Harapan Dunia Jurnalistik itu Masih Ada, dan Datangnya dari Pelajar Surakarta
Para peserta harus menyusun perencanaan liputan, melakukan observasi, wawancara, hingga menulis berita feature dalam waktu terbatas.
NUMLIT, SURAKARTA — Di tengah derasnya arus digitalisasi dan munculnya anggapan bahwa dunia media mulai kehilangan masa depan, secercah harapan justru terlihat dari tangan-tangan para pelajar di Kota Surakarta.
Hal itu dirasakan praktisi media sekaligus akademisi, Haryono Wahyudianto, saat menjadi juri lomba jurnalistik dalam ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional 2026 (FLS3N) tingkat SMA/MA/SMK Kota Surakarta yang digelar di SMKN 9 Surakarta, Rabu (6/5/2026).
Bersama Langgeng Widodo, Pemimpin Redaksi iNewsMuria, Haryono mengaku terkesan dengan kualitas karya feature yang ditulis para peserta.
“Peserta tidak sekadar menulis fakta, tetapi mampu menghadirkan rasa, menangkap suasana, dan membangun cerita dengan pendekatan storytelling, human interest, hingga sentuhan jurnalisme sastrawi,” ujarnya, saat diwawancarai seusai acara.
Tema yang diangkat tahun ini, “Seni Memperkuat Karakter”, mendorong para peserta turun langsung melakukan peliputan di lingkungan SMKN 9 Surakarta. Mereka mengeksplorasi berbagai bidang seni seperti membatik, kriya logam, hingga seni lukis dengan sudut pandang yang dinilai matang dan empatik.
Menariknya, berbeda dari tahun sebelumnya, seluruh karya tahun ini dibuat langsung di lokasi lomba. Para peserta harus menyusun perencanaan liputan, melakukan observasi, wawancara, hingga menulis berita feature dalam waktu terbatas.
Menurut Haryono, sistem tersebut justru membuat kualitas tulisan lebih hidup dan autentik.
“Tahun lalu peserta membawa karya dari rumah. Sekarang mereka benar-benar liputan di tempat, dan hasilnya justru lebih bagus. Persaingannya juga sangat ketat karena nilai antar peserta hanya terpaut tipis,” katanya.
Dari total 26 peserta yang terdaftar, sebanyak 24 pelajar hadir mengikuti kompetisi. Dewan juri pun mengaku cukup kesulitan menentukan lima besar terbaik karena kualitas karya berada di luar ekspektasi.
Lima peserta yang berhasil masuk jajaran terbaik yakni Nanda Syahra Saputri dari MAN 1 Surakarta, Athaya Alzena Zahra dari SMKN 4 Surakarta, Mikaela Cahaya dari SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta, Kidung Razitadahlie dari SMAN 1 Surakarta, dan Azzam Musyaffa dari SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta.

Dari hasil seleksi tersebut, nantinya hanya juara pertama yang berhak mewakili Kota Surakarta ke tingkat Provinsi Jawa Tengah.
“Juara I yaitu Nanda Syahra Saputri dari MAN 1 Surakarta selanjutnya akan mewakili Kota Surakarta ke provinsi. Tulisannya bagus. Dia mengambil judul Asing di Rumah Sendiri: Menjemput Karakter yang Tercecer di Ruang Kriya Batik,” kata dia.
Haryono menilai antusiasme generasi muda dalam belajar jurnalistik secara langsung di lapangan menjadi sinyal positif bagi masa depan literasi dan media.
“Sebagai mantan wartawan, saya melihat ini sebagai pertanda bahwa dunia jurnalistik masih punya harapan. Anak-anak muda ternyata masih tertarik belajar menulis secara serius dan turun langsung mencari cerita,” ujarnya.
Ia juga memberikan apresiasi kepada panitia dan pendamping kegiatan, termasuk guru SMKN 9 Surakarta Ary Yulistiana, yang dinilai berhasil menghadirkan ruang kreatif sekaligus edukatif bagi para pelajar.
Di tengah dominasi konten instan media sosial, kompetisi seperti ini menjadi pengingat bahwa kemampuan bercerita, kepekaan sosial, dan kedalaman sudut pandang tetap menjadi nilai penting dalam dunia jurnalistik. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.