Lewat Tari Gambyong, Mahasiswi ISI Surakarta Buktikan Seni Tradisi Tetap Relevan di Era Modern
Tari Gambyong memiliki kedekatan kuat dengan tradisi penyambutan tamu.
NUMLIT, SURAKARTA – Pelestarian seni tradisi tidak selalu harus berlangsung di panggung pertunjukan konvensional.
Table Of Content
Di tengah hiruk-pikuk pusat perbelanjaan, lima mahasiswi Program Studi Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta justru membawa Tari Gambyong hadir di hadapan publik yang lebih luas.
Penampilan tersebut tersaji dalam Pra-Event Solo International Performing Arts (SIPA) di Foodcourt Solo Paragon, Sabtu (18/7/2026).
Lewat gerak yang terukur dan gemulai, Vikka Dias Putria Ningrum, Carrieolis Ratu Lathiifu, Tannaya Putri Herawaty, Nabila Fitri Muliana, dan Afrilla Helsi Prasetya menunjukkan bahwa seni tradisional tetap memiliki ruang untuk tumbuh dan diapresiasi di tengah kehidupan modern.
Bagi kelima mahasiswi angkatan 2024 itu, tampil dalam Pra-Event SIPA bukan sekadar kesempatan untuk mempertunjukkan kemampuan menari.
Pentas tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan seni tradisi dengan masyarakat umum sekaligus membuktikan bahwa warisan budaya dapat terus hidup ketika generasi muda berani membawanya ke ruang-ruang baru.
Gambyong Dipilih, Bukan Sekadar Karena Indah
Tari Gambyong menjadi pilihan utama dalam penampilan mereka. Selain merupakan bagian dari materi yang telah mereka pelajari selama perkuliahan, tarian khas Jawa tersebut juga memiliki kedekatan kuat dengan tradisi penyambutan tamu.
Pilihan itu sekaligus menjawab permintaan panitia yang menginginkan penampilan tari tradisional atau klasik. Bagi mereka, Gambyong menjadi representasi yang tepat untuk menghadirkan identitas budaya Jawa dalam sebuah panggung yang mempertemukan seni dengan masyarakat luas.
Namun, di balik penampilan yang terlihat anggun, proses menuju panggung tidak berlangsung panjang. Persiapan hanya dilakukan sekitar satu pekan.
Formasi kelima penari tersebut pun terbentuk secara dinamis. Tidak ada susunan anggota tetap seperti sebuah kelompok pertunjukan yang memiliki jadwal rutin.
Ketika kesempatan tampil datang, informasi disampaikan kepada rekan-rekan mahasiswa. Mereka yang memiliki waktu dan kesiapan kemudian bergabung untuk mempersiapkan pementasan.
Kondisi tersebut justru membuat mereka harus mengandalkan efektivitas latihan dan kekompakan tim.
Satu Pekan Persiapan, Evaluasi Tak Pernah Dilewatkan
Vikka mengungkapkan waktu persiapan yang singkat tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan detail penampilan. Mereka memanfaatkan pengalaman mempelajari Tari Gambyong sebagai bagian dari materi perkuliahan untuk mempercepat proses latihan.
Setiap rangkaian gerakan yang telah selesai dilatih direkam menggunakan video. Rekaman tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi bersama.
“Setiap satu rangkaian tarian selesai, kami selalu merekamnya lewat video. Setelah itu, kami melakukan review dan evaluasi bersama untuk melihat di mana letak kekurangannya serta mencari solusinya,” ujar Vikka, saat diwawancarai seusai tampil.
Metode tersebut membuat proses latihan tidak berhenti pada pengulangan gerakan. Mereka membiasakan diri melihat kembali penampilan dari sudut pandang penonton untuk menemukan detail-detail yang mungkin luput saat latihan.
Bahkan, hal kecil seperti sudut pandangan mata ketika melakukan gerakan menoleh ke kanan menjadi bahan diskusi. Semua dilakukan agar gerakan lima penari terlihat serasi dari sudut pandang penonton.
Bagi mereka, kekompakan bukan hanya soal kemampuan melakukan gerakan secara bersamaan. Komunikasi terbuka menjadi bagian penting dalam membangun energi kelompok.

“Kalau ada yang kurang atau salah, harus langsung diungkapkan, tidak boleh dipendam. Tujuannya agar semua transparan dan energi antarpenari bisa memiliki porsi yang sama di atas panggung,” katanya.
Ketika Jenuh Menjadi Jalan untuk Belajar Tari Lain
Menariknya, proses belajar seni tradisi bagi kelima mahasiswa tersebut tidak berhenti pada satu jenis tarian.
Mereka menyadari bahwa mendalami satu bentuk kesenian secara terus-menerus dapat menghadirkan kejenuhan. Namun, mereka memilih mengatasi rasa bosan dengan cara yang justru memperkaya pengalaman artistik.
Ketika mulai jenuh dengan eksplorasi tari khas Surakarta, mereka mencoba mempelajari dan mengeksplorasi ragam tari dari daerah lain, termasuk tarian dari Jawa Timur.
Bagi mereka, mempelajari tari dari daerah lain bukan berarti meninggalkan akar budaya sendiri. Sebaliknya, eksplorasi tersebut menjadi cara untuk memperluas wawasan gerak dan memperkaya pengalaman dalam berkesenian.
Dari proses itu, mereka belajar bahwa seni tradisi memiliki kekayaan yang sangat luas dan selalu menyediakan ruang untuk dipelajari kembali dari berbagai perspektif.
Generasi Muda dan Tanggung Jawab Merawat Tradisi
Penampilan di Pra-Event SIPA pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar pertunjukan. Kehadiran lima mahasiswi ISI Surakarta tersebut menjadi gambaran bagaimana generasi muda dapat mengambil peran dalam menjaga keberlanjutan seni tradisi.
Bagi Vikka, kesenian tradisional tidak boleh berhenti sebagai peninggalan masa lalu yang hanya disimpan atau dipelajari di ruang akademik. Seni tradisi harus terus dipelajari, dipraktikkan, dan diperkenalkan kepada masyarakat.
“Kita harus tetap belajar dan menyajikannya ke khalayak umum. Seni-seni yang sudah ada sejak lama itu wajib dilestarikan karena merupakan warisan tak ternilai dari nenek moyang kita. Tetaplah berlatih, pelajari seni yang kita punya, dan terus lestarikan, karena kekayaan seni kita itu ada banyak sekali macamnya,” pesannya.
Apa yang dilakukan kelima mahasiswi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari langkah sederhana. Belajar, berlatih, tampil, dan berani membawa seni tradisi bertemu dengan publik.
Di tengah perubahan zaman, Tari Gambyong pun menemukan panggungnya sendiri. Bukan hanya di ruang pertunjukan, tetapi juga di tengah masyarakat modern.
Sebab, seni tradisi akan tetap hidup bukan semata karena diwariskan, melainkan karena terus dipraktikkan dan diperkenalkan oleh generasi yang bersedia menjaganya. (Ditya Sri Pramudita)



No Comment! Be the first one.