Profesor Australia Buka Wawasan Mahasiswa UNS tentang Riset Sosial dan Kolaborasi Global
Kegiatan Visiting Professor dapat memberikan pengalaman akademik internasional yang bermakna bagi dosen dan mahasiswa di UNS.
NUMLIT, SURAKARTA — Ruang-ruang akademik di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta terasa lebih hidup selama beberapa hari terakhir.
Kehadiran akademisi internasional dari Australia, Prof. Minako Sakai, tidak hanya membawa pengalaman riset global, tetapi juga membuka cakrawala baru bagi mahasiswa dan dosen tentang pentingnya kolaborasi lintas negara di bidang ilmu sosial.
Melalui program Visiting Professor Equity UNS–LPDP 2025 yang berlangsung pada 20–24 Mei 2026, FISIP UNS menghadirkan Prof. Minako Sakai dari School of Humanities & Social Sciences, The University of New South Wales (UNSW), Australia.

Program tersebut menjadi bagian dari langkah UNS memperkuat atmosfer akademik internasional sekaligus memperluas jejaring riset global.
Dekan FISIP UNS, Dr. Didik Gunawan Suharto, mengatakan kolaborasi internasional kini menjadi kebutuhan penting bagi perguruan tinggi untuk menghadapi tantangan sosial yang semakin kompleks.
“Kolaborasi internasional seperti ini sangat penting untuk membuka ruang pertukaran pengetahuan, pengalaman riset, dan pengembangan jejaring akademik global,” ujarnya.
Dalam pembukaan kegiatan, Dr. Didik juga menyematkan kartu Friends of UNS kepada Prof. Minako Sakai sebagai simbol persahabatan sekaligus komitmen mempererat hubungan akademik antara UNS dan UNSW di masa mendatang.
Selama berada di UNS, Prof. Minako Sakai menyampaikan kuliah umum bertajuk Social Enterprise as Community Infrastructure: Institutional and Cultural Enablers in Japan, Indonesia, and the Asia-Pacific Region.
Melalui materi tersebut, ia mengajak peserta melihat bagaimana social enterprise atau kewirausahaan sosial dapat menjadi kekuatan penting dalam membangun ketahanan masyarakat, terutama di tengah perubahan sosial dan ekonomi global.
Ia membandingkan pendekatan yang berkembang di Jepang, Indonesia, hingga kawasan Asia Pasifik, termasuk bagaimana budaya dan kelembagaan dapat memperkuat keberlanjutan komunitas.
Kuliah umum itu diikuti mahasiswa, dosen, hingga peneliti dari berbagai jenjang dan program studi di lingkungan UNS.
Tak hanya berbagi pengalaman riset internasional, Prof. Minako juga memberikan sesi khusus bagi mahasiswa Magister Sosiologi FISIP UNS.
Pada sesi pertama, ia membahas pendekatan penelitian kualitatif dan interdisipliner dalam studi sosial kontemporer. Sementara sesi kedua fokus pada strategi menulis dan mempublikasikan artikel kolaboratif di jurnal internasional bereputasi.
Bagi mahasiswa, sesi tersebut menjadi kesempatan langka untuk belajar langsung dari akademisi internasional yang aktif melakukan penelitian lintas negara di kawasan Asia Pasifik.

Ketua Program Studi Magister Sosiologi FISIP UNS sekaligus Ketua Pelaksana Program, Dr. Yuyun Sunesti, menilai kehadiran Prof. Minako Sakai memberi pengalaman akademik yang tidak hanya teoritis, tetapi juga praktis dan relevan dengan kebutuhan dunia riset saat ini.
“Kami berharap kegiatan Visiting Professor ini dapat memberikan pengalaman akademik internasional yang bermakna bagi dosen dan mahasiswa di UNS,” katanya.
Menurut Yuyun, materi yang disampaikan sangat membantu mahasiswa dalam memahami pengembangan metodologi penelitian, pendekatan interdisipliner, hingga strategi membangun publikasi internasional bersama.
Lebih dari sekadar kuliah tamu, kunjungan tersebut juga membuka peluang kerja sama akademik yang lebih luas antara UNS dan UNSW.
Selama berada di Surakarta, Prof. Minako Sakai turut berdiskusi dengan sejumlah dosen lintas disiplin mengenai peluang joint research, publikasi internasional bersama, hingga pengembangan jejaring akademik jangka panjang.
“Kami berharap komunikasi dan kolaborasi ini dapat terus berlanjut dalam bentuk riset bersama maupun pertukaran akademik lainnya,” ungkap Dr. Yuyun.
Program Visiting Professor ini sekaligus menegaskan komitmen FISIP UNS untuk terus membangun ekosistem pendidikan tinggi yang kolaboratif, terbuka, dan berorientasi global.
Di tengah dunia akademik yang semakin terkoneksi, kehadiran akademisi internasional seperti Prof. Minako Sakai bukan hanya menghadirkan ilmu pengetahuan baru, tetapi juga menumbuhkan semangat bahwa riset dan gagasan dari kampus di Indonesia mampu terhubung dengan percakapan global. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.