Mahasiswa PGSD UKSW Ciptakan Media Belajar Tanpa Gadget
Tujuh karya yang mendapatkan perlindungan hak cipta itu meliputi MATUMBUH, Bio-Abio World, Si Mata Ceria, SENA Box, Jejak Indra, Rahasia Dua Sisi, dan TUMBILARA.
NUMLIT, SALATIGA — Di tengah maraknya penggunaan gawai dalam proses belajar mengajar, sekelompok mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga justru menghadirkan pendekatan berbeda.
Mereka mengembangkan media pembelajaran konvensional yang interaktif, menyenangkan, dan mampu membuat siswa lebih aktif belajar tanpa bergantung pada layar digital.
Menariknya, tujuh media pembelajaran karya mahasiswa tersebut berhasil memperoleh sertifikat Hak Cipta dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM).
Pencapaian ini menjadi yang pertama dalam sejarah Program Studi PGSD UKSW.
Tujuh karya yang mendapatkan perlindungan hak cipta itu meliputi MATUMBUH, Bio-Abio World, Si Mata Ceria, SENA Box, Jejak Indra, Rahasia Dua Sisi, dan TUMBILARA.
Seluruh media pembelajaran tersebut kemudian diserahkan kepada SD Negeri 12 Salatiga untuk mendukung proses pembelajaran di kelas.
Keberhasilan tersebut merupakan hasil dari mata kuliah Inovasi Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Sekolah Dasar yang mendorong mahasiswa tidak hanya memahami teori pendidikan, tetapi juga menghasilkan produk yang dapat diterapkan secara langsung di sekolah.
Dosen pengampu mata kuliah Inovasi Pembelajaran IPA SD, Gamaliel Septian Airlanda, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa seluruh media dirancang untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam belajar sekaligus mengintegrasikan berbagai mata pelajaran dalam satu aktivitas.
“Hal yang paling menarik adalah rekan-rekan mahasiswa mampu menggabungkan materi IPA dengan mata pelajaran lain, seperti matematika, kesenian, hingga bahasa Indonesia,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UKSW.
Menurut Gamaliel, pendekatan tersebut menjadi solusi pembelajaran yang lebih menyenangkan, khususnya bagi siswa kelas rendah yang membutuhkan pengalaman belajar konkret dan interaktif.
Selain tujuh media konvensional, mahasiswa juga mengembangkan tujuh media digital berbasis 3D Augmented Reality (AR).
Seluruh karya tersebut telah diujicobakan melalui Festival Sains di SD Negeri 12 Salatiga pada Maret 2026 dan mendapatkan respons positif dari para siswa.

Salah satu media yang menarik perhatian adalah Rahasia Dua Sisi, berupa alat sederhana berbentuk neraca keseimbangan yang mengajak siswa memahami sifat benda padat melalui kegiatan eksperimen.
Sementara Jejak Indra dikembangkan sebagai permainan edukatif yang membantu siswa mengenal fungsi pancaindra melalui aktivitas mencocokkan gambar secara interaktif.
Belajar Jadi Lebih Menyenangkan
Bagi pihak sekolah, kehadiran media pembelajaran tersebut memberikan warna baru dalam proses belajar mengajar.
Kepala SD Negeri 12 Salatiga, Syaroh, S.Pd., mengaku merasakan langsung dampaknya terhadap antusiasme siswa di kelas.
“Alat peraga visual ini sangat membantu. Anak-anak menjadi jauh lebih antusias dan tidak mudah bosan saat mempelajari materi literasi maupun numerasi,” katanya.
Menurutnya, media pembelajaran yang menarik mampu membuat siswa lebih aktif berpartisipasi sekaligus membantu guru menyampaikan materi dengan lebih mudah.
Keberhasilan memperoleh Hak Cipta juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi Program Studi PGSD UKSW.
Pasalnya, proses pengembangan media tersebut dilakukan selama satu semester penuh hingga akhirnya menghasilkan karya yang tidak hanya inovatif, tetapi juga memiliki perlindungan kekayaan intelektual.
Melihat manfaat yang dirasakan sekolah, Syaroh berharap kolaborasi antara UKSW dan SD Negeri 12 Salatiga dapat terus berlanjut.
“Harapan kami kerja sama ini bisa semakin baik ke depan. Jika ada inovasi media pembelajaran baru, semoga dapat kembali diterapkan di sekolah kami karena kebutuhan terhadap media seperti ini sangat besar,” ujarnya.
Pencapaian tersebut sekaligus menunjukkan bahwa inovasi pendidikan tidak selalu harus berbasis teknologi tinggi.
Dengan kreativitas dan pemahaman terhadap kebutuhan siswa, media pembelajaran sederhana pun dapat menjadi sarana efektif untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan, bermakna, dan berdampak bagi anak-anak. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.