500 Guru Wonogiri Dibekali Cara Cegah Kekerasan di Sekolah
Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian nilai siswa, tetapi juga dari kemampuan sekolah menciptakan iklim yang bebas dari kekerasan, diskriminasi, maupun perundungan.
NUMLIT, WONOGIRI – Mewujudkan sekolah yang aman kini tidak cukup hanya dengan menyediakan ruang kelas yang nyaman. Guru juga dituntut mampu menjadi pelindung sekaligus pendamping bagi peserta didik.
Berangkat dari semangat itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, membekali 500 tenaga pendidik dengan pemahaman tentang perlindungan anak dan pencegahan kekerasan di lingkungan sekolah.
Pembinaan bertajuk “Membangun Lingkungan Belajar yang Aman dan Berpihak pada Anak” tersebut digelar di Gedung PGRI Kabupaten Wonogiri, Rabu (24/6/2026).
Pesertanya terdiri atas 250 guru sekolah dasar (SD) serta 250 guru dan kepala sekolah jenjang sekolah menengah pertama (SMP) dari berbagai wilayah di Kabupaten Wonogiri.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri, Sriyanto, mengatakan tantangan dunia pendidikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kualitas akademik, tetapi juga bagaimana sekolah mampu menjadi tempat yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak.
Menurutnya, guru perlu memiliki perspektif baru dalam menjalankan profesinya.
“Guru harus memahami hakikatnya sebagai pelayan bagi siswa. Pendidikan tidak hanya berfokus pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga bertanggung jawab menghadirkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan optimal anak,” ujarnya saat membuka kegiatan.
Sriyanto menegaskan keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian nilai siswa, tetapi juga dari kemampuan sekolah menciptakan iklim yang bebas dari kekerasan, diskriminasi, maupun perundungan.
Sementara itu, Kepala Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) Disdikbud Wonogiri, Parman, menjelaskan pembinaan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas guru dalam mengenali, mencegah, hingga menangani berbagai persoalan yang berkaitan dengan perlindungan anak.
“Kami ingin seluruh tenaga pendidik memiliki pemahaman yang sama bahwa sekolah harus menjadi ruang yang benar-benar berpihak kepada anak,” katanya, dikutip dari laman resmi Pemkab Wonogiri.
Untuk memberikan perspektif yang lebih komprehensif, Disdikbud menggandeng sejumlah instansi dalam kegiatan tersebut.
Narasumber berasal dari Polres Wonogiri, Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Wonogiri, serta Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPKBP3A) Kabupaten Wonogiri.
Berbagai materi yang disampaikan meliputi pencegahan kekerasan seksual terhadap anak, perlindungan anak di lingkungan pendidikan, disiplin aparatur sipil negara, penanganan kasus pelecehan dan kekerasan di tempat kerja, hingga konsekuensi hukum bagi pelaku kekerasan.
Melalui kolaborasi lintas instansi tersebut, para guru diharapkan tidak hanya memahami aspek akademik dalam proses pembelajaran, tetapi juga mampu menjadi garda terdepan dalam menciptakan sekolah yang ramah anak.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri berharap pembinaan ini menjadi langkah nyata membangun budaya sekolah yang lebih inklusif, aman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
Dengan lingkungan belajar yang sehat, peserta didik diharapkan dapat berkembang secara optimal, baik dari sisi akademik maupun karakter. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.