Parade Dongeng Hidupkan Nilai Emosional Anak di Edutech AI Expo 2026
Dongeng bisa menjadi pemicu hal-hal baik bagi anak-anak. Mereka butuh disentuh hatinya melalui pendekatan storytelling.
NUMLIT, SURAKARTA — Suasana hangat dan penuh imajinasi terasa dalam Parade Dongeng yang digelar dalam rangkaian Edutech AI Expo 2026 di Atrium The Park Mall Solobaru, Jumat (1/5/2026).
Istana Dongeng Nusantara menyajikan beragam pertunjukan dongeng yang menghibur sekaligus edukatif.
Dalam sesi tersebut, sejumlah narasumber turut berbagi pengalaman dan pandangan seputar dunia dongeng, di antaranya Kak Nasyir, Kak Pandan, dan Kak Siju.
Mereka menampilkan berbagai gaya mendongeng, mulai dari penggunaan alat musik seperti ukulele hingga boneka tangan sebagai media bercerita.
Kak Siju, alumnus kuliah dongeng Istana Dongeng Indonesia angkatan ke-5 tahun 2012, menjelaskan bahwa proses belajar mendongeng tidaklah sederhana.
Dalam pelatihannya, peserta dibekali berbagai keterampilan seperti olah suara, pantomim, teknik membuka hingga menutup cerita. Ia memilih menggunakan boneka tangan sebagai media karena dapat dibuat sendiri dari bahan sederhana seperti kaus kaki.

Sementara itu, Kak Nasyir menyampaikan bahwa siapa pun bisa menjadi pendongeng.“Mendongeng bisa dilakukan di mana pun dan oleh siapa pun,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa dongeng memiliki manfaat besar dalam membangun kedekatan emosional antara anak dengan orang tua maupun guru.
“Dongeng itu bisa menjadi pemicu hal-hal baik bagi anak-anak. Mereka butuh disentuh hatinya melalui pendekatan storytelling,” tambahnya.
Parade dongeng ini menghadirkan 11 pendongeng, yakni Kak Lucky, Kak Nasyir, Kak Aris, Kak Siju, Kak Lail, Kak Utsman, Kak Pandan, Kak Soni, Kak Wahyu, Kak Pandu, dan Kak Yasir.
Mereka tampil secara estafet membawakan kisah tentang Toki, seorang anak yang berusaha melawan rasa takutnya untuk menjadi pribadi yang berani.
Dalam wawancara, Kak Nasyir juga menyoroti perkembangan teknologi sebagai tantangan sekaligus peluang bagi pendongeng. Menurutnya, di tengah maraknya penggunaan gawai oleh anak-anak, pendongeng dituntut untuk terus berinovasi agar tetap relevan.
“Kalau tidak bisa meramu cerita sesuai dengan kesukaan anak, maka tidak akan didengar. Ini tantangan untuk terus meng-upgrade dan meng-update diri,” jelasnya.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), seharusnya menjadi alat pendukung, bukan pesaing. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk mencari ide, literasi, hingga membangun personal branding.
Istana Dongeng Nusantara sendiri memiliki berbagai program, seperti kuliah dongeng berupa workshop pelatihan, safari dongeng melalui kegiatan roadshow, hingga produk dongeng sebagai karya dan jejak kreatif para pendongeng.
Dengan mengusung tagline “siapapun bisa mendongeng”, komunitas ini menjadi wadah bagi siapa saja yang memiliki passion di dunia storytelling.
Di akhir wawancara, Kak Nasyir menyampaikan pesan mendalam terkait pentingnya menjaga hubungan emosional di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
“Kemajuan teknologi tidak bisa dihindari, tapi jangan sampai membuat hubungan emosional menjadi renggang. Dongeng adalah cara termudah merawat emosional, karena ia menasihati tanpa menyakiti dan mendidik tanpa menggurui,” ungkapnya.
Parade Dongeng ini menjadi pengingat bahwa di tengah era digital dan kecanggihan AI, sentuhan humanis melalui cerita tetap memiliki peran penting dalam tumbuh kembang anak. (Alfarisa Khusni F. R.)



No Comment! Be the first one.