Hadirkan Pembedah Lintas Generasi, FLP Karanganyar Kupas Makna Buku Pesan-Pesan dari Langit
Bedah buku merupakan bagian dari Festival Panggung Literasi FLP Karanganyar,yang bertujuan mengapresiasi karya para anggotanya sekaligus memperluas budaya membaca dan menulis di tengah masyarakat.
NUMLIT, KARANGANYAR — Sebuah kecelakaan mobil yang pernah meninggalkan trauma mendalam justru menjadi titik balik bagi Agus Yulianto untuk melahirkan karya yang menguatkan banyak orang.
Table Of Content
Pengalaman itu ia tuangkan dalam buku “Pesan-Pesan dari Langit”, yang dibedah dalam Festival Panggung Literasi Forum Lingkar Pena (FLP) Karanganyar di Ruang Audio Visual Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) Karanganyar, Jawa Tengah, Sabtu (18/7/2026).
Di hadapan puluhan peserta yang berasal dari berbagai sekolah, komunitas literasi, dan instansi, Agus mengungkapkan bahwa bab terakhir bukunya merupakan bagian paling personal.
Bab tersebut lahir dari proses penyembuhan setelah dirinya mengalami kecelakaan yang sempat memengaruhi kondisi psikologisnya.
Alih-alih memilih terapi konvensional, ia justru menjadikan menulis sebagai ruang untuk berdamai dengan diri sendiri.
“Saat itu saya menyadari punya kemampuan menulis. Saya mulai melakukan journaling atau menulis buku harian. Dari situ saya mengurai rasa trauma sekaligus menemukan sudut pandang baru tentang arti sebuah keselamatan,” ungkap Agus.
Baginya, setiap peristiwa yang dialami manusia selalu menyimpan pesan dari Tuhan. Melalui buku tersebut, ia ingin mengajak pembaca melihat setiap ujian sebagai ruang untuk bertumbuh, bukan sekadar kesedihan yang harus disesali.
“Seorang mukmin akan selalu menemukan kebaikan dalam setiap ketetapan Allah, baik saat diberi kebahagiaan maupun ketika diuji dengan kesulitan,” ujarnya.
Buku Motivasi yang Tidak Menggurui
Diskusi menghadirkan dua pembedah lintas generasi, yakni Shafrya Nur Febriyanty dari kalangan Gen Z dan Yuni Astuti yang mewakili generasi milenial.
Shafrya mengaku semula mengira buku tersebut hanya berisi kumpulan motivasi biasa. Namun setelah membacanya, ia menemukan rangkaian kisah nyata yang mampu memainkan emosi pembaca sekaligus mengajak mereka melakukan refleksi.

Menurutnya, salah satu bagian yang paling berkesan adalah kisah seorang anak penderita leukemia bernama Yuyuan yang meninggalkan wasiat menyentuh kepada seorang wartawan.
Ia juga menyoroti cerita “Berprasangka Buruk” yang menyajikan kejutan di akhir cerita tentang ketulusan seorang raja terhadap pelayannya.
“Buku ini cocok dibaca siapa saja, terutama mereka yang sedang kehilangan semangat atau merasa hidupnya sedang tidak baik-baik saja,” katanya.
Sementara itu, Yuni Astuti menilai kekuatan buku ini terletak pada kemampuannya mengajak pembaca menemukan pesan-pesan Tuhan melalui peristiwa sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
“Awalnya saya tertarik karena judulnya. Setelah membaca, ternyata buku ini mengajak kita belajar menangkap pesan-pesan dari Allah dalam setiap kejadian. Tidak terasa, tahu-tahu bukunya sudah selesai dibaca,” ujarnya.
Menulis Setiap Hari, Menabung Naskah
Selain membahas isi buku, Agus juga membagikan proses kreatifnya kepada peserta.
Ia mengungkapkan bahwa sebagian besar cerita dalam “Pesan-Pesan dari Langit” sebenarnya telah ditulis sejak lama dan disimpan dalam “bank naskah” sebelum akhirnya disusun menjadi sebuah buku utuh. Menurutnya, konsistensi menjadi modal utama seorang penulis.
“Penulis harus punya bank naskah. Menulislah setiap hari, rajin membaca, dan jangan pelit membeli buku. Saat mengedit, posisikan diri sebagai pembaca supaya tahu letak kekurangan tulisan kita,” pesannya.
Ketika mengalami kebuntuan ide atau writer’s block, Agus memilih berhenti sejenak dari aktivitas menulis.
“Saya biasanya jalan-jalan atau refreshing dulu. Setelah pikiran segar, baru lanjut menulis lagi,” ujarnya.
Literasi yang Menguatkan
Bedah buku ini merupakan bagian dari Festival Panggung Literasi FLP Karanganyar, yang bertujuan mengapresiasi karya para anggotanya sekaligus memperluas budaya membaca dan menulis di tengah masyarakat.
Pimpinan Penerbit Diomedia, Ngadiyo, yang turut hadir dalam acara tersebut menegaskan bahwa menulis bukan sekadar menghasilkan buku, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi orang lain.
“Kalau ingin bahagia, bahagiakan orang lain terlebih dahulu. Salah satu caranya melalui tulisan yang membawa nilai kebaikan,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa Diomedia membuka kesempatan bagi anggota FLP yang memiliki naskah berkualitas untuk diterbitkan tanpa biaya, sekaligus tetap memperoleh royalti sebagai bentuk apresiasi atas karya mereka. (Alfarisa Khusni F.R)



No Comment! Be the first one.