Jangan Mudah Percaya Video Demonstrasi, Kenali Cara Memeriksa yang Asli, Lama, atau Hoaks
Opini ini ditulis oleh M. Jamil Hamdani, reporter magang Numeralitera dari Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) UIN Raden Mas Said Surakarta.
NUMLIT, SURAKARTA — Di tengah aksi demonstrasi, foto dan video di media sosial sering kali menjadi sumber informasi paling cepat. Sebuah rekaman dapat beredar luas hanya dalam hitungan menit, bahkan sebelum informasi mengenai apa yang sebenarnya terjadi di lapangan benar-benar tersedia.
Table Of Content
- Jangan Terjebak oleh Tanggal Unggahan
- Lihat Apa yang Ada di Dalam Video, Bukan Hanya Narasinya
- Potongan Video Bisa Ditelusuri dengan Pencarian Gambar
- Jangan Hanya Membandingkan Satu Unggahan dengan Unggahan Lain
- Masalah Baru: Video yang Memang Dibuat untuk Menipu
- Menunda Berbagi Juga Bentuk Tanggung Jawab
Di sinilah persoalannya. Kecepatan berbagi informasi sering kali tidak diikuti dengan kecepatan memeriksa kebenaran.
Sebuah video bisa saja benar-benar merupakan rekaman suatu peristiwa. Namun, video yang asli belum tentu digunakan dengan narasi yang benar. Rekaman yang dibuat beberapa tahun lalu dapat diunggah kembali dan diklaim sebagai kejadian hari ini. Video dari kota lain dapat disebut terjadi di Jakarta. Bahkan, perkembangan teknologi memungkinkan sebuah video dibuat atau dimanipulasi menggunakan kecerdasan artifisial (AI) sehingga terlihat meyakinkan.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), melalui pemeriksaan terhadap konten yang beredar di media sosial, sebelumnya menemukan klaim yang tidak sesuai dengan fakta. Salah satunya adalah video yang diklaim sebagai rekaman aksi demonstrasi pada 31 Juli 2026 di Jakarta. Setelah ditelusuri, Komdigi menyatakan klaim tersebut tidak benar karena video yang beredar merupakan rekaman peristiwa lain.
Contoh tersebut seharusnya menjadi pengingat bahwa keaslian video dan kebenaran narasi merupakan dua hal yang berbeda. Video bisa asli, tetapi konteksnya palsu.
Karena itu, di tengah derasnya arus informasi mengenai demonstrasi, kita perlu membiasakan diri untuk tidak hanya bertanya, “Apakah video ini benar?” tetapi juga, “Video ini direkam kapan, di mana, oleh siapa, dan sebenarnya menunjukkan peristiwa apa?”
Jangan Terjebak oleh Tanggal Unggahan
Hal pertama yang perlu diperiksa adalah sumber video. Kita dapat melihat akun yang pertama kali mengunggah, waktu publikasi, serta keterangan yang diberikan. Namun, tanggal sebuah unggahan tidak otomatis menunjukkan kapan peristiwa dalam video tersebut terjadi.
Sebuah video lama dapat kembali diunggah pada waktu yang berbeda dan kemudian dianggap sebagai rekaman kejadian terbaru. Inilah salah satu alasan mengapa sebuah video yang tampak aktual belum tentu benar-benar baru.
Karena itu, informasi yang hanya berasal dari satu unggahan media sosial sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai fakta.
Penelusuran dapat dilanjutkan dengan mencari apakah video atau potongan gambar yang sama pernah muncul sebelumnya. Dengan cara sederhana ini, kita dapat menemukan jejak digital sebuah rekaman dan mengetahui apakah materi tersebut sebenarnya sudah pernah beredar.
Lihat Apa yang Ada di Dalam Video, Bukan Hanya Narasinya
Selain sumber dan waktu unggahan, detail visual dalam rekaman juga dapat menjadi petunjuk penting.
Nama jalan, gedung, papan informasi, kendaraan, spanduk, pakaian, hingga kondisi lingkungan sekitar dapat membantu mengidentifikasi lokasi dan konteks sebuah video.
Misalnya, sebuah video diklaim terjadi di lokasi tertentu. Cobalah perhatikan apakah bentuk gedung, marka jalan, papan nama, atau lingkungan di sekitarnya benar-benar sesuai dengan lokasi yang disebutkan.
Jika tidak sesuai, kita memiliki alasan untuk mempertanyakan narasi yang menyertai video tersebut.
Kebiasaan sederhana ini penting karena sering kali kita justru membaca keterangan unggahan terlebih dahulu, kemudian memaksa apa yang kita lihat dalam video agar sesuai dengan narasi tersebut.
Padahal, seharusnya justru sebaliknya: lihat rekamannya, periksa detailnya, baru kemudian percaya pada narasinya.
Potongan Video Bisa Ditelusuri dengan Pencarian Gambar
Untuk foto maupun potongan gambar dari sebuah video, teknologi pencarian gambar juga dapat dimanfaatkan.
Google melalui layanan bantuannya menjelaskan bahwa pencarian menggunakan gambar dapat menemukan gambar serupa serta situs yang memuat gambar tersebut atau gambar yang memiliki kemiripan.
Fitur seperti Google Lens dapat digunakan untuk melakukan penelusuran tersebut. Caranya cukup sederhana. Ambil tangkapan layar dari bagian tertentu dalam video, kemudian gunakan gambar tersebut untuk melakukan pencarian.
Hasilnya dapat membantu menemukan apakah gambar yang kita lihat pernah digunakan dalam pemberitaan atau unggahan lain sebelumnya.
Namun, hasil pencarian gambar tetap tidak boleh diterima mentah-mentah. Kemunculan sebuah gambar di internet tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa narasi yang menyertainya benar.
Pencarian gambar adalah alat bantu untuk menemukan jejak, bukan pengganti proses verifikasi.
Jangan Hanya Membandingkan Satu Unggahan dengan Unggahan Lain
Setelah menemukan informasi atau rekaman yang serupa, langkah berikutnya adalah membandingkannya dengan sumber lain.
Pemberitaan dari media yang kredibel, keterangan lembaga resmi, maupun sumber langsung yang berkaitan dengan peristiwa dapat digunakan untuk menguji informasi yang beredar di media sosial.
Mengapa ini penting? Karena semakin banyak sumber yang diperiksa, semakin mudah kita menemukan apakah sebuah informasi memiliki konteks yang sama atau justru memperlihatkan perbedaan waktu, lokasi, dan kejadian.
Satu unggahan bisa mengatakan sebuah video terjadi hari ini. Namun, sumber lain mungkin menunjukkan bahwa video tersebut sebenarnya direkam beberapa bulan lalu.
Pada titik inilah kemampuan membaca konteks menjadi jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan menemukan sebuah video.
Masalah Baru: Video yang Memang Dibuat untuk Menipu
Tantangan verifikasi sekarang juga semakin kompleks karena bukan hanya video lama yang dapat digunakan untuk menyesatkan.
Teknologi kecerdasan artifisial membuat materi audiovisual semakin mudah dibuat dan dimanipulasi.
Dalam Kajian Pemanfaatan Kecerdasan Artifisial dalam Komunikasi Pemerintah, Kementerian Komunikasi dan Digital membahas pemanfaatan teknologi generative AI untuk menghasilkan berbagai bentuk konten, termasuk gambar, suara, dan video. Kajian tersebut juga menyoroti risiko penyalahgunaan AI, termasuk pembuatan materi audiovisual yang terlihat realistis tetapi sebenarnya merupakan hasil rekayasa.
Artinya, persoalan kita ke depan bukan lagi sekadar membedakan video asli dengan video lama.
Kita juga harus siap menghadapi video yang sejak awal memang dibuat sebagai konten palsu.
Karena itu, sebuah video tidak cukup dinilai dari seberapa meyakinkan gambarnya. Kita tetap perlu memeriksa sumber, waktu, lokasi, serta konteks yang menyertainya.
Menunda Berbagi Juga Bentuk Tanggung Jawab
Pada akhirnya, persoalan terbesar bukan hanya soal apakah kita mampu menemukan video palsu, melainkan apakah kita mampu menahan diri untuk tidak ikut menyebarkannya.
Di media sosial, kecepatan sering dianggap sebagai keunggulan. Siapa yang paling cepat mengunggah atau membagikan informasi seolah menjadi yang paling tahu.
Padahal, dalam situasi sensitif seperti aksi demonstrasi, satu video yang salah konteks dapat memicu kesalahpahaman yang jauh lebih besar.
Karena itu, ketika sumber dan konteks sebuah foto atau video belum jelas, tidak ada salahnya menunda penyebaran.
Memeriksa sumber unggahan, mencermati detail visual, menggunakan pencarian gambar, dan membandingkan informasi dengan sumber lain merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan sebelum menekan tombol share.
Kita tidak harus menjadi ahli fact-checking untuk melakukan hal tersebut. Yang dibutuhkan hanyalah kebiasaan untuk berhenti sejenak dan bertanya. Benarkah ini terjadi seperti yang diklaim?
Di tengah derasnya informasi mengenai aksi demonstrasi, pertanyaan tersebut menjadi semakin penting.
Sebab, sebuah video tidak cukup dinilai hanya dari apakah rekamannya terlihat nyata. Kita perlu memastikan apakah waktu, lokasi, sumber, dan narasi yang menyertainya benar-benar sesuai dengan fakta yang tersedia.
Di era ketika siapa pun dapat menjadi penyebar informasi dan teknologi dapat membuat sesuatu yang palsu terlihat nyata, kemampuan paling penting bukanlah menjadi orang pertama yang membagikan sebuah video.
Melainkan menjadi orang yang tidak ikut menyebarkan sesuatu sebelum tahu kebenarannya.
Opini ini ditulis oleh M. Jamil Hamdani, reporter magang Numeralitera dari Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) UIN Raden Mas Said Surakarta.



No Comment! Be the first one.