Menghidupkan Bahaya Manipulasi Kata di Atas Panggung
Di balik suksesnya pertunjukan tersebut, terdapat proses kreatif yang panjang, mulai dari pendalaman naskah hingga kolaborasi lintas divisi yang terjalin selama berbulan-bulan.
NUMLIT, SURAKARTA – Sebuah kalimat dapat melukai lebih dalam daripada sebilah pedang.
Gagasan itulah yang dihidupkan mahasiswa Kelas A Sastra Inggris angkatan 2024 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS melalui pementasan teater yang mengangkat tema besar tentang manipulasi informasi, propaganda, dan perjuangan mempertahankan kebenaran.
Di balik suksesnya pertunjukan tersebut, terdapat proses kreatif yang panjang, mulai dari pendalaman naskah hingga kolaborasi lintas divisi yang terjalin selama berbulan-bulan.
Sutradara Kelas A, Roy Leonardo Indra Wijaya, mengungkapkan bahwa sejak awal ia dan tim sepakat memilih naskah berjudul “Palimpsest” karya Khayyara Alima Rafifah karena memiliki relevansi yang sangat kuat dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Menurut Roy, pesan utama yang ingin disampaikan bukan sekadar tentang konflik antartokoh, melainkan ajakan agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam manipulasi informasi.
“Pesan yang paling ingin kami sampaikan adalah bahwa kebenaran hanya akan bertahan jika ada yang memperjuangkannya,” ujarnya, saat diwawancarai seusai pementasan di SMKN 8 Surakarta, Sabtu (11/7/2026) malam.
Dalam cerita tersebut, tokoh Sigeweard, penasihat raja yang licik, mampu membalikkan pandangan masyarakat terhadap Heralda hanya melalui permainan kata-kata.
Dari konflik itulah penonton diajak memahami bahwa propaganda dan informasi palsu dapat menghancurkan seseorang tanpa kekerasan fisik.
Roy menilai tema tersebut sangat dekat dengan kehidupan generasi muda yang setiap hari dibanjiri berbagai informasi melalui media digital.
“Kami memilih naskah ini karena sangat relevan dengan dunia sekarang. Jangan langsung percaya pada sebuah informasi tanpa mencari fakta terlebih dahulu,” katanya.
Untuk menerjemahkan pesan tersebut ke atas panggung, Roy tidak hanya mengandalkan kekuatan naskah.
Ia membaca naskah berulang kali, membayangkan visual pertunjukan, bahkan melakukan beberapa penyesuaian alur setelah mendapatkan izin dari penulis agar cerita lebih mengalir ketika dipentaskan.
Proses kreatif kemudian berlanjut ke ruang latihan. Setiap aktor diarahkan memahami karakter melalui pembacaan naskah, eksplorasi ekspresi, hingga bahasa tubuh.
Roy mengaku karakter yang paling sulit dibangun adalah Sigeweard karena harus menampilkan sosok manipulatif yang cerdas sekaligus meyakinkan.
Namun, tantangan itu perlahan terjawab setelah proses casting.
“Setelah beberapa kali latihan, pemeran Sigeweard sudah bisa masuk ke karakternya dengan mudah. Saat itu saya merasa pemilihan pemain benar-benar tepat,” ungkapnya.
Pendalaman karakter dilakukan melalui latihan berulang dengan arahan langsung dari sutradara. Sesekali Roy memberikan contoh akting, tetapi ia juga memberi ruang kepada para pemain untuk mengembangkan interpretasi mereka sendiri.

Keyakinannya terhadap kualitas pementasan mulai tumbuh ketika latihan memasuki babak pertama.
“Saat adegan eksekusi berhasil dimainkan sesuai visi yang saya bayangkan, saya mulai yakin naskah ini bisa diwujudkan dengan baik,” katanya.
Kepercayaan tersebut semakin menguat ketika seluruh tim artistik mampu menerjemahkan konsep yang telah dirancang. Tata rias, kostum, pencahayaan, tata suara, hingga properti bekerja dalam irama yang sama sehingga mampu memperkuat emosi cerita di atas panggung.
Salah satu adegan yang paling membekas menurut Roy adalah monolog Sigeweard pada pengujung cerita.
“Di situlah letak nyawa cerita, bahwa kata-kata lebih berbahaya daripada pedang. Ada kalimat yang sangat kuat, ‘Berikan pedang pada orang bodoh, ia bisa membunuh satu. Berikan ia kata-kata, ia bisa membunuh ribuan tanpa pernah menyentuh mereka.'”
Adegan tersebut hanya diterangi cahaya merah sederhana. Namun justru dalam kesederhanaan itulah, menurut Roy, kekuatan pesan pementasan muncul secara maksimal.
Proses Produksi Berjalan Lebih Alami
Di balik keberhasilan artistik tersebut, terdapat peran penting Konggres Kusuma Adjie Setiawan atau Wawan, selaku Pimpinan Produksi Kelas A.
Berbeda dengan anggapan bahwa menyatukan banyak divisi merupakan pekerjaan yang rumit, Wawan justru merasakan proses produksi berjalan lebih alami karena seluruh anggota tim memahami tanggung jawab masing-masing.
“Pengalaman melihat mereka bisa bekerja sama itu sudah sangat berharga. Mereka bisa menyatu sendiri dan saya tinggal menyesuaikan saja,” ujarnya.
Baginya, keberhasilan produksi bukan hasil kerja satu atau dua orang, melainkan buah dari gotong royong seluruh tim.
“Semua punya beban yang sama, kita punya porsi masing-masing dan kita saling membantu.”
Wawan mengaku tidak pernah bisa menunjuk satu momen pasti kapan seluruh divisi benar-benar menyatu. Namun, ia merasakan adanya perubahan suasana ketika seluruh anggota mulai saling mendukung tanpa harus diminta.
“Ada satu momen ketika saya merasa semua orang benar-benar ingin memberikan yang terbaik untuk pementasan,” katanya.
Menariknya, berbagai ide kreatif dan solusi selama proses produksi justru lahir dari tempat yang sangat sederhana, yakni lapangan Fakultas Ilmu Budaya tempat mereka rutin berlatih.
“Tempat paling efektif ya saat latihan di lapangan itu. Semua ide dan evaluasi biasanya muncul di sana,” ujarnya.
Sebagai mahasiswa Sastra Inggris, Wawan menilai pengalaman mengelola pementasan menjadi pembelajaran yang jauh melampaui materi kuliah.
Dengan jumlah anggota yang terbatas, seluruh mahasiswa dituntut mampu membagi tenaga, waktu, sekaligus menyelesaikan persoalan secara kolektif.
Tantangan Terbesar dalam Produksi
Menurutnya, tantangan terbesar dalam produksi bukan menghilangkan ego setiap individu, melainkan mengarahkan ego tersebut menuju tujuan yang sama.
“Ego pasti ada di setiap orang. Saya hanya mencoba mengarahkan ego mereka agar tujuannya sama, yaitu menampilkan yang terbaik untuk hari pementasan, bukan untuk kepentingan pribadi.”
Pendekatan tersebut membuat setiap divisi merasa memiliki pertunjukan yang sama. Ego yang semula berpotensi memecah tim justru berubah menjadi energi bersama untuk menghasilkan pementasan terbaik.
Melalui perpaduan visi artistik sutradara dan kepemimpinan produksi yang mengedepankan kolaborasi, Kelas A berhasil menghadirkan pertunjukan yang bukan hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton merenungkan pentingnya menjaga kebenaran di tengah derasnya arus informasi.
Bagi Roy maupun Wawan, pementasan tersebut bukan sekadar tugas akademik, melainkan pembelajaran tentang bagaimana ide, kepemimpinan, dan kerja sama dapat berpadu menjadi karya yang memiliki makna. (Ditya Sri Pramudita)



No Comment! Be the first one.