangan Jati Persada, Cilacap, Jawa Tengah. Di tengah persaingan tersebut, Tri mampu menunjukkan konsistensi dalam membaca medan dan menentukan rute. Kemampuan navigasi, ketahanan fisik, serta ketepatan mengambil keputusan menjadi kombinasi penting yang membawanya finis di posisi pertama dan membawa pulang medali emas.
Aktivitas di Luar Kampus Jadi Kekuatan
Bagi Tri, kemenangan tersebut bukan hanya tentang satu medali. Prestasi di MOCN 4 menjadi bukti bahwa kesibukan akademik sebagai mahasiswa DKV dapat berjalan beriringan dengan pengembangan kemampuan di bidang olahraga.
Di satu sisi, ia menjalani proses pembelajaran di bidang seni dan desain. Di sisi lain, ia tetap menjaga aktivitasnya di dunia orienteering dengan mengikuti berbagai kompetisi.
Pilihan untuk menekuni dua bidang tersebut membuat perjalanan Tri menjadi contoh bahwa pengembangan diri mahasiswa tidak harus berhenti pada bidang studi yang dipilih di bangku kuliah.
Kemampuan yang diasah melalui olahraga orienteering pun memiliki karakter yang berbeda dengan sekadar kemampuan fisik. Peserta dituntut berpikir cepat ketika menghadapi perubahan medan, menentukan pilihan rute, serta mempertimbangkan konsekuensi dari setiap keputusan.

Bagi seorang mahasiswa DKV, pengalaman semacam itu menjadi proses pengembangan kemampuan personal yang melengkapi kompetensi akademiknya.
Bukan Prestasi Pertama
Medali emas MOCN 4 juga menambah catatan perjalanan Tri di dunia orienteering. Sebelumnya, ia aktif mewakili daerah dalam berbagai kompetisi orienteering hingga tingkat nasional dan internasional.
Pengalaman mengikuti berbagai kejuaraan tersebut menjadi modal penting ketika menghadapi persaingan di kelas U20 MOCN 4.
Konsistensi mengikuti kompetisi membuat Tri tidak hanya memiliki pengalaman bertanding, tetapi juga terbiasa menghadapi tekanan untuk menentukan keputusan secara cepat di tengah kondisi fisik yang terus terkuras.
Dosen DKV ISI Surakarta sekaligus dosen pembimbing mahasiswa, Basnendar Herry Prilosadoso, mengapresiasi capaian Tri.
Menurutnya, prestasi tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki ruang luas untuk mengembangkan berbagai potensi di luar bidang akademik.
“Capaian Tri juga menjadi gambaran bahwa mahasiswa dapat menjalankan minat secara berimbang, baik di bidang seni dan desain maupun olahraga,” kata Basnendar, baru-baru ini.
Bagi lingkungan kampus, kata dia, keberhasilan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa prestasi mahasiswa tidak selalu lahir dari ruang studio, laboratorium, atau tugas perkuliahan.
Kadang, kemampuan membaca situasi, menentukan arah, bertahan ketika lelah, dan berani mengambil keputusan justru ditempa dari medan yang sama sekali berbeda.
Tri Yulianti membuktikannya melalui orienteering. Seorang mahasiswa DKV tidak hanya dituntut mampu menciptakan karya, tetapi juga mampu menentukan arah ketika menghadapi medan yang penuh pilihan. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.