Bukan Sekadar Juara, Zara dan Hafalan Al-Qur’an yang Membawanya Berani Tampil di Usia 9 Tahun
Bagi seorang anak yang masih duduk di kelas 3 SD, di balik gelar juara ada proses belajar, keberanian tampil, dan kepercayaan diri yang ikut tumbuh.
NUMLIT, KLATEN — Bagi sebagian anak kelas III sekolah dasar, berdiri di depan orang lain dan menunjukkan kemampuan yang dimiliki bukan perkara mudah. Ada rasa gugup, takut salah, hingga keinginan untuk kembali bermain bersama teman-teman.
Namun, hal berbeda ditunjukkan Zara Fatima Aulia, siswi kelas III SDN 01 Gunting, Kecamatan Wonosari, Klaten.
Pada Kamis (20/8/2026), Zara berdiri membawa kemampuan yang selama ini ia pelajari yaitu hafalan Al-Qur’an. Ia mewakili sekolahnya dalam ajang Musabaqah dan Seni Islami (MAPSI) tingkat Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, khususnya cabang Hifdzil Qur’an yang digelar di SDN 03 Duwet.
Dari ajang tersebut, Zara berhasil membawa pulang prestasi. Bagi seorang anak yang masih duduk di kelas III SD, pencapaian itu bukan hanya tentang sebuah gelar juara. Ada proses belajar, keberanian tampil, dan kepercayaan diri yang ikut tumbuh di baliknya.
Cabang Hifdzil Qur’an sendiri menguji kemampuan peserta dalam menghafal dan melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an. Kemampuan tersebut tidak dibangun dalam satu malam. Dibutuhkan ketekunan untuk mengingat ayat, menjaga hafalan, sekaligus mampu melafalkannya ketika berhadapan dengan peserta lain dalam sebuah perlombaan.
Prestasi Zara menjadi kabar membanggakan bagi SDN 01 Gunting. Guru SDN 01 Gunting, Lailatul Maghfiroh, melihat kegiatan MAPSI bukan semata-mata sebagai ajang untuk menentukan siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, perlombaan tersebut dapat menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenali kemampuan mereka sejak dini.
“Menurut saya kegiatan Lomba MAPSI ini merupakan kegiatan yang positif dan perlu diapresiasi. Dengan adanya lomba seperti ini, menjadi sarana untuk mengembangkan potensi dan bakat para peserta didik, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat untuk terus belajar dan berkembang,” ujar Lailatul.
Pandangan tersebut membuat prestasi Zara memiliki makna yang lebih luas. Di usia sekolah dasar, anak-anak tidak hanya membutuhkan ruang untuk belajar secara akademik. Mereka juga membutuhkan kesempatan untuk mencoba, tampil, mengalami kegagalan maupun keberhasilan, dan menemukan bidang yang mereka sukai.
MAPSI menjadi salah satu ruang tersebut. Melalui cabang Hifdzil Qur’an, anak-anak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan menghafal Al-Qur’an sekaligus membangun keberanian untuk menunjukkan kemampuan mereka di hadapan orang lain.
Bagi Zara, panggung perlombaan itu kemudian menjadi salah satu pengalaman penting dalam perjalanan belajarnya.
Dari Hafalan hingga Kepercayaan Diri
Lailatul mengatakan kegiatan MAPSI memiliki sejumlah manfaat bagi perkembangan peserta didik. Selain meningkatkan pemahaman agama Islam, kegiatan tersebut juga dapat menjadi sarana mengembangkan bakat seni dan membentuk karakter siswa yang berakhlak mulia.
Dengan demikian, prestasi yang diraih Zara tidak berdiri sendiri. Ada nilai pendidikan yang melekat di dalamnya. Bagaimana seorang anak belajar disiplin, mempersiapkan diri, kemudian memiliki keberanian untuk tampil dan mempertanggungjawabkan apa yang telah dipelajarinya.
Karena itu, Lailatul berharap kegiatan MAPSI dapat terus berlangsung dan menjadi ruang untuk menemukan sekaligus mengembangkan potensi anak-anak.
“Semoga lomba MAPSI ini akan terus ada dan bisa melahirkan generasi yang pandai, cerdas, berakhlak mulia, kreatif dan masih banyak lagi,” katanya.
MAPSI Kecamatan Wonosari sendiri tidak hanya mempertandingkan Hifdzil Qur’an. Sejumlah cabang lain turut memberikan ruang bagi peserta didik untuk menunjukkan kemampuan mereka, mulai dari azan dan ikamah, tilawatil Qur’an, cerita Islami, macapat Islami, khot Al-Qur’an, TIK Islami, wudhu dan salat, kaligrafi, khitobah, hingga duet lagu religi.
Beragamnya cabang tersebut menunjukkan bahwa kemampuan anak dapat tumbuh melalui banyak jalan.
Ada yang menemukan kepercayaan dirinya melalui suara azan. Ada yang mengekspresikan kreativitas melalui kaligrafi. Ada yang belajar berbicara melalui khitobah. Dan Zara menemukan salah satu ruangnya melalui hafalan Al-Qur’an.
Satu Prestasi, Sebuah Awal
Prestasi yang diraih Zara menjadi salah satu gambaran bahwa kompetisi di tingkat sekolah dasar dapat memiliki arti lebih dari sekadar mengejar piala.
Di balik sebuah kemenangan, terdapat proses pembelajaran yang memungkinkan anak mengenali potensinya sekaligus belajar berani tampil.
Hifdzil Qur’an juga memberikan pengalaman yang berbeda. Hafalan yang dimiliki bukan hanya diuji untuk memperoleh nilai, tetapi dapat menjadi bagian dari proses menumbuhkan kedekatan anak dengan Al-Qur’an.
Karena itu, keberhasilan Zara di MAPSI Kecamatan Wonosari diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah pencapaian dalam satu perlombaan. Prestasi tersebut dapat menjadi pijakan untuk terus belajar, mempertahankan hafalan, dan mengembangkan kemampuan lainnya.
Bagi teman-temannya di SDN 01 Gunting, kisah Zara juga menjadi pesan sederhana. Tidak ada kata terlalu dini untuk mulai berprestasi. Yang dibutuhkan adalah kesempatan, keberanian untuk mencoba, dan lingkungan yang memberikan dukungan. Sebab, seorang juara tidak selalu lahir dari panggung besar.
Kadang, ia tumbuh dari ruang kelas sekolah dasar, dari hafalan yang diulang berkali-kali, dari keberanian seorang anak untuk tampil, lalu perlahan menemukan bahwa kemampuan yang ia miliki ternyata bisa menjadi sesuatu yang membanggakan.
Dan bagi Zara, kemenangan di MAPSI mungkin bukan akhir dari perjalanan. Bisa jadi, ini baru awal dari perjalanan panjangnya bersama Al-Qur’an.



No Comment! Be the first one.