Ilmu Sejarah UNS dan Disbudpar Solo Tanamkan Cinta Sejarah Sejak Bangku SMP
Riset Group Sejarah Sosial Prodi Ilmu Sejarah FIB UNS berkolaborasi dengan Disbudpar Kota Surakarta menggelar program Gerakan Cinta Sejarah Masuk Sekolah (GEMAS).
NUMLIT, SURAKARTA — Sejarah tidak cukup hanya dihafal dari buku pelajaran. Sejarah perlu dikenalkan sebagai bagian dari identitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Gagasan itulah yang mendorong Riset Group Sejarah Sosial Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) berkolaborasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surakarta menggelar program Gerakan Cinta Sejarah Masuk Sekolah (GEMAS).
Program edukasi sejarah tersebut menyasar sekitar 320 siswa kelas VII SMP Negeri 1 Surakarta dalam kegiatan yang berlangsung pada Jumat (17/7/2026).
Melalui pendekatan yang interaktif, siswa diajak mengenal sejarah Kota Solo bukan sekadar sebagai rangkaian peristiwa masa lalu, melainkan sebagai identitas yang perlu dipahami dan dilestarikan.
Ketua Riset Group Sejarah Sosial Program Studi Ilmu Sejarah FIB UNS, Dr. M. Bagus Sekar Alam, M.Si, mengatakan kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah menjadi bagian penting dalam menghadirkan pengabdian masyarakat yang berdampak nyata.
“Sinergi antara perguruan tinggi dengan para pemangku kepentingan menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat rekognisi sekaligus menghadirkan pengabdian masyarakat yang benar-benar dirasakan manfaatnya. Melalui GEMAS, kami ingin mendekatkan sejarah kepada generasi muda dengan cara yang lebih menarik dan kontekstual,” ujarnya.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Disbudpar Kota Surakarta, Maretha Dinar Cahyono, S.E., M.M., serta dihadiri Staf Ahli Wali Kota Surakarta Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Fransisco Amaral. Suasana semakin semarak dengan penampilan orkestra dari SMP Negeri 1 Surakarta yang menjadi pembuka rangkaian acara.

Materi utama disampaikan dosen Ilmu Sejarah FIB UNS, Dr. Waskito Widi Wardojo, M.A., melalui paparan bertajuk “Solo Punya Cerita”.
Dalam sesi tersebut, siswa diajak memahami sejarah Kota Surakarta dari berbagai sudut pandang, mulai dari tokoh-tokoh bersejarah, perjalanan lahirnya Kasunanan Surakarta yang diawali dari Kartasura, hingga asal-usul nama jalan dan kawasan bersejarah yang masih digunakan masyarakat hingga sekarang.
Agar materi lebih mudah dipahami, peserta juga diajak menyaksikan film pendek mengenai sejarah Kartasura sebagai bagian penting dalam berdirinya Kasunanan Surakarta.
Melalui visual dan cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sejarah diperkenalkan sebagai sesuatu yang hidup, bukan sekadar hafalan di ruang kelas.
Untuk meningkatkan antusiasme peserta, panitia menyisipkan kuis interaktif dengan berbagai hadiah menarik. Siswa tampak aktif menjawab pertanyaan dan berdiskusi mengenai sejarah Kota Solo yang baru mereka pelajari.

Menurut Dr. Bagus Sekar Alam, pengenalan sejarah lokal memiliki peran strategis dalam membangun karakter generasi muda.
“Ketika siswa memahami sejarah kotanya sendiri, mereka akan memiliki rasa memiliki yang lebih kuat. Dari situ akan tumbuh kepedulian untuk menjaga, merawat, dan melestarikan warisan budaya yang dimiliki Surakarta,” katanya.
Melalui program GEMAS, UNS bersama Disbudpar Kota Surakarta berharap sejarah tidak lagi dipandang sebagai mata pelajaran yang membosankan.
Sejarah diharapkan menjadi media untuk menumbuhkan kecintaan terhadap kota, memperkuat identitas budaya, serta menyiapkan generasi muda yang memahami akar sejarahnya di tengah perkembangan zaman. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.