Rel Kereta Punya Bahaya yang Tak Terlihat, KAI Daop 6 Edukasi 80 Anak di Sukoharjo
Tim KAI Daop 6 Yogyalarta mengemas edukasi keselamatan dalam suasana yang dekat dengan dunia anak.
NUMLIT, SUKOHARJO — Bagi anak-anak, kereta api selalu punya daya tarik tersendiri. Suaranya, gerbong yang panjang, hingga rel yang membentang bisa menjadi sesuatu yang menarik untuk dilihat. Namun, ada satu hal yang perlu dipahami sejak dini yaitu jalur kereta api bukan tempat bermain.
Pesan itulah yang dibawa PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 6 Yogyakarta melalui program Safety Rangers Goes to School saat menyambangi SDN 5 Gayam, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Selasa (8/9/2026).
Sekitar 80 anak yang terdiri atas 50 siswa sekolah dasar dan 30 anak taman kanak-kanak mengikuti kegiatan tersebut. Alih-alih menghadirkan sosialisasi dengan pendekatan formal, tim KAI Daop 6 mengemas edukasi keselamatan dalam suasana yang dekat dengan dunia anak.
Topeng karakter superhero dan pendongeng digunakan untuk menyampaikan pesan tentang bahaya bermain di sekitar rel maupun perilaku yang dapat membahayakan perjalanan kereta api.
Manager Humas Daop 6 Yogyakarta Feni Novida Saragih mengatakan pendekatan tersebut dipilih agar pesan keselamatan lebih mudah diterima anak-anak.
“Kami berusaha agar pesan keselamatan lebih mudah dipahami oleh anak-anak. Kegiatan sosialisasi dikemas secara edukatif, interaktif, dan menyenangkan,” ujar Feni.
Menurut dia, anak-anak perlu memahami sejak dini bahwa jalur kereta api memiliki ruang operasional yang harus dihormati. Keselamatan tidak hanya berkaitan dengan orang yang berada di dalam kereta, tetapi juga masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar jalur perkeretaapian.
“Keselamatan di perkeretaapian bukan hanya menjadi tanggung jawab KAI, tetapi merupakan tanggung jawab kita bersama,” katanya.

Pesan tersebut menjadi penting karena lingkungan sekitar rel kerap dianggap sebagai ruang yang biasa saja bagi masyarakat. Bagi anak-anak, misalnya, kawasan sekitar rel dapat terlihat seperti ruang terbuka yang menarik untuk bermain. Padahal, aktivitas di jalur kereta api memiliki risiko yang tidak selalu terlihat.
Karena itu, dalam kegiatan tersebut KAI Daop 6 memberikan pemahaman mengenai sejumlah aturan dasar keselamatan, mulai dari perilaku aman saat berada di perlintasan sebidang, larangan beraktivitas di jalur kereta api, hingga pengenalan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian.
KAI juga mengingatkan anak-anak agar tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan perjalanan kereta api, termasuk bermain di sekitar rel.
Feni berharap edukasi tersebut tidak berhenti ketika kegiatan di sekolah selesai. Anak-anak diharapkan membawa pesan keselamatan itu ke rumah dan lingkungan tempat tinggal mereka.
“Kami berharap anak-anak tidak hanya memahami aturan keselamatan untuk dirinya sendiri, tetapi juga dapat menjadi agen keselamatan kecil di lingkungan sekolah dan keluarga,” ujarnya.
Dengan kata lain, anak-anak tidak hanya ditempatkan sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai bagian dari rantai edukasi keselamatan.
Pesan keselamatan pun tidak berhenti pada larangan. KAI Daop 6 juga mengajak anak-anak mencintai kereta api dengan cara yang benar, antara lain menjaga kebersihan, tidak melakukan vandalisme, serta ikut menjaga lingkungan perkeretaapian tetap aman.

Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa membangun budaya keselamatan tidak selalu harus dimulai dari aturan yang rumit. Ia bisa dimulai dari pemahaman sederhana seorang anak. Ketika melihat rel, jangan bermain di sana; ketika berada di perlintasan, patuhi aturan; dan ketika mencintai kereta api, tunjukkan dengan menjaga keselamatannya.
Feni menegaskan, edukasi sejak usia dini diharapkan dapat membentuk kebiasaan yang terbawa hingga dewasa.
“Kami ingin anak-anak tumbuh dengan pemahaman bahwa kereta api adalah moda transportasi yang harus kita dukung dan cintai bersama. Caranya sederhana, mulai dari disiplin mematuhi aturan, menjaga lingkungan perkeretaapian, dan selalu mengutamakan keselamatan,” tutupnya.
Melalui Safety Rangers Goes to School, KAI Daop 6 tidak sekadar mengenalkan aturan perkeretaapian kepada anak-anak. Lebih jauh, program tersebut menjadi upaya menanamkan satu kebiasaan penting sejak dini yaitu keselamatan bukan sekadar aturan yang harus diketahui, tetapi perilaku yang harus dilakukan. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.