Ketika Mahasiswa Bercerita tentang Indonesia Lewat Komik: Dari Humor hingga Kritik Sosial
Lomba komik strip Peksiminas menjadi ruang bagi mahasiswa dari berbagai daerah untuk menerjemahkan hubungan mereka dengan Indonesia melalui bahasa visual.
Mahasiswa peserta Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) XVIII 2026 berfoto Bersama di Universitas Jember, Jawa Timur, baru-baru ini. (istimewa) NUMLIT, JEMBER — Indonesia tidak selalu harus dibicarakan melalui pidato panjang atau tulisan berlembar-lembar.
Table Of Content
Di tangan mahasiswa peserta Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) XVIII 2026, cerita tentang negeri justru hadir dalam bentuk yang lebih sederhana. Beberapa panel gambar, karakter, dialog, ekspresi, dan cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dari situlah beragam cara pandang mahasiswa tentang Indonesia bertemu dalam Lomba Komik Strip Peksiminas XVIII 2026.
Mengusung tema “Dari Aku untuk Negeriku”, lomba tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa dari berbagai daerah untuk menerjemahkan hubungan mereka dengan Indonesia melalui bahasa visual. Ada yang membawa persoalan sosial, kehidupan sehari-hari, kepedulian, identitas, kebangsaan, hingga gagasan tentang kontribusi generasi muda. Satu tema ternyata bisa melahirkan begitu banyak cerita.
Perbedaan latar belakang peserta dari 28 provinsi membuat tema “Dari Aku untuk Negeriku” tidak tampil dalam satu wajah. Setiap peserta memiliki pengalaman, pengamatan, cara berpikir, dan kepekaan sosial yang berbeda. Semua kemudian diterjemahkan menjadi cerita visual dengan karakter masing-masing.
Di sinilah komik strip menjadi menarik. Ia tidak membutuhkan paragraf panjang untuk menyampaikan gagasan. Pesan dibangun dari hubungan antarpanel, ekspresi tokoh, gestur, dialog, teks, komposisi, hingga ritme cerita.
Sebuah ekspresi wajah bisa menggantikan kalimat panjang. Sebuah dialog pendek dapat menyampaikan kritik. Bahkan sebuah adegan sederhana dapat membawa pembaca pada persoalan yang lebih besar tentang kehidupan masyarakat.
Karena itu, komik dalam Peksiminas 2026 tidak semata-mata menjadi karya hiburan. Ia menjadi cara mahasiswa membaca realitas di sekeliling mereka.
Dari gagasan personal menjadi cerita kebangsaan
Penyelenggaraan Peksiminas XVIII 2026 merupakan hasil keputusan Rapat Kerja Nasional Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) 2026 yang menetapkan Pengurus Provinsi BPSMI Jawa Timur sebagai tuan rumah. Seluruh rangkaian kegiatan dipusatkan di Universitas Jember, Jawa Timur, pada Senin-Jumat (7–11/9/2026).
Lomba Komik Strip menjadi salah satu tangkai lomba yang memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi ruang perjumpaan gagasan mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia.
Tema kebangsaan tidak diterjemahkan secara seragam. Justru pengalaman personal menjadi pintu masuk untuk membicarakan sesuatu yang lebih besar.
Apa yang dilihat mahasiswa di lingkungannya, apa yang mereka rasakan, persoalan yang mereka amati, hingga humor dan imajinasi yang mereka miliki, semuanya dapat berubah menjadi cerita tentang negeri.
Karena itu, “Dari Aku untuk Negeriku” pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang “negeri”, tetapi juga tentang “aku”.
Tentang bagaimana seorang mahasiswa melihat dirinya sebagai bagian dari masyarakat dan bagaimana ia memilih menyampaikan pandangannya.
Koordinator Juri Lomba Komik Strip I Wayang Nuriarta mengatakan keberagaman tersebut menjadi salah satu karakter kuat yang terlihat dari karya para peserta.
“Karya yang hadir dalam lomba sangat variatif, namun para peserta perlu meningkatkan kemampuan teknik penyelesaian karya, serta struktur mengungkapkan ide dalam narasi visual,” ungkap Nuriarta.
Catatan tersebut menunjukkan bahwa kreativitas saja belum cukup. Gagasan yang kuat membutuhkan kemampuan teknis dan struktur cerita agar pesan dapat sampai kepada pembaca.
Dalam komik, setiap panel memiliki fungsi. Cerita harus bergerak, karakter harus berbicara melalui ekspresi dan gestur, sementara dialog tidak boleh mengambil alih peran gambar. Di situlah tantangan peserta: bagaimana menyampaikan gagasan yang besar melalui ruang cerita yang terbatas.
Jawa Timur hingga Kalimantan Selatan Berbagi Suara
Setelah melalui proses penjurian, Khairul Nisa dari Jawa Timur berhasil meraih Juara I Lomba Komik Strip Peksiminas XVIII 2026.
Juara II diraih Davian Arya dari Jawa Tengah, sedangkan Juara III diraih Yoan Meyral dari Lampung.
Sementara itu, Juara Harapan I diraih Lunar Antartika dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Juara Harapan II Ni Luh Made Bindi dari Bali, dan Juara Harapan III Sintia Andini dari Kalimantan Selatan.
Para juri menilai karya berdasarkan sejumlah aspek, antara lain kesesuaian dengan tema, kemampuan berkomunikasi dengan pembaca utama dari kalangan remaja dan dewasa, penguasaan teknik seni sekuensial, serta keunikan dan orisinalitas karya.
Proses penjurian dikoordinasikan I Wayang Nuriarta dari Institut Seni Indonesia Bali, bersama Bambang Tri Rahadian dari Institut Kesenian Jakarta dan Ngurah Tri Marutama dari Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Namun, hasil lomba tidak berhenti pada siapa yang menjadi juara. Karya-karya dari berbagai daerah tersebut memperlihatkan satu hal. Indonesia bisa dibaca dari banyak sudut pandang.
Ada perspektif dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Yogyakarta, Bali, hingga Kalimantan Selatan. Masing-masing membawa pengalaman dan cara bercerita sendiri.
Dan ketika semuanya bertemu dalam satu panggung Peksiminas, keberagaman itu justru menjadi kekuatan.
Komik sebagai suara generasi muda
Peksiminas XVIII 2026 akhirnya tidak hanya menghasilkan daftar pemenang. Lebih dari itu, lomba Komik Strip memperlihatkan bagaimana generasi muda memilih medium yang dekat dengan zamannya untuk menyampaikan gagasan.
Komik memungkinkan persoalan yang serius dibicarakan dengan bahasa yang ringan. Kritik dapat hadir melalui humor. Keresahan dapat diterjemahkan melalui karakter. Sementara gagasan tentang kebangsaan dapat tumbuh dari pengalaman yang sangat personal.
Itulah menariknya tema “Dari Aku untuk Negeriku”. Negeri tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia bisa dimulai dari apa yang dilihat seseorang setiap hari, apa yang dirasakan, apa yang dipikirkan, lalu keberanian untuk menceritakannya.
Dalam lomba ini, cerita-cerita itu menemukan bentuknya dalam panel-panel komik. Satu panel berbicara. Panel berikutnya menjawab. Karakter bergerak, dialog mengalir, dan cerita berkembang menjadi sebuah pesan.
Dari sana, komik tidak lagi sekadar gambar yang disusun berurutan. Ia menjadi cara mahasiswa mengatakan kepada Indonesia. Ini yang saya lihat, ini yang saya pikirkan, dan inilah yang ingin saya sampaikan untuk negeri saya. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.