Tak Menunggu Wadah, Mahasiswi FIB UNS Ciptakan Komunitas Dance Sendiri dan Tembus Panggung SIPA
Kisah The Lavishe menjadi pesan bagi mahasiswa lain yang memiliki minat atau hobi tertentu tetapi belum menemukan wadah yang sesuai.
NUMLIT, SURAKARTA — Tidak semua kreativitas lahir dari fasilitas yang sudah tersedia. Terkadang, ketika ruang untuk berekspresi belum ditemukan, mahasiswa justru memilih menciptakan ruangnya sendiri.
Table Of Content
Semangat itulah yang menjadi awal perjalanan The Lavishe, komunitas modern dance independen yang digagas mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Berawal dari kebingungan mencari wadah untuk menyalurkan kecintaan terhadap dunia tari, komunitas yang kini beranggotakan mahasiswa lintas program studi di FIB UNS itu justru berkembang menjadi ruang kreatif yang mampu membawa anggotanya tampil di luar lingkungan kampus.
Salah satunya melalui panggung Pra-Event Solo International Performing Arts (SIPA) di Foodcourt Solo Paragon, Sabtu (18/7/2026).
Dalam penampilan tersebut, enam anggota The Lavishe membawakan dance cover lagu “Time for the Moon Night” milik girl group K-Pop GFriend.
Mereka adalah Dwinaza Annisa Putri atau Naza (Sastra Inggris 2024) sebagai Kim So-won, Yudith Tya Issabell Zahranita Aryanti atau Bella (Sastra Inggris 2024) sebagai Eunha, Naila Tsabita Khairunnisa (Sastra Inggris 2024) sebagai Yerin, Sophia Rufina Ambaristi (Sastra Inggris 2025) sebagai SinB, Septiana Sulistyo Anjani (Sastra Daerah 2025) sebagai Yuju, dan Zaskia Cahya Editya (Sastra Inggris 2025) sebagai Umji.
Penampilan di panggung Pra-Event SIPA menjadi momentum penting bagi The Lavishe. Untuk pertama kalinya, mereka tampil di luar zona nyaman kampus dan berhadapan langsung dengan penonton umum.
Namun, perjalanan komunitas ini sesungguhnya dimulai dari sebuah persoalan sederhana, tidak adanya wadah khusus untuk menari.
Wadah Belum Ada, Mahasiswa Memilih Menciptakannya
Naza mengenang, The Lavishe awalnya hanya beranggotakan empat mahasiswi Sastra Inggris yang memiliki minat sama terhadap modern dance.
Mereka sempat kebingungan mencari ruang untuk menyalurkan hobi tersebut.
“Dulu kami bingung, mau masuk ke Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) KMF tidak bisa karena itu khusus musik dan film. Mau menumpang ke UKM lain juga tidak memungkinkan, dan di FIB sendiri belum ada wadah khusus dance,” kenang Naza, saat diwawancarai seusai tampil.
Alih-alih berhenti karena keterbatasan fasilitas, mereka memilih mengambil inisiatif.
Menjelang Astusera 2025, acara tahunan BEM FIB UNS yang digelar setelah rangkaian masa orientasi mahasiswa baru (PKKMB), empat mahasiswi tersebut memberanikan diri membentuk The Lavishe untuk tampil.
Respons mahasiswa ternyata di luar dugaan. Minat terhadap komunitas tersebut cukup besar sehingga setelah Astusera 2025, The Lavishe membuka rekrutmen terbuka. Dari sana, semakin banyak mahasiswa yang memiliki ketertarikan terhadap modern dance bergabung.
Kini, The Lavishe tumbuh sebagai komunitas independen yang tidak berada langsung di bawah naungan kampus. Keanggotaannya pun terbuka bagi mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan FIB UNS.
Bagi para penggeraknya, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan fasilitas tidak selalu menjadi penghalang. Justru dari keterbatasan itulah muncul keberanian untuk membangun sesuatu secara mandiri.
Belajar Tanpa Pelatih, Bertumbuh Lewat Saling Koreksi
Menariknya, The Lavishe juga menjalankan proses latihan secara mandiri tanpa pelatih khusus.
Untuk mempersiapkan penampilan, para anggota mengandalkan kemampuan belajar bersama dan saling memberikan evaluasi.
Pilihan lagu “Time for the Moon Night” pun tidak dibuat secara sembarangan. Bella mengatakan, lagu tersebut dipilih karena disukai anggota dan memiliki koreografi yang sudah cukup familier.
“Dengan begitu, latihannya lebih enjoy dan tidak ada tekanan yang berlebih,” ujarnya.
Metode latihan mereka pun cukup unik. Karena masing-masing anggota memerankan karakter berbeda dari personel GFriend, mereka mempelajari koreografi melalui video fancam yang menampilkan masing-masing anggota grup yang diperankan. Tanpa kehadiran coach, proses belajar dilakukan secara kolektif.
“Karena kami tidak punya pelatih, saat latihan kami saling memperhatikan satu sama lain. Kami memberikan masukan dan koreksi secara bergantian,” kata Naza.
Cara tersebut membuat setiap anggota tidak hanya belajar menari, tetapi juga belajar menjadi bagian dari tim. Mereka dituntut mampu menerima kritik, memberi masukan, sekaligus bertanggung jawab terhadap kualitas penampilan bersama.
Dari Panggung Kampus ke Panggung Publik
Tampil di Pra-Event SIPA menjadi tantangan tersendiri bagi The Lavishe.
Selama ini, sebagian besar aktivitas mereka masih berada dalam lingkungan kampus. Namun, panggung di Solo Paragon membawa mereka berhadapan dengan audiens yang lebih luas dan beragam.

Naza mengakui, tampil di pusat perbelanjaan dan disaksikan masyarakat umum menghadirkan tekanan mental tersendiri.
Namun, tantangan tersebut justru menjadi pengalaman penting bagi para anggota untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan tampil di ruang publik.
Seiring bertambahnya jumlah anggota, The Lavishe juga mulai membangun sistem organisasi yang lebih terstruktur.
Bella menjelaskan proses rekrutmen dilakukan melalui publikasi kepada mahasiswa, kemudian dilanjutkan dengan audisi. Aspek yang dinilai tidak hanya kemampuan teknis seperti power dan ekspresi, tetapi juga komitmen calon anggota.
Hal tersebut menjadi penting karena jumlah anggota yang semakin banyak membuat komunitas harus menerapkan sistem rotasi lineup dalam setiap penampilan.
“Lebih dari sekadar teknik, kami sangat memastikan komitmen calon anggota. Karena anggota kami kini sudah banyak, kami harus menerapkan sistem rotasi lineup untuk setiap penampilan. Kesetiaan dan komitmen sangat dibutuhkan di sini,” tegas Bella.
Dari sini, The Lavishe perlahan tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya mahasiswa yang gemar menari. Komunitas tersebut mulai belajar mengelola anggota, membangun komitmen, menyusun strategi latihan, hingga menjaga keberlangsungan sebuah organisasi kreatif.
Kampus Bukan Sekadar Tempat Kuliah
Bagi Naza dan Bella, kisah The Lavishe juga menjadi pesan bagi mahasiswa lain yang memiliki minat atau hobi tertentu tetapi belum menemukan wadah yang sesuai.
Menurut mereka, mahasiswa tidak harus selalu menunggu adanya organisasi resmi untuk mulai berkarya.
“Harus pede kalau ingin membentuk komunitas baru yang mandiri, tidak perlu takut pada apa pun,” ujar Naza.
Bella menambahkan, kampus semestinya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berekspresi dan mengembangkan berbagai potensi positif.
“Kampus adalah ruang bebas berekspresi. Apa pun hobinya dan kesenangannya, alokasikanlah ke hal-hal yang baik, salah satunya dengan membentuk komunitas,” katanya.
Bagi The Lavishe, perjalanan dari empat orang yang kebingungan mencari wadah hingga menjadi komunitas yang mampu tampil di panggung publik menjadi bukti bahwa kreativitas tidak selalu membutuhkan fasilitas yang sempurna untuk tumbuh.
Kadang, yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk memulai.
Dari sana, sebuah komunitas bisa lahir. Pertemanan bisa berubah menjadi kolaborasi. Dan sebuah hobi yang awalnya hanya ingin disalurkan, perlahan dapat berkembang menjadi ruang tumbuh bagi banyak orang.
The Lavishe membuktikan satu hal: ketika ruang untuk berkarya belum tersedia, mahasiswa tidak harus menunggu. Mereka bisa menciptakan ruang itu sendiri. (Ditya Sri Pramudita)



No Comment! Be the first one.