Siswi SD Muhammadiyah 16 Solo Buktikan Literasi Bisa Antar Jadi Juara FLS3N
Tabina berhasil menjadi yang terbaik setelah melewati proses seleksi yang diikuti ratusan peserta dari berbagai sekolah di Kota Surakarta.
NUMLIT, SURAKARTA — Di tengah gempuran konten digital yang serba cepat, seorang siswi sekolah dasar di Kota Surakarta membuktikan bahwa kebiasaan membaca dan menulis masih mampu melahirkan prestasi membanggakan.
Tabina Khansa Nirwasita, murid SD Muhammadiyah 16 Karangasem Surakarta, Jawa Tengah, berhasil meraih Juara I Lomba Menulis Cerita Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Tingkat Kota Surakarta 2026.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa budaya literasi yang dibangun sejak dini mampu melahirkan generasi kreatif sekaligus kompetitif. Tabina berhasil menjadi yang terbaik setelah melewati proses seleksi yang diikuti ratusan peserta dari berbagai sekolah di Kota Surakarta.
Pada tahap penyisihan yang berlangsung 6–7 Mei 2026, seluruh peserta mengikuti seleksi ketat hingga akhirnya dipilih lima finalis terbaik di masing-masing cabang lomba untuk melaju ke babak penentuan.
Kepala SD Muhammadiyah 16 Karangasem Surakarta, Maghfirotun Na’imah, menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi atas capaian tersebut.
Menurutnya, kemenangan Tabina bukan sekadar prestasi individu, tetapi juga menjadi bukti bahwa budaya literasi perlu terus ditumbuhkan di lingkungan sekolah.
“Selamat dan sukses untuk Mbak Tabina atas keberhasilannya meraih Juara I Lomba Menulis Cerita FLS3N Tingkat Kota Surakarta. Semoga prestasi ini menjadi motivasi bagi seluruh siswa untuk terus membaca, menulis, dan menghasilkan karya-karya kreatif,” ujarnya, Jumat (17/7/2026).
Di balik keberhasilan itu, sekolah ternyata telah membangun ekosistem literasi secara konsisten.
Setiap Senin, para siswa mengikuti kegiatan ekstrakurikuler menulis cerita dan jurnalistik anak yang menjadi ruang bagi mereka mengasah imajinasi sekaligus keterampilan menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan.
Pembimbing literasi sekolah, Rakhma, mengatakan pembinaan dilakukan secara rutin bersama guru muda Deby untuk membentuk budaya berkarya sejak usia dini.
“Pembimbingan menulis cerita dan jurnalistik anak merupakan kegiatan rutin setiap hari Senin. Kami ingin mengembangkan sekolah berbasis karya sekaligus menjadikan MunasSka sebagai sekolah berbasis prestasi,” jelasnya.
Baginya, kemampuan menulis tidak hanya menjadi bekal mengikuti perlombaan, tetapi juga melatih siswa berpikir kritis, berempati, serta mampu menyampaikan ide secara sistematis.
Keberhasilan Tabina pun bukan kali pertama. Siswi kelahiran Sukoharjo, 1 November 2014 itu sebelumnya juga menyabet Medali Perak Lomba Majalah Sekolah Tingkat Nasional dalam ajang OlympiCAD di Makassar pada Februari 2026.

Prestasi demi prestasi tersebut semakin menguatkan cita-citanya. Tabina mengaku ingin menjadi seorang penulis, konten kreator, sekaligus baker di masa depan.
Dukungan penuh juga datang dari keluarga. Orang tua Tabina, Rahmad Winardiyanto dan Erma Yunita, meyakini keberhasilan putrinya tidak lepas dari lingkungan belajar yang mendukung.
“Kami bersyukur kepada Allah karena telah mempertemukan Tabina dengan guru-guru yang baik dan berilmu. Melalui bimbingan mereka, potensi yang dimiliki Tabina dapat terus berkembang,” ungkap mereka.
Bagi SD Muhammadiyah 16 Karangasem Surakarta, capaian ini menjadi penguat bahwa budaya literasi tidak cukup diajarkan di ruang kelas, tetapi harus dibangun melalui pembiasaan dan ruang berkarya yang berkelanjutan.
Di tengah era digital yang sering membuat anak lebih akrab dengan gawai dibanding buku, sekolah berharap semakin banyak siswa berani menulis, menuangkan ide, dan menghasilkan karya.
Sebab, dari sebuah cerita sederhana yang ditulis anak-anak, bisa lahir prestasi yang mengharumkan nama sekolah sekaligus membuka jalan menuju masa depan yang lebih luas. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.