Mahasiswa ATMI Rancang Desain Engineering untuk Industri Jepang
Melalui skema Teaching Factory, mahasiswa mendapat pengalaman mengerjakan proyek nyata dari industri, termasuk memenuhi kebutuhan desain engineering perusahaan manufaktur asal Jepang, PT Hirano.
NUMLIT, SURAKARTA — Ruang kelas di Politeknik ATMI Surakarta kini tak lagi hanya menjadi tempat belajar teori.
Melalui skema Teaching Factory, mahasiswa mendapat pengalaman mengerjakan proyek nyata dari industri, termasuk memenuhi kebutuhan desain engineering perusahaan manufaktur asal Jepang, PT Hirano.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari kerja sama strategis antara Politeknik ATMI Surakarta dan PT Hirano pada Senin (9/6/2026), yang berfokus pada penguatan kompetensi mahasiswa melalui proyek riil di bidang desain engineering untuk industri manufaktur.
Dalam kerja sama ini, mahasiswa ATMI tidak sekadar mengerjakan tugas perkuliahan, melainkan menyusun desain engineering berdasarkan kebutuhan dan spesifikasi yang diajukan oleh PT Hirano Japan.
Proses tersebut didampingi oleh dosen dan disesuaikan dengan standar yang digunakan di dunia industri.
Wakil Direktur Bidang Kerja Sama dan Pusat Karir Politeknik ATMI Surakarta, Ir. FX. Suryadi, Dipl.Ing.FH., M.T., mengatakan kolaborasi tersebut merupakan implementasi nyata konsep Teaching Factory yang selama ini dikembangkan ATMI.
“Mahasiswa mendapatkan pengalaman mengerjakan proyek yang benar-benar berasal dari kebutuhan industri. Mereka belajar memahami permintaan klien, menerjemahkannya ke dalam desain engineering, hingga menghasilkan karya yang sesuai dengan standar industri. Inilah nilai utama dari Teaching Factory, yaitu menghadirkan suasana industri ke dalam proses pembelajaran,” ujarnya, baru-baru ini.
Menurut FX Suryadi, model pembelajaran tersebut memberikan pengalaman yang jauh lebih komprehensif dibandingkan praktik konvensional.
Mahasiswa tidak hanya mengasah kemampuan teknis dalam membuat desain, tetapi juga belajar mengenai ketelitian, ketepatan spesifikasi, komunikasi dengan industri, serta penyelesaian pekerjaan sesuai target yang ditetapkan.
Ia menjelaskan, kerja sama dengan PT Hirano menjadi salah satu bentuk sinergi antara dunia pendidikan vokasi dan industri internasional dalam menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan pasar kerja global.
Melalui proyek desain engineering tersebut, mahasiswa dapat memahami bagaimana sebuah kebutuhan produksi di industri diterjemahkan menjadi gambar teknik yang presisi sebagai dasar proses manufaktur.
“Kolaborasi seperti ini sangat penting karena mahasiswa memperoleh pengalaman yang relevan dengan dunia kerja. Mereka tidak hanya menghasilkan tugas akademik, tetapi juga mengerjakan pekerjaan yang memiliki nilai dan manfaat bagi industri,” kata FX Suryadi.
Bagi Politeknik ATMI Surakarta, kerja sama ini sekaligus memperkuat implementasi Teaching Factory sebagai pendekatan pembelajaran berbasis produksi. Kampus berperan layaknya unit industri yang menerima job order, kemudian melibatkan mahasiswa dalam proses penyelesaiannya sebagai bagian dari pembelajaran.
Suryadi berharap kemitraan dengan PT Hirano dapat terus berkembang dan membuka peluang kolaborasi lain, baik di bidang desain engineering maupun pengembangan teknologi manufaktur.
“Melalui kerja sama dengan industri, mahasiswa akan semakin siap menghadapi tantangan dunia kerja karena sejak di bangku kuliah mereka telah terbiasa menyelesaikan proyek nyata dengan standar profesional,” pungkasnya. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.