Kopi Lereng Lawu Naik Kelas, dari Ruang Tamu Tembus Pasar Kalimantan
Kelompok Tani Sumber Duren Kabupaten Ngawi mengembangkan pengolahan kopi lokal untuk membuat hasil kebun masyarakat memiliki nilai tambah lebih tinggi.
NUMLIT, NGAWI — Kopi di lereng Gunung Lawu bukan sekadar tanaman yang dipanen kemudian dijual. Di Desa Karanggupito, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, komoditas yang diwariskan dari generasi ke generasi itu perlahan berubah menjadi sumber penghidupan baru bagi masyarakat.
Table Of Content
Perubahan tersebut dijalankan Kelompok Tani (Poktan) Sumber Duren. Beranggotakan 66 orang, kelompok tani ini mengembangkan pengolahan kopi lokal dengan satu tujuan membuat hasil kebun masyarakat memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Perjalanan itu tidak dimulai dari fasilitas besar. Bahkan, pada masa awal, pengolahan kopi dilakukan di ruang tamu karena kelompok belum memiliki tempat khusus.
Kini, produk yang mereka kembangkan dengan nama Kopi Angkringan Lawu telah dipasarkan ke berbagai daerah. Penjualan terjauh bahkan disebut telah mencapai Kalimantan. Dari usaha tersebut, omzet pengolahan kopi saat ini berada di kisaran Rp9 juta hingga Rp12 juta per bulan.
Ketua Poktan Sumber Duren, Saifudin, mengatakan tanaman kopi sebenarnya telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Karanggupito. Tanaman tersebut dirawat dan diwariskan dari generasi terdahulu.
Namun, selama bertahun-tahun, sebagian hasil panen petani masih dijual kepada pedagang atau sekadar dikonsumsi sendiri. Padahal, menurut kelompok tani, kopi dari kawasan lereng Lawu memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Kesadaran itu semakin terbuka setelah mereka diperkenalkan dengan Yosep, pakar kopi Ngawi sekaligus pemilik kedai kopi Omah Jengki.
Melalui perkenalan tersebut, pengelola Poktan Sumber Duren berkesempatan mengikuti pameran produk unggulan hasil perkebunan kopi dan kakao di Surabaya.

Pengalaman itu menjadi salah satu titik penting. Mereka melihat bahwa kopi dan kakao memiliki prospek pasar yang cukup menjanjikan. Di sisi lain, potensi bahan baku sebenarnya tersedia di sekitar mereka.
Persoalannya kemudian bukan sekadar bagaimana menanam kopi, tetapi bagaimana mengolah hasil panen agar memiliki nilai tambah.
Belajar dari Mesin yang Pernah Gagal
Tantangan terbesar muncul pada tahap pascapanen. Tidak semua petani memiliki pengetahuan maupun peralatan untuk mengolah kopi dengan kualitas yang lebih baik.
Poktan Sumber Duren kemudian mengajukan proposal kepada Dinas Pertanian Kabupaten Ngawi untuk memperoleh peralatan pengolahan kopi.
Pada akhir 2020, bantuan peralatan tersebut akhirnya diterima. Kelompok memperoleh sejumlah mesin, antara lain mesin pemecah kulit kopi, mesin roasting, dan mesin penepung kopi.
Tetapi memiliki mesin ternyata bukan berarti persoalan selesai. Mereka masih harus belajar mengoperasikannya. Mesin roasting, misalnya, sempat menghasilkan kopi yang belum matang hingga terlalu matang.
Keterbatasan tempat juga membuat proses awal berjalan sederhana. Selama sekitar enam bulan, pengolahan bahkan dilakukan di ruang tamu.
Pada tahap tersebut, Poktan Sumber Duren lebih banyak menerima jasa pemecahan kulit dan roasting kopi dari petani sekitar desa. Dari pengalaman itu, mereka perlahan memahami proses pengolahan sebelum akhirnya berani memproduksi dan menjual kopi bubuk sendiri.
Proses belajar yang berlangsung bertahap tersebut kemudian menjadi fondasi bagi pengembangan usaha mereka.
Mengusung Nama Kopi dari Lereng Lawu
Produk kopi yang mereka kembangkan diberi nama Kopi Angkringan Lawu. Nama tersebut terinspirasi dari kawasan asal bahan baku, yakni lereng Gunung Lawu, terutama Desa Karanggupito dan sejumlah desa di sekitarnya.

Kelompok juga berupaya menggunakan bahan baku dari wilayah Kabupaten Ngawi. Kopi diperoleh dari petani lokal di sejumlah wilayah, antara lain Karanggupito, Sidorejo, Ngrayudan, Girimulyo, Sine, dan Ngrambe.
Langkah tersebut sekaligus menjadi upaya untuk memperkenalkan kopi asli Ngawi dengan mengangkat identitas daerah asalnya.
Dari sisi harga, produk kopi yang dihasilkan memiliki rentang sekitar Rp100.000 hingga Rp300.000 per kilogram, tergantung jenis dan kualitas kopi.
Pasarnya pun mulai berkembang melampaui wilayah Ngawi. Saifudin menyebut penjualan terjauh Kopi Angkringan Lawu telah mencapai Kalimantan.
Dalam beberapa waktu terakhir, usaha tersebut juga disebut sempat mendapat kunjungan dari pihak asal negara-negara Arab.
Perkembangan tersebut menunjukkan bagaimana komoditas yang awalnya hanya menjadi bagian dari aktivitas perkebunan masyarakat perlahan memiliki rantai nilai yang lebih panjang.
Tantangan Berikutnya Ada di Kebun
Meski pengolahan dan pemasaran mulai berkembang, pekerjaan Poktan Sumber Duren belum selesai.
Menurut kelompok tani, peningkatan kualitas kopi justru harus dimulai dari kebun. Petani perlu memahami pemeliharaan tanaman dan cara mengolah hasil panen dengan benar agar kualitas kopi yang dihasilkan semakin baik.
“Kami masih harus banyak memberikan edukasi kepada petani kopi agar lebih memperhatikan perawatan dan mengolah kopi dengan cara yang benar,” kata Ketua Poktan Sumber Duren, Saifudin, saat diwawancarai di lokasi, Selasa (1/9/2026).
Teknologi pun mulai menjadi bagian dari proses tersebut. Roasting kopi dilakukan menggunakan mesin roasting bertenaga listrik dengan gas elpiji sebagai sumber panas.
Bagi kelompok tani, teknologi bukan untuk menggantikan pengetahuan petani, tetapi menjadi alat untuk membantu menghasilkan produk yang lebih konsisten dan memiliki nilai tambah.
Perjalanan Kopi Angkringan Lawu memperlihatkan bahwa pengembangan ekonomi desa tidak selalu harus dimulai dengan investasi besar.
Ia bisa bermula dari kebun yang diwariskan orang tua, ruang tamu yang dijadikan tempat produksi, mesin yang harus dipelajari dari nol, hingga keberanian petani mengubah cara pandang terhadap hasil panen.
Di lereng Gunung Lawu, kopi akhirnya tidak lagi berhenti sebagai biji yang dipetik dari kebun.
Kopi menjadi cerita tentang bagaimana warisan leluhur dipertemukan dengan pengetahuan, teknologi, dan keberanian mengolahnya menjadi peluang ekonomi.
Dan bagi masyarakat Karanggupito, setiap cangkir Kopi Angkringan Lawu bukan hanya membawa cita rasa dari lereng Lawu, tetapi juga membawa harapan agar potensi lokal tetap tumbuh bersama masyarakat yang merawatnya.



No Comment! Be the first one.