Gol A Gong Tantang Santri Darussajidin: Jangan Cuma Jadi Pembaca, Tulislah Kisahmu Sendiri
Gol A Gong mengajak para santri tidak berhenti sebagai pembaca, tetapi mulai berani mengubah pengalaman hidup mereka menjadi tulisan yang dapat dibaca dan menginspirasi orang lain.
NUMLIT, KARANGANYAR – Setiap orang memiliki cerita, tetapi tidak semua orang berani menuliskannya. Pesan itulah yang coba ditanamkan Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, kepada para santri Pondok Pesantren Darussajidin, Desa Gedong, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar.
Melalui pelatihan menulis kisah inspiratif dalam rangkaian Safari Literasi Jawa Tengah, Gol A Gong mengajak para santri tidak berhenti sebagai pembaca, tetapi mulai berani mengubah pengalaman hidup mereka menjadi tulisan yang dapat dibaca dan menginspirasi orang lain.
Pelatihan berlangsung di Aula Masjid At-Taubah 112 Pondok Pesantren Darussajidin, Sabtu (15/8/2026).
Bagi Gol A Gong, pengalaman sehari-hari dapat menjadi sumber ide yang kuat untuk sebuah tulisan. Karena itu, para santri tidak hanya mendapatkan teori kepenulisan, tetapi langsung diajak menggali dan menuliskan pengalaman mereka sendiri.
Dalam sesi tersebut, Gol A Gong membagikan teknik menulis kisah inspiratif, mulai dari menemukan ide, membangun alur cerita, hingga mengembangkan pengalaman pribadi menjadi tulisan yang menarik sekaligus memiliki makna.
Para santri kemudian diminta mempraktikkan langsung materi yang diberikan. Tulisan yang dihasilkan dibahas dan dikoreksi bersama sehingga peserta mendapatkan pengalaman dalam mengembangkan sebuah cerita melalui proses kreatif.
Pendekatan tersebut membuat pelatihan tidak berhenti pada pemahaman teori. Para santri sekaligus belajar bahwa pengalaman sederhana yang mereka alami di lingkungan keluarga, pesantren maupun kehidupan sehari-hari dapat memiliki nilai ketika diolah menjadi sebuah cerita.
Santri Didorong Berani Menuangkan Gagasan
Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Karanganyar, Nurhayati, yang hadir dalam kegiatan tersebut, mengatakan literasi bukan hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis.
Menurutnya, aktivitas menulis juga menjadi ruang bagi santri untuk mengekspresikan gagasan, pengalaman, sekaligus nilai-nilai kehidupan yang mereka miliki.
“Kegiatan menulis tidak hanya melatih keterampilan berbahasa, tetapi juga menjadi sarana untuk mengekspresikan ide, pengalaman, dan nilai-nilai kehidupan yang dimiliki para santri,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong para santri untuk lebih percaya diri dan berani menuangkan gagasan. Kemampuan tersebut dinilai penting untuk mendukung pengembangan potensi diri.

Pesantren Bisa Menjadi Rumah bagi Penulis Muda
Ketua panitia sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Darussajidin, Yuni Astuti, menyambut positif kegiatan tersebut.
Ia mengapresiasi kehadiran Gol A Gong yang berbagi pengalaman dan pengetahuan mengenai dunia kepenulisan kepada para santri.
“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi motivasi bagi para santri untuk terus berkarya dan menumbuhkan budaya literasi di lingkungan pesantren,” katanya.
Kegiatan tersebut juga melibatkan Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Karanganyar sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya literasi di lingkungan pesantren.
Lebih jauh, pelatihan ini diharapkan dapat membuka perspektif baru bahwa pesantren tidak hanya menjadi tempat untuk memperdalam ilmu keagamaan, tetapi juga ruang tumbuh bagi berbagai potensi kreatif generasi muda.
Para santri diharapkan mampu melanjutkan proses tersebut dengan terus membaca, menulis, dan mengembangkan pengalaman menjadi karya.
Sebab, sebuah cerita inspiratif tidak selalu lahir dari pengalaman luar biasa. Terkadang, cerita itu justru berawal dari kehidupan sehari-hari yang dijalani seseorang, termasuk dari ruang sederhana sebuah pesantren. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.