Dari Rumah Bata, Dua Saudari Kembar Menulis Cerita
Si kembar Mahmudah Lathif dan Muzdrickah Lathif, anak buruh serabutan dari Ponorogo, Jatim, diterima kuliah di UGM Yogyakarta dengan subsidi UKT 100 persen.
NUMLIT, PONOROGO — Di Dukuh Klitik, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Ponorogo, Jawa Timur, jalan aspal perlahan berakhir. Selepas itu, jalan tanah berbatu dan berdebu membawa siapa pun menuju deretan rumah dengan cerita yang berbeda-beda.
Table Of Content
Ada rumah bertingkat dengan mobil terparkir di halaman. Ada pula rumah sederhana dengan lantai dan dinding bata yang belum selesai diplester.
Di tempat seperti itulah, Mahmudah Lathif dan Muzdrickah Lathif, dua saudari kembar, tumbuh bersama mimpi yang mungkin terdengar terlalu tinggi bagi sebagian orang di sekitarnya. Mereka ingin kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Mereka bukan lahir dari keluarga berada. Ayah mereka, Meseri (48), bekerja sebagai buruh serabutan. Jika ada warga yang membutuhkan tenaga untuk menggarap sawah, ia ikut bekerja. Ketika ada proyek bangunan, ia berangkat menjadi buruh bangunan. Penghasilannya tidak pernah benar-benar pasti.
Sementara ibunya, Siti Rokhayati (43), menjadi ibu rumah tangga yang sesekali ikut membantu suaminya bekerja di sawah.
Namun, dari keluarga sederhana itu tumbuh keyakinan bahwa pendidikan bisa menjadi jalan untuk mengubah masa depan.
“Yang penting ada pemasukan,” kata Meseri, sebuah kalimat sederhana yang menggambarkan perjuangan keluarga mereka bertahun-tahun.
Bagi Siti, keterbatasan ekonomi justru menjadi alasan untuk menanamkan pendidikan sejak dini kepada kedua putrinya.
Ia dan suaminya bahkan memutuskan cukup memiliki dua anak. Ketika anak kembar itu lahir, keduanya sepakat memberikan perhatian dan pendidikan terbaik yang mereka mampu.
Sejak sebelum masuk taman kanak-kanak, Mahmudah dan Rikah sudah dikenalkan dengan buku dan latihan menulis.
Orang tua mereka tidak ingin anak-anaknya menjalani kehidupan yang sama seperti mereka yang harus bergantung pada pekerjaan serabutan dengan penghasilan tak menentu.
“Setidaknya jangan sampai seperti orang tua, tidak punya penghasilan tetap untuk menjamin kesejahteraan keluarga,” ujar Siti.
Mereka Tidak Hanya Belajar, tetapi Saling Menguatkan
Mahmudah dan Rikah selalu bersekolah di tempat yang sama. Keduanya menempuh pendidikan di SDN 3 Krebet, MTsN 5 Ponorogo, hingga SMAN 1 Badegan.
Pilihan tersebut bukan sekadar karena mereka anak kembar. Ada pertimbangan sederhana: dengan bersekolah di tempat yang sama, kebutuhan pendidikan dan akomodasi keluarga bisa lebih ringan.
“Untuk mempermudah dari segala kebutuhan, akomodasi, dan lain-lain,” kata Rikah.
Namun, kebersamaan itu kemudian berkembang menjadi kekuatan. Di sekolah, keduanya bukan sekadar saudara kembar. Mereka menjadi partner belajar sekaligus partner berkompetisi.

Sejak sekolah dasar, keduanya konsisten berada di jajaran tiga besar kelas. Tidak jarang, Mahmudah dan Rikah saling berebut posisi pertama.
Ketekunan itu berbuah prestasi. Mahmudah tercatat meraih 18 prestasi, sedangkan Rikah mengoleksi 14 prestasi. Prestasi tersebut datang dari berbagai ajang, mulai dari olimpiade tingkat karesidenan hingga lomba esai dan poster tingkat nasional.
Namun, keduanya tidak selalu menang bersama. Ketika salah satu berhasil menjadi juara dan yang lain belum beruntung, mereka tidak menjadikannya alasan untuk saling menjauh.
Bagi Mahmudah, kemenangan dan kekalahan adalah bagian dari proses.
“Dalam kompetisi memang selalu ada kemenangan, begitu juga dengan kekalahan,” ujarnya.
Barangkali, justru karena itulah mereka mampu terus berjalan. Ketika salah satu jatuh, ada saudara kembar yang mengingatkan untuk bangkit.
UGM, Mimpi yang Awalnya Hanya Berani Diucapkan Sambil Bercanda
Menariknya, mimpi untuk kuliah di UGM tumbuh secara terpisah di antara keduanya.
Rikah pertama kali mengenal UGM dari cerita seorang guru kelas IV SD. Sang guru pernah bercerita tentang muridnya yang berhasil kuliah di UGM melalui beasiswa. Bagi Rikah kecil, cerita itu begitu membekas.
“Saya masih polos, jadi saya simpan sendiri. Saya juga tidak cerita ke Mahmudah,” kenangnya.
Sementara itu, Mahmudah memiliki cerita berbeda. Ketertarikannya terhadap UGM muncul setelah mendengar nama perguruan tinggi tersebut. Setiap kali ditanya ingin kuliah di mana, jawabannya selalu sama yaitu UGM.
“Saya menjawabnya sambil bercanda, tapi diam-diam selalu ada harapan di dalam hati supaya bisa jadi kenyataan,” tutur Mahmudah.
Keduanya baru menyadari bahwa selama ini mereka ternyata menyimpan mimpi yang sama. Tetapi jalan menuju UGM tidak semulus yang dibayangkan.
Keduanya sempat mengalami kegagalan berkali-kali dalam upaya masuk perguruan tinggi negeri melalui sejumlah jalur seleksi.
Rikah bahkan menghitung sedikitnya tujuh kali kegagalan. Tentu saja, mereka sempat merasa terpuruk. Namun, kegagalan tidak membuat keduanya berhenti.
“Kami merasa down pastinya, tetapi akhirnya kami bangkit. Kami yakin masih ada banyak jalan lain yang terbuka,” kata Rikah.
Keduanya sempat gagal melalui jalur SNBP. Pada kesempatan berikutnya, mereka diterima di salah satu perguruan tinggi di Malang.
Namun, hati mereka masih tertuju pada UGM. Satu kesempatan terakhir kemudian mereka pilih melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu (PBUTM) UGM. Saat itu, harapan sudah semakin tipis.
“Saya sudah tidak berani terlalu berharap,” kenang Rikah.
Hingga akhirnya, pengumuman itu datang. Nama Mahmudah dan Rikah sama-sama dinyatakan lolos.
Lebih dari itu, keduanya juga mendapatkan subsidi UKT 100 persen. Penantian panjang akhirnya menemukan jawabannya.
“Setelah penantian yang panjang, perjuangan saya untuk banyak belajar dan prestasi yang saya kumpulkan akhirnya membuahkan hasil,” ujar Mahmudah.
Ayah Buruh Serabutan, Dua Putri Menembus Kampus Impian
Bagi Meseri, kabar itu membawa kebahagiaan sekaligus kecemasan.
Ia bersyukur kedua putrinya berhasil diterima di perguruan tinggi yang mereka impikan. Namun, sebagai seorang ayah, ia juga sempat membayangkan bagaimana kedua anaknya harus meninggalkan rumah dan pergi jauh ke Yogyakarta.
“Saya mendengar itu senang. Bersyukur anak-anak bisa diterima di UGM,” katanya, dikutip dari laman resmi UGM.
Mahmudah diterima di Program D4 Manajemen dan Penilaian Properti, Sekolah Vokasi UGM. Sementara Rikah diterima di Program D4 Teknologi Veteriner, Sekolah Vokasi UGM.
Bagi Rikah, pendidikan yang ditempuhnya kelak tidak ingin berhenti menjadi pencapaian pribadi.
Ia memiliki bayangan untuk kembali ke desanya suatu hari nanti. Salah satu mimpinya adalah membangun komunitas penyuluhan ternak yang dapat membantu masyarakat sekitar.

Belum ada bentuk yang benar-benar pasti. Namun satu hal sudah jelas, ilmu yang diperolehnya ingin dibawa pulang.
Mengubah Cerita tentang Desa
Di lingkungan tempat mereka tumbuh, banyak anak muda memilih langsung bekerja setelah menyelesaikan pendidikan menengah atau merantau menjadi buruh migran.
Pilihan itu tentu bukan sesuatu yang salah. Namun, Mahmudah dan Rikah menunjukkan bahwa ada jalan lain yang juga bisa ditempuh. Mereka memilih pendidikan.
Bukan karena ingin meninggalkan desa, melainkan karena ingin membuktikan bahwa tempat seseorang dilahirkan tidak menentukan sejauh mana ia boleh bermimpi.
Kisah keduanya juga menjadi pengingat bahwa kemiskinan tidak selalu diwariskan sebagai takdir. Dengan dukungan keluarga, pendidikan, ketekunan, dan kesempatan, seseorang dapat menulis ulang cerita tentang masa depannya.
Bahkan, dari sebuah rumah bata ekspos di ujung gang persawahan.
Di desa yang pernah lekat dengan berbagai stigma dan julukan, dua saudari kembar itu kini membawa cerita yang berbeda.
Mereka membuktikan bahwa dari tempat yang dianggap terpencil, mimpi tetap bisa tumbuh. Bahwa anak buruh serabutan pun bisa menembus kampus impian.
Dan bahwa pendidikan bukan sekadar jalan untuk keluar dari keterbatasan, tetapi juga jalan untuk suatu hari nanti kembali membawa perubahan.
“Terima kasih untuk tidak menyerah dan selalu mendukung saya,” ujar Rikah kepada kedua orang tuanya.
Kalimat itu mungkin sederhana. Namun, di baliknya ada perjalanan panjang sebuah keluarga yang memilih percaya pada pendidikan.
Mahmudah dan Rikah kini berangkat menuju Yogyakarta, membawa mimpi yang dulu hanya berani mereka ucapkan sambil bercanda.
Suatu hari nanti, mereka berharap dapat pulang. Bukan hanya sebagai lulusan perguruan tinggi, tetapi sebagai dua anak desa yang membawa pulang pengetahuan, pengalaman, dan harapan baru untuk tempat yang telah membesarkan mereka. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.