Bukan Sekadar Akreditasi, Wonogiri Ingin Perpustakaan Sekolah Dicintai
Wonogiri berhasil masuk 10 besar kabupaten/kota dengan jumlah perpustakaan terakreditasi terbanyak di Jawa Tengah.
NUMLIT, WONOGIRI — Bagi banyak sekolah, akreditasi perpustakaan kerap dipandang sebagai urusan administrasi. Namun Pemerintah Kabupaten Wonogiri ingin mengubah cara pandang tersebut.
Melalui Sosialisasi dan Advokasi Akreditasi Perpustakaan Tahun 2026, Pemkab menegaskan bahwa akreditasi seharusnya menjadi pintu masuk untuk membangun budaya pelayanan perpustakaan yang lebih berkualitas dan mampu menumbuhkan minat baca peserta didik.
Komitmen itu diwujudkan melalui kegiatan yang diselenggarakan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Wonogiri di Aula Gedung B Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Senin (29/6/2026).
Sebanyak 130 peserta yang terdiri atas kepala sekolah dan pengelola perpustakaan dari 65 SMP mengikuti kegiatan yang didukung Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik Bidang Perpustakaan Tahun 2026 dari Perpustakaan Nasional RI tersebut.
Melalui kegiatan ini, para peserta dibekali pemahaman mengenai Standar Nasional Perpustakaan (SNP), mekanisme akreditasi, hingga strategi meningkatkan mutu layanan perpustakaan agar benar-benar menjadi ruang belajar yang nyaman, relevan, dan dibutuhkan siswa.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Wonogiri, Mawan Tri Hananto, mengatakan upaya meningkatkan kualitas perpustakaan mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan.
Saat ini Wonogiri berhasil masuk 10 besar kabupaten/kota dengan jumlah perpustakaan terakreditasi terbanyak di Jawa Tengah.
“Saat ini Kabupaten Wonogiri berada di peringkat ke-8 di Jawa Tengah dengan 29 perpustakaan terakreditasi. Kami berharap capaian ini menjadi motivasi bagi perpustakaan lainnya untuk segera mempersiapkan diri memenuhi Standar Nasional Perpustakaan sehingga kualitas layanan kepada masyarakat, khususnya peserta didik, semakin meningkat,” ujarnya.
Menurut Mawan, akreditasi bukan sekadar memperoleh sertifikat, melainkan proses membangun tata kelola perpustakaan yang profesional sehingga mampu mendukung kualitas pendidikan di sekolah.
Dimulai dari Mengapa
Kegiatan dibuka Sekretaris Daerah Kabupaten Wonogiri, F.X. Pranata, yang mengajak seluruh peserta melihat perpustakaan dari sudut pandang berbeda.
Ia mengutip konsep The Golden Circle dalam buku Start with Why karya Simon Sinek sebagai landasan membangun organisasi yang berdampak.
Menurutnya, setiap perpustakaan perlu terlebih dahulu memahami alasan mendasar keberadaannya (why), sebelum berbicara mengenai strategi (how) maupun program layanan (what).
“Lapisan pertama adalah why, yaitu alasan mengapa organisasi hadir dan memberi manfaat bagi masyarakat. Setelah itu baru how, yakni strategi dan nilai yang dijalankan, kemudian what, yaitu layanan nyata yang diberikan,” jelas Pranata.
Ia berharap filosofi tersebut mampu mengubah orientasi pengelolaan perpustakaan sekolah.
“Jangan sampai akreditasi hanya menjadi target administratif. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana perpustakaan benar-benar memberikan manfaat bagi siswa melalui pelayanan yang berkualitas,” katanya.
Perpustakaan Harus Bertransformasi
Dalam sesi utama, dua Asesor Akreditasi Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, Tri Widiyanti dan Tunardi, membimbing peserta memahami berbagai aspek penting dalam proses akreditasi.
Materi yang disampaikan meliputi kebijakan akreditasi perpustakaan, penerapan Standar Nasional Perpustakaan, penyusunan dokumen pendukung, instrumen penilaian, hingga tahapan teknis pengajuan akreditasi.

Tidak hanya menerima materi, para kepala sekolah dan pengelola perpustakaan juga memanfaatkan forum diskusi untuk berkonsultasi mengenai berbagai tantangan yang mereka hadapi dalam mengembangkan perpustakaan di sekolah masing-masing.
Melalui pendampingan tersebut, diharapkan semakin banyak perpustakaan sekolah di Wonogiri yang siap mengikuti akreditasi sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaan dan pelayanan kepada siswa.
Bagi Pemerintah Kabupaten Wonogiri, perpustakaan bukan lagi sekadar tempat menyimpan buku.
Lebih dari itu, perpustakaan diharapkan menjadi ruang belajar yang hidup, mampu membangun budaya literasi, memperkuat karakter peserta didik, sekaligus menjadi salah satu fondasi penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan di daerah. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.