Workshop AI Blueprint 2026 for Everyone di The Park Mall Solo Baru Kupas Strategi Cerdas Manfaatkan AI
AI itu diciptakan untuk orang-orang malas, tapi malas untuk kerja keras jadi kita bisa kerja cerdas.
NUMLIT, SURAKARTA — Workshop bertajuk “AI Blueprint 2026 for Everyone” menjadi salah satu sesi yang menyita perhatian dalam rangkaian Edutech AI Expo 2026 di Atrium The Park Mall Solo Baru, Sabtu (2/5/2026) malam.
Malam itu, Freddie Kashawan, praktisi bisnis berbasis AI, Founder AI Preneur, sekaligus CEO Raveloux & Rave Tailor, tampil memukau dengan wawasan dan pengalaman panjangnya menggeluti AI untuk mendukung lini bisnisnya.
Dalam pemaparannya, Freddie mengungkapkan dampak nyata penggunaan AI dalam bisnisnya. Ia menyebut bahwa setelah mengadopsi teknologi AI, jumlah timnya berkurang dari 120 menjadi 80 orang.
“AI itu diciptakan untuk orang-orang malas, tapi malas untuk kerja keras jadi kita bisa kerja cerdas,” ujarnya.
Workshop ini dibagi dalam beberapa bagian utama. Pada chapter 1, Freddie membahas pengenalan AI, mulai dari machine learning hingga AI generatif. Selanjutnya pada chapter 2, ia menekankan pentingnya pola pikir dalam menggunakan AI.
“Hal pertama sebelum pakai AI itu training. Treat AI seperti manusia,” jelasnya.
Ia juga mengungkap beberapa kesalahan umum dalam penggunaan AI, seperti memberikan prompt yang terlalu abstrak, tidak memahami alur kerja sendiri, tidak menjelaskan identitas pengguna, serta tergoda memilih model AI murah tanpa pertimbangan kualitas.
Freddie menekankan bahwa penggunaan AI harus berbasis pemahaman yang jelas. Ia merumuskan tiga langkah utama, yakni menjelaskan tujuan, memecah masalah menjadi bagian kecil, serta memberikan konteks dan batasan yang jelas kepada AI.
Pada chapter 3, Freddie menjelaskan konsep dasar Large Language Model (LLM). Ia menyebut bahwa AI pada dasarnya bekerja sebagai sistem “tebak kata” dengan lebih dari satu triliun parameter, sementara otak manusia memiliki sekitar sepuluh triliun parameter.
Adapun pada chapter 4, peserta diajak memahami teknik prompting melalui pendekatan framework T-C-R-E-I (Task, Context, Reference, Evaluate, Iterate). Freddie menegaskan bahwa konteks menjadi kunci utama dalam menghasilkan output AI yang akurat.
“Semakin detail konteks yang diberikan, semakin paham AI-nya,” tegasnya.
Dalam sesi tanya jawab, peserta turut menyoroti berbagai isu, mulai dari hak cipta hingga strategi bisnis berbasis AI. Freddie menjelaskan bahwa penggunaan AI relatif aman selama tidak digunakan untuk penipuan, meskipun data latihnya berasal dari berbagai sumber.
Menanggapi pertanyaan terkait pengembangan jasa AI untuk UMKM, ia menyarankan pentingnya membangun portofolio dan menyasar sektor bisnis yang masih memiliki celah digital, seperti perusahaan yang belum memiliki website.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya personal branding melalui konten.
“Pahami content funnel, mulai dari top funnel tahap awareness. Ikuti tren, bukan untuk mengejar views, tapi untuk menarik rasa penasaran terhadap produk,” jelasnya.
Terkait kendala akun media sosial yang terkena pembatasan akibat konten AI, Freddie menyebut hal tersebut biasanya terjadi karena pelanggaran aturan atau adanya unsur misinformasi.
Ia juga menyoroti bahwa dalam praktiknya, penggunaan AI tetap memerlukan peran manusia, human in the loop, untuk memastikan hasil yang optimal. Dalam dunia bisnis, menurutnya, pemanfaatan AI bahkan telah mencapai sekitar 80 persen pada aspek pemasaran.
Menutup sesi, Freddie mengingatkan pentingnya literasi teknologi bagi masyarakat Indonesia.
“Kalau tidak terus belajar edukasi, Indonesia hanya akan menjadi market bagi negara lain,” pungkasnya.
Workshop ini memberikan wawasan praktis bagi peserta dalam memanfaatkan AI secara strategis. Sekaligus menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat yang perlu diimbangi dengan pemahaman dan kreativitas manusia. (Alfarisa Khusni F. R.)



No Comment! Be the first one.