Bukan Sekadar Kajian, 150 Jemaah Sedulur Hijrah Berkumpul Mencari Kembali Ketenangan Hati
Dalam konteks kajian, yang perlahan dapat hilang justru ketenangan hati dan kenikmatan dalam beribadah.
NUMLIT, SURAKARTA — Ketika kehidupan sehari-hari semakin dipenuhi kesibukan, karier, target, dan berbagai urusan duniawi, ada hal yang kadang luput diperhatikan yaitu ketenangan hati.
Table Of Content
Persoalan itulah yang coba disentuh dalam kajian bulanan komunitas Sedulur Hijrah di Masjid Nur Mirah Surakarta, Sabtu (29/8/2026) malam.
Kajian bertajuk “Ada yang Hilang Dariku Belakangan” tersebut justru mendapat respons besar dari masyarakat. Panitia yang semula hanya menyiapkan tempat untuk sekitar 90 jemaah harus menerima kenyataan bahwa jumlah peserta yang hadir mencapai sekitar 150 orang.
Mereka datang untuk mengikuti kajian yang menghadirkan Ustaz Rofiq Jauhari. Acara berlangsung mulai pukul 19.15 WIB hingga 21.45 WIB dengan suasana khidmat dan penuh perhatian.
Membeludaknya jemaah membuat kajian tersebut tidak sekadar menjadi agenda rutin komunitas. Lebih dari itu, ramainya peserta memperlihatkan adanya kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan ruang belajar agama sekaligus melakukan refleksi terhadap kehidupan yang mereka jalani.
Saat yang Hilang Bukan Materi, Melainkan Ketenangan
Tema “Ada yang Hilang Dariku Belakangan” menjadi pintu masuk untuk membicarakan kegelisahan yang sering muncul dalam kehidupan manusia modern.
Sesuatu yang hilang tersebut tidak selalu berkaitan dengan materi, uang, jabatan, atau pencapaian. Dalam konteks kajian, yang perlahan dapat hilang justru ketenangan hati dan kenikmatan dalam beribadah.
Ustaz Rofiq Jauhari mengajak jemaah melihat kembali hakikat manusia sebagai hamba. Menurut dia, manusia memiliki kecenderungan untuk berkeluh kesah dan mudah terlena ketika terlalu larut mengejar kehidupan dunia.
“Ketika orientasi kehidupan terlalu banyak diarahkan pada pencapaian duniawi, manusia berpotensi melupakan tugas utamanya sebagai hamba Allah SWT,” ujar dia.
Dalam ceramahnya, Ustaz Rofiq bahkan menggunakan perumpamaan yang tegas mengenai bagaimana manusia dapat terjebak dalam pengejaran dunia.
“Sesungguhnya dunia ini seperti bangkai, dan para pemburu dunia akan menyongsongnya seperti anjing,” tuturnya.
Ia kemudian mengingatkan adanya sejumlah penyesalan yang dapat muncul ketika manusia terlalu sibuk mengejar dunia dan melupakan akhirat.
Pertama, penyesalan terhadap waktu yang telah berlalu dan digunakan secara sia-sia. Kedua, manusia tidak pernah benar-benar merasa cukup dengan apa yang telah dicapai. Ketiga, kesibukan mengejar karier, jabatan, promosi, dan berbagai ambisi duniawi dapat membuat seseorang melupakan bekal untuk kehidupan akhirat.
Pesan tersebut menjadi refleksi bagi jemaah bahwa kesibukan dan pencapaian hidup tidak seharusnya membuat manusia kehilangan arah terhadap tujuan spiritualnya.
Namun, kajian tidak ditutup dengan nada pesimistis. Ustaz Rofiq juga menyampaikan pesan mengenai luasnya kasih sayang Allah SWT dan harapan terhadap syafaat Nabi Muhammad SAW bagi umatnya, termasuk mereka yang memiliki dosa, selama tidak menyekutukan Allah SWT.
Dari Target 90, Jemaah Membeludak Jadi 150 Orang
Antusiasme masyarakat menjadi salah satu hal yang paling terlihat dalam kajian tersebut.

Rini, salah satu perwakilan panitia Sedulur Hijrah, mengatakan pihaknya pada awalnya hanya menargetkan sekitar 90 jemaah. Namun, jumlah tersebut terlampaui cukup jauh ketika acara berlangsung.
Sekitar 150 jemaah hadir dan memenuhi area masjid. Meski jumlah peserta melebihi perkiraan, rangkaian kajian tetap berlangsung tertib dan nyaman.
Sedulur Hijrah sendiri rutin menggelar kajian gratis setiap bulan. Lokasinya berpindah dari satu masjid ke masjid lainnya maupun gedung pertemuan di sekitar Solo.
Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang membuat kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan sekaligus pembelajaran bagi masyarakat yang ingin memperdalam pengetahuan agama.
Jemaah Datang, Warga Bergerak
Di balik ramainya kajian, terdapat cerita lain yang tidak kalah menarik yaitu gotong royong warga sekitar Masjid Nur Mirah.
Ita, warga Kecamatan Laweyan, Solo, merupakan salah satu warga yang mengetahui informasi kajian melalui Instagram. Ia datang bersama suaminya dan mengikuti kajian dengan antusias.
Bahkan sebelum menghadiri kajian malam di Masjid Nur Mirah, Ita dan suaminya sempat mengikuti kajian Ustaz Hanan Attaki di Solo Square Mall pada sore hari.
Saat kajian berlangsung, Ita tidak hanya mendengarkan. Ia mencatat sejumlah poin penting ceramah di buku catatannya agar materi yang diperoleh dapat kembali dipelajari.
“Kajian-kajian seperti ini sangat-sangat bermanfaat bagi kami masyarakat awam. Selain menambah ilmu dan menenangkan hati, kegiatan ini juga mempererat tali silaturahmi antarwarga,” ungkap Ita.
Sementara itu, ketika jumlah jemaah semakin banyak, kebutuhan terhadap pengaturan kendaraan juga meningkat. Suami Ita bersama para pemuda setempat kemudian ikut membantu mengatur lalu lintas dan menata area parkir kendaraan jemaah.
Aktivitas tersebut bahkan memunculkan bentuk dukungan spontan dari para pengendara. Sejumlah orang memberikan donasi sukarela yang kemudian dikumpulkan untuk mendukung operasional masjid.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa ramainya sebuah kajian tidak hanya terlihat dari jumlah orang yang duduk mendengarkan ceramah. Ada pula warga yang bergerak di luar masjid agar kegiatan dapat berlangsung dengan lancar.
Pada akhirnya, kajian Sedulur Hijrah malam itu meninggalkan pesan yang lebih luas. Di tengah kesibukan mengejar berbagai hal dalam kehidupan, manusia tetap membutuhkan ruang untuk berhenti, melihat kembali perjalanan dirinya, dan bertanya apa yang mungkin telah hilang.
Bisa jadi bukan uang, jabatan, atau pencapaian yang hilang. Melainkan ketenangan hati, kedekatan dengan Allah, dan kesadaran untuk kembali pada fitrah sebagai seorang hamba.
Dan dari Masjid Nur Mirah malam itu, sekitar 150 orang datang untuk mencari kembali sesuatu yang mungkin selama ini perlahan mereka tinggalkan.



No Comment! Be the first one.