Tahun Ini 424 Mahasiswa Internasional dari 53 Negara Kuliah di UGM
Kehadiran mahasiswa internasional dari puluhan negara memperlihatkan semakin terbukanya lingkungan akademik UGM bagi komunitas global.
NUMLIT, JOGJA — Bagi 424 mahasiswa dari 53 negara, memasuki lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta bukan sekadar memulai perjalanan akademik. Mereka juga memasuki ruang yang mempertemukan beragam budaya, pengalaman, cara berpikir, dan perspektif dari berbagai penjuru dunia.
Ratusan mahasiswa internasional tersebut mengikuti PIONEER (Program for International Orientation and New-student Empowerment to Enhance Readiness), program orientasi mahasiswa internasional baru UGM yang resmi dibuka di Grha Sabha Pramana UGM, Rabu (26/8/2026).
Kehadiran mahasiswa dari puluhan negara tersebut sekaligus memperlihatkan semakin terbukanya lingkungan akademik UGM bagi komunitas global. Mereka datang melalui beragam program, baik program bergelar maupun non-gelar, mulai jenjang sarjana, magister, hingga doktoral.
Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pengajaran Prof. Dr. Wening Udasmoro mengatakan keberadaan mahasiswa internasional menjadi salah satu kekuatan penting dalam membangun lingkungan akademik yang lebih terbuka terhadap perspektif global.
“Mahasiswa asing membawa perspektif baru, pengalaman, ide-ide, dan pertemanan yang membuat kampus semakin terhubung secara global,” ujarnya dikutip dari laman resmi UGM.
Menurut Wening, keberagaman tersebut bukan sekadar angka dalam statistik mahasiswa internasional. Interaksi antara mahasiswa dari berbagai latar belakang justru dapat memperkaya pengalaman belajar di dalam maupun di luar ruang kelas.
Karena itu, PIONEER tidak hanya diarahkan untuk mengenalkan fasilitas dan lingkungan akademik UGM. Program tersebut juga menjadi pintu awal bagi mahasiswa internasional untuk memahami karakter kampus, budaya Yogyakarta, sekaligus beradaptasi dengan kehidupan di Indonesia.

UGM juga memiliki sejumlah jalur yang mempertemukan mahasiswa internasional dengan lingkungan akademik dan budaya Indonesia, termasuk program pertukaran mahasiswa serta Indonesian Language and Culture Learning Service (INCULS).
“Harapannya, waktu kalian di UGM bermakna di ranah akademik, pribadi, serta berkesan secara budaya. Selamat datang di keluarga besar UGM, semoga kalian mendapat pengalaman luar biasa dan meraih sukses dalam perjalanan ke depan,” kata Wening.
Belajar UGM, Sekaligus Mengenal Yogyakarta
Memasuki lingkungan baru dengan latar budaya yang berbeda tentu bukan perkara sederhana. Karena itu, pengenalan terhadap Yogyakarta menjadi bagian penting dalam rangkaian orientasi mahasiswa internasional tersebut.
Dosen UGM I Made Andi Arsana, Ph.D., mengajak para mahasiswa mengenal Yogyakarta tidak hanya sebagai kota tempat mereka menempuh pendidikan, tetapi juga sebagai ruang yang memiliki sejarah dan filosofi kuat.
Ia memperkenalkan Sumbu Filosofis Yogyakarta yang menggambarkan perjalanan kehidupan manusia, sekaligus sejumlah tempat bersejarah dan destinasi yang dapat membantu mahasiswa memahami lingkungan sosial dan budaya tempat mereka tinggal selama menjalani studi.
Namun, mengenal UGM bagi mahasiswa internasional juga berarti memahami nilai yang menjadi identitas universitas tersebut.
Andi menjelaskan lima identitas UGM, yakni universitas perjuangan, universitas nasional, universitas Pancasila, universitas kerakyatan, dan pusat kebudayaan.
Sebagai universitas perjuangan, misalnya, UGM memiliki sejarah panjang dalam perjalanan bangsa sekaligus menjadi ruang bagi sivitas akademika untuk menyampaikan pendapat.
“Di UGM kebebasan berpendapat diperbolehkan seperti adanya gerakan demonstrasi selama dilaksanakan sesuai aturan,” jelasnya.
Sementara sebagai universitas Pancasila, UGM menempatkan keberagaman sebagai bagian penting kehidupan kampus. Hal tersebut antara lain tercermin dari keberadaan pusat-pusat keagamaan bagi berbagai agama yang memungkinkan mahasiswa dari latar belakang berbeda hidup dan belajar dalam satu lingkungan.
Nilai kerakyatan juga diperkenalkan melalui tradisi pengabdian kepada masyarakat. Andi menjelaskan, sejak awal berdirinya, UGM telah memiliki tradisi mengirim mahasiswa ke berbagai daerah untuk belajar sekaligus membantu masyarakat.
Tradisi tersebut kemudian berkembang melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), yang mempertemukan mahasiswa dengan kehidupan masyarakat secara langsung.
Dengan demikian, mahasiswa internasional tidak hanya diperkenalkan pada gedung, fasilitas, dan sistem akademik. Mereka juga diajak memahami nilai yang diharapkan melekat pada setiap lulusan UGM.
“Ini bukan hanya tentang pembelajaran, tetapi dampak nyata terhadap dunia. Hal terpenting adalah tentang kesuksesan diri sendiri dan juga bersama,” ujarnya.
Datang untuk Belajar, Pulang Membawa Perubahan
Bagi mahasiswa internasional, pengalaman belajar di UGM juga membuka kesempatan untuk membawa pengetahuan dan pengalaman tersebut kembali ke negara asal.
Rapolas, mahasiswa asal Lithuania, Eropa, menjadi salah satu mahasiswa internasional yang antusias memulai studinya di UGM.
Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, ia mengaku tertarik mengeksplorasi berbagai mata kuliah, khususnya yang berkaitan dengan perfilman. Ia berharap proses belajar di UGM tidak hanya berlangsung melalui materi perkuliahan, tetapi juga melalui interaksi yang menarik bersama para dosen.
Rapolas juga melihat Indonesia sebagai tempat yang menarik untuk dijelajahi. Selama berada di Yogyakarta, ia ingin mengenal lebih banyak tempat dan pengalaman baru di Indonesia.
Namun, ada tujuan yang lebih besar setelah perjalanan akademiknya berakhir.
Ia berharap ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama berada di UGM dapat dibawa pulang dan diterapkan untuk memberikan kontribusi bagi perkembangan negaranya.
“Harapannya ingin kembali dengan membawa perubahan dan pertumbuhan baik ke negara asal,” ucapnya.
Kisah Rapolas menjadi gambaran bahwa mobilitas mahasiswa internasional tidak berhenti pada perpindahan seseorang dari satu negara ke negara lain. Ada pengetahuan, pengalaman, jejaring, dan perspektif yang ikut bergerak bersamanya.
Begitu pula dengan kehadiran 424 mahasiswa dari 53 negara di UGM. Mereka bukan hanya datang sebagai mahasiswa asing yang belajar di Yogyakarta, tetapi juga menjadi bagian dari proses pertukaran pengetahuan dan budaya yang membuat batas-batas kampus semakin terbuka.
Di tengah persaingan pendidikan tinggi yang semakin global, keberagaman tersebut menjadi modal penting. Kampus tidak lagi hanya menjadi tempat orang belajar dari dosen, tetapi juga ruang untuk belajar dari sesama manusia yang datang dari berbagai penjuru dunia. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.