Penyakitnya Tak Selalu Terlihat, Semangat Penyintas Lupus Justru Bersinar
Lupus adalah penyakit autoimun kronis yang dijuluki the great imitator dan kerap menyamar melalui berbagai gejala yang sulit dikenali.
NUMLIT, SURAKARTA — Banyak orang mengira seseorang yang tampak sehat berarti terbebas dari penyakit. Padahal, bagi para penyintas lupus, perjuangan sering kali berlangsung dalam diam.
Table Of Content
Penyakit autoimun kronis yang dijuluki the great imitator ini kerap menyamar melalui berbagai gejala yang sulit dikenali.
Pesan itulah yang mengemuka dalam peringatan World Lupus Day 2026 yang digelar di Ruang Sekar Jagat, Gedung Radiologi lantai 3 RSUD Dr. Moewardi Surakarta, Minggu (31/5/2026). Mengusung tema “Make It Visible, Make Change Happen”, kegiatan ini mengajak masyarakat untuk lebih mengenal lupus sekaligus memberikan dukungan kepada para penyintas.
Acara yang menjadi puncak peringatan Hari Lupus Sedunia tingkat nasional tersebut terselenggara atas kolaborasi Perhimpunan Reumatologi Indonesia (PP IRA), RSUD Dr. Moewardi, dan Yayasan Tittari.
Mewakili Gubernur Jawa Tengah, Iwanuddin Iskandar membuka kegiatan yang berlangsung di Ruang Sekar Jagad RSUD Dr. Moewardi. Hadir pula Direktur RSUD Dr. Moewardi, Yunita Dyah Suminar, yang memberikan dukungan terhadap upaya peningkatan literasi masyarakat mengenai lupus.
Lupus Sering Datang dengan Gejala yang Menipu
Dalam seminar awam dan pelatihan caregiver bertajuk “Make Lupus Visible”, para dokter spesialis mengingatkan bahwa lupus sering kali terlambat terdiagnosis karena gejalanya menyerupai berbagai penyakit lain.
Mudah lelah, nyeri sendi, ruam kulit, demam berulang, sariawan yang tak kunjung sembuh, rambut rontok hingga gangguan organ tertentu menjadi beberapa tanda yang perlu diwaspadai.
Empat narasumber yang hadir, yakni Dr. dr. Arief Nurudhin, Sp.PD, K-R, FINASIM, Dr. dr. Rudi Hidayat, Sp.PD, K-R, FINASIM, dr. Diah Lintang Kawuryan, Sp.A, Subsp.Al(K), M.Kes, dan Wiwik Setiyawati, S.Kep., Ners, menekankan bahwa deteksi dini dan pengobatan yang tepat memungkinkan penyintas lupus tetap hidup produktif.

Selain pengobatan, dukungan keluarga dan lingkungan sekitar juga menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas hidup pasien.
Penyintas Lupus Tetap Bisa Berkarya
Berbeda dari seminar kesehatan pada umumnya, World Lupus Day 2026 juga menghadirkan berbagai kegiatan kreatif yang melibatkan penyintas dan keluarga.
Mulai dari lomba melukis wajah, fashion show, kreasi busana dari barang bekas dan koran, lomba mewarnai hingga pertunjukan kabaret bertajuk “Tak Terlihat, Tetap Bersinar”.
Kegiatan tersebut menjadi simbol bahwa lupus mungkin tidak selalu tampak secara fisik, tetapi para penyintas tetap memiliki mimpi, potensi, dan kemampuan untuk berkarya.
Suasana hangat dan penuh semangat terlihat ketika para peserta tampil percaya diri di hadapan publik. Mereka tidak hanya berbagi cerita tentang penyakit yang dihadapi, tetapi juga menunjukkan bahwa lupus bukanlah akhir dari produktivitas dan harapan.
Mereka yang Berjuang untuk Penyintas Lupus
Sebagai bentuk penghargaan terhadap dedikasi para pejuang lupus, panitia memberikan apresiasi kepada sejumlah tokoh dan komunitas yang selama ini aktif dalam edukasi, penelitian, pendampingan, serta pelayanan bagi penyintas lupus.

Penghargaan diberikan kepada dokter pendamping, dokter edukator, dokter peneliti, caregiver, hingga komunitas lupus yang dinilai berkontribusi besar dalam meningkatkan kualitas hidup para pasien.
Penghargaan untuk Dokter Pendamping Lupus Terbaik diberikan kepada Dr. dr. Arief Nurudhin, SpPD, K-R, FINASIM; Prof. Dr. dr. Kusworini Handono, MKes, SpPK, SubSp I.K(K), Dokter Edukator Lupus Terbaik dr. Nurhasan Agung Prabowo, Sp.PD., M.Kes, FINASIM, FISqua dan dr. Rachmat Gunadi Wachjudi, SpPD-KR.
Penghargaan untuk Dokter Peneliti Lupus Terbaik diberikan kepada Dr. dr. Laniyati Hamijoyo, SpPD-KR, FINASIM, MKes; Dr. dr. Ayu Paramaiswari, SpPD Sub Sp R (K). Sedangkan Caregiver Terbaik Ns. Elvira Sari Dewi, S.Kep, M.Biomed; Dra. Dian W. Syarief; Sri Ani, A.Md.Keb, serta Komunitas Terbaik yaitu Yayasan Graha Kupu, Griya Yara, dan Yayasan Tittari.
Panitia berharap apresiasi tersebut dapat mendorong semakin banyak pihak untuk terlibat dalam memperkuat layanan kesehatan, penelitian, literasi, serta dukungan psikososial bagi penyintas lupus di Indonesia.
Kepedulian Menjadi Bagian dari Pengobatan
Melalui peringatan World Lupus Day 2026, masyarakat diajak memahami bahwa lupus bukan penyakit menular dan dapat dikendalikan melalui terapi yang tepat serta pemantauan berkelanjutan.
Lebih dari itu, para penyintas membutuhkan lingkungan yang memahami kondisi mereka, bukan sekadar rasa iba. Sebab, di balik perjuangan menghadapi penyakit kronis, mereka tetap memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, bekerja, berkarya, dan menjalani kehidupan secara bermakna.
Peringatan Hari Lupus Sedunia tahun ini menjadi pengingat bahwa kepedulian, dukungan, dan pemahaman masyarakat merupakan bagian penting dalam membantu para penyintas tetap kuat menghadapi perjalanan panjang mereka.
Karena bagi para pejuang lupus, yang paling dibutuhkan bukan hanya pengobatan, melainkan keyakinan bahwa mereka tidak sedang berjuang sendirian. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.