60 Tahun UIN Sunan Kudus: Dari Tradisi Sunan Kudus Menuju Kampus Islam Berkelas Dunia
Perjalanan 60 tahun ini bukan sekadar perjalanan perubahan nama lembaga, tetapi merupakan perjalanan membangun tradisi akademik, memperkuat nilai-nilai keislaman, dan meningkatkan kualitas pendidikan.
NUMLIT, KUDUS – Enam dekade perjalanan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus bukan sekadar catatan tentang perubahan nama dan status kelembagaan.
Table Of Content
Di balik perjalanan sejak 1966, kampus Islam di Pantura Jawa Tengah ini sedang membangun pijakan baru yaitu membawa tradisi keislaman yang diwariskan Sunan Kudus ke dalam ruang akademik yang semakin terbuka dan kosmopolitan.
Semangat itulah yang menjadi ruh peringatan Dies Natalis ke-60 UIN Sunan Kudus tahun ini. Mengusung tema “Spirit Sunan Kudus dan Islam Kosmopolitan untuk Peradaban Masa Depan”, rangkaian Dies Natalis dirancang bukan sekadar sebagai seremoni ulang tahun institusi, tetapi sebagai momentum refleksi sekaligus penegasan arah perjalanan kampus di masa mendatang.
Rektor UIN Sunan Kudus, Prof. Dr. H. Abdurrohman Kasdi, Lc., M.Si., mengatakan usia 60 tahun menjadi momentum penting bagi kampus untuk melihat kembali perjalanan panjang yang telah dilalui sekaligus menentukan langkah ke depan.

“Perjalanan 60 tahun ini bukan sekadar perjalanan perubahan nama lembaga, tetapi merupakan perjalanan membangun tradisi akademik, memperkuat nilai-nilai keislaman, dan meningkatkan kualitas pendidikan. Transformasi menjadi UIN semakin memperluas ruang pengembangan keilmuan agar mampu menjawab tantangan zaman,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UIN Sunan Kudus.
Enam Dekade dan Sebuah Transformasi Besar
Perjalanan UIN Sunan Kudus bermula dari Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di Kudus pada 1966. Seiring perkembangan, institusi tersebut berkembang dengan berdirinya Fakultas Ushuluddin, kemudian menjadi bagian dari IAIN Walisongo Semarang.
Babak baru dimulai ketika lembaga tersebut berubah menjadi STAIN Kudus pada 1997, kemudian berkembang menjadi IAIN Kudus. Transformasi paling mutakhir terjadi pada 2025 ketika IAIN Kudus resmi beralih status menjadi UIN Sunan Kudus melalui Peraturan Presiden Nomor 53 Tahun 2025.
Perubahan status tersebut membawa konsekuensi sekaligus peluang baru. Sebagai universitas, ruang pengembangan keilmuan menjadi semakin luas, tidak hanya pada bidang keislaman, tetapi juga disiplin ilmu lain yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.
Saat ini UIN Sunan Kudus memiliki 28 program studi sarjana, enam program magister, dan tiga program doktor.
Abdurrohman mengatakan, transformasi tersebut menjadi bagian dari ikhtiar untuk membawa UIN Sunan Kudus menjadi pusat unggulan pendidikan Islam yang inovatif, adaptif, dan responsif.
Targetnya tidak berhenti di kawasan Pantura Jawa Tengah. UIN Sunan Kudus ingin memperluas pengaruh akademiknya hingga tingkat Asia Tenggara bahkan dunia.
Spirit Sunan Kudus untuk Menjawab Zaman
Tema Dies Natalis ke-60 juga memperlihatkan upaya UIN Sunan Kudus untuk menghubungkan identitas lokal dengan tantangan global.
Spirit Sunan Kudus menjadi fondasi nilai, sementara gagasan Islam kosmopolitan menjadi perspektif untuk membaca masa depan.
Dengan pendekatan tersebut, peringatan Dies Natalis diarahkan untuk meneguhkan identitas kampus yang tetap berakar pada sejarah dan tradisi keislaman Kudus, tetapi pada saat yang sama terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan dinamika masyarakat global.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan sekaligus Ketua Panitia Dies Natalis ke-60, Dr. Hj. Siti Malaiha Dewi, S.Sos., M.Si., CIQaR, mengatakan rangkaian kegiatan telah dimulai sejak Juni 2026.
Sejumlah agenda telah digelar, mulai dari pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. H. Kisbiyanto, S.Ag., M.Pd., Muktamar Ilmu Pengetahuan, santunan anak yatim piatu, hingga Media Gathering 2026.
Rangkaian kegiatan tersebut kemudian berlanjut dengan berbagai agenda akademik, sosial, keagamaan, dan kemahasiswaan.
Ziarah Sunan Kudus hingga Pengukuhan Dua Guru Besar
Memasuki Agustus, rangkaian Dies Natalis semakin padat. Pada 4 Agustus digelar Senam Bahagia Bersama dan Seminar Nasional oleh DEMA UIN Sunan Kudus dengan menghadirkan Wamen HAM RI, Wakil Gubernur Jawa Tengah, dan Bupati Kudus.
Sehari berikutnya, 5 Agustus, sivitas akademika akan mengikuti ziarah Sunan Kudus dan Khotmil Al-Qur’an. Agenda ini menjadi simbol penting karena peringatan enam dekade institusi kembali dihubungkan dengan tokoh yang menjadi sumber inspirasi dan identitas kampus.

Berbagai lomba mahasiswa juga berlangsung sepanjang Agustus sebagai bagian dari upaya membangun semangat kebersamaan dan kreativitas mahasiswa.
Puncak Dies Natalis akan digelar pada 10 Agustus 2026 melalui Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-60.
Momentum tersebut sekaligus akan menjadi panggung akademik penting dengan pengukuhan dua guru besar, yakni Prof. Dr. Adri Efferi, M.Ag. dan Prof. Dr. Ma’mun Mu’min, M.Ag., M.Si., M.Hum.
Selain itu, UIN Sunan Kudus akan meluncurkan buku bunga rampai bertema Spirit Sunan Kudus dan Islam Kosmopolitan untuk Peradaban Masa Depan, sekaligus menyerahkan hadiah kepada para pemenang berbagai lomba mahasiswa.
Bukan Sekadar Merayakan Usia
Bagi UIN Sunan Kudus, usia 60 tahun bukan garis akhir. Justru, transformasi menjadi universitas membuka babak baru yang menuntut institusi semakin kuat secara akademik, semakin luas jejaringnya, dan semakin nyata kontribusinya bagi masyarakat.
Karena itu, Siti Malaiha berharap seluruh rangkaian Dies Natalis tidak berhenti sebagai perayaan ulang tahun institusi.
“Seluruh rangkaian kegiatan tidak hanya menjadi seremoni peringatan hari lahir institusi, tetapi juga menjadi sarana memperkuat kolaborasi, meningkatkan kualitas akademik, mempererat kebersamaan sivitas akademika, serta meneguhkan komitmen UIN Sunan Kudus sebagai perguruan tinggi Islam yang terus memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa dan peradaban dunia,” jelasnya.
Enam puluh tahun setelah embrio kampus ini tumbuh di Kudus, tantangannya kini memang berbeda. Dunia akademik bergerak semakin cepat, teknologi mengubah cara manusia belajar dan bekerja, sementara persoalan sosial semakin kompleks dan lintas batas.
Di tengah perubahan itu, UIN Sunan Kudus memilih untuk tidak meninggalkan akar sejarahnya. Spirit Sunan Kudus menjadi pijakan, Islam kosmopolitan menjadi jembatan, dan peradaban masa depan menjadi arah yang hendak dituju.



No Comment! Be the first one.