Sukarela Menjaga Nyawa di Perlintasan Kereta
Ada banyak alasan seseorang memilih bertahan dalam sebuah pekerjaan. Gaji. Jabatan. Karier. Atau kebutuhan hidup. Tetapi bagi Suyamto, alasan terbesarnya jauh lebih sederhana yaitu membantu orang...
NUMLIT, SUKOHARJO — Saat sebagian orang seusianya mulai menikmati lebih banyak waktu untuk beristirahat, Suyamto justru masih harus berdiri di tepi rel setiap hari.
Table Of Content
Usianya sudah 74 tahun. Rambutnya memutih, tenaga tentu tak lagi seperti ketika muda. Namun, di sebuah perlintasan kereta api manual di Kudurejo, Sukoharjo, Jawa Tengah, ia masih menjalankan tugas yang sama yaitu memastikan warga tidak melintas ketika kereta api datang.
Bukan pekerjaan dengan seragam dan gaji tetap. Bukan pula pekerjaan yang ia jalani karena mengejar penghasilan besar.
Sudah sekitar tujuh tahun Suyamto menjalankan tugas tersebut secara sukarela.
Ia mulai menjaga perlintasan itu sejak 2019, setahun setelah kecelakaan terjadi di lokasi tersebut pada 2018. Kecelakaan itu melibatkan seorang tentara dan seorang ibu guru.
Pasca kejadian, perlintasan tersebut sempat direncanakan untuk ditutup. Namun, Suyamto memilih mengambil langkah berbeda.
Ia mengajukan diri untuk membantu menjaga perlintasan secara sukarela sesuai dengan kemampuannya. Sejak saat itu, ia tetap bertahan.
“Yang penting saya bisa membantu orang. Saya senang kalau bisa membantu, tidak melihat siapa yang lewat,” ujar Suyamto, Selasa (18/8/2026).
Kalimat sederhana itu menjadi alasan mengapa seorang pria berusia 74 tahun masih berdiri di tempat yang sama selama bertahun-tahun.
Bukan Sekadar Membuka dan Menutup Palang
Bagi orang yang melintas, pekerjaan Suyamto mungkin terlihat sederhana. Ketika kereta datang, palang ditutup. Setelah kereta lewat, palang dibuka kembali.

Namun bagi Suyamto, setiap gerakan palang membawa tanggung jawab yang jauh lebih besar. “Taruhannya nyawa,” katanya.
Ia memahami bahwa kesalahan sedikit saja dapat berakibat fatal. Karena itu, menjaga perlintasan bukan pekerjaan yang bisa dilakukan sambil lalu.
Setiap hari, perlintasan tersebut beroperasi sejak pukul 05.30 hingga 23.00 WIB. Penjagaan dibagi dalam dua shift, yakni pukul 05.30–14.00 WIB dan 14.00–23.00 WIB.
Dalam setiap shift terdapat dua orang penjaga yang bertugas secara bergiliran. Para warga sekitar juga ikut menjalankan piket sesuai jadwal.
Namun, di antara para penjaga tersebut, Suyamto menjadi satu-satunya orang yang secara tetap menjalankan tugas menjaga palang. Tujuh tahun berlalu, ia masih berada di sana.
Tak Digaji, Hidup dari Keikhlasan Pengguna Jalan
Pengabdian Suyamto memiliki sisi lain yang tak kalah menarik. Ia mengaku tidak menerima gaji dari PT Kereta Api Indonesia (KAI). Menurut penuturannya, perlintasan tersebut tidak diakui sebagai perlintasan resmi oleh PT KAI sehingga dirinya tidak mendapatkan upah sebagai penjaga dari perusahaan.
Padahal, menjaga palang menjadi satu-satunya pekerjaan yang ia jalani.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Suyamto mengandalkan pemberian seikhlasnya dari pengguna jalan. Uang tersebut biasanya diberikan melalui umplung, wadah yang disediakan di tengah jalan sebelum warga melintasi rel.
Selain itu, warga sekitar juga memberikan iuran sebesar Rp200.000 setiap bulan. Penghasilan tersebut tentu jauh dari kata besar. Namun, keterbatasan itu tidak membuat Suyamto meninggalkan posnya.
Ia tetap datang dan menjalankan tugasnya. Sebab, bagi Suyamto, ada sesuatu yang lebih penting daripada sekadar besaran uang yang diterimanya.
Tujuh Tahun Memilih Bertahan
Ada banyak alasan seseorang memilih bertahan dalam sebuah pekerjaan. Gaji. Jabatan. Karier. Atau kebutuhan hidup. Tetapi bagi Suyamto, alasan terbesarnya jauh lebih sederhana yaitu membantu orang lain.
Ia tidak mempersoalkan siapa yang melintas. Tidak membedakan warga yang memberikan uang atau tidak.
Selama masih mampu berdiri, ia ingin memastikan orang-orang yang melewati perlintasan tersebut dapat melintas dengan lebih aman.
Di usianya yang telah memasuki 74 tahun, tentu ada rasa lelah. Namun, rasa tanggung jawab membuatnya tetap bertahan.
Ia bahkan menyadari bahwa pekerjaan tersebut memiliki risiko hukum apabila terjadi kecelakaan di wilayah perlintasan. Konsekuensi itu tidak membuatnya mundur. Justru menjadi alasan baginya untuk semakin berhati-hati.
Menjaga Rel, Menjaga Kehidupan
Kisah Suyamto memperlihatkan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu hadir dalam bentuk pekerjaan dengan jabatan tinggi, seragam resmi, ataupun penghasilan besar.

Kadang-kadang, pengabdian hadir dalam sosok sederhana yang berdiri di pinggir rel. Setiap pagi. Setiap siang. Hingga malam.
Selama sekitar tujuh tahun, Suyamto memilih tetap berada di sana, menghadapi panas, lelah, dan risiko yang mungkin tidak selalu terlihat oleh orang-orang yang melintas.
Mereka mungkin hanya melihat palang yang turun dan kembali terangkat. Mereka mungkin hanya melihat seorang lelaki tua yang berdiri di dekat rel.
Tetapi di balik palang itu ada seseorang yang mempertaruhkan waktu, tenaga, dan keberaniannya agar orang lain bisa sampai ke tujuan dengan selamat.
Suyamto mungkin tidak memiliki jabatan besar. Ia juga tidak memiliki gaji tetap dari pekerjaan tersebut.
Namun, setiap kali palang turun tepat waktu dan kereta melintas tanpa membahayakan warga, ada satu bentuk keberhasilan yang tidak selalu tercatat dalam angka, yaitu keselamatan orang lain.
Dan selama ia masih mampu berdiri, Suyamto memilih untuk terus menjaganya. Bukan karena bayaran. Melainkan karena ia percaya bahwa membantu sesama adalah pekerjaan yang layak diperjuangkan.



No Comment! Be the first one.