Dari HARFEST ke Pasar Lebih Luas, Diwa Foundation Siapkan Kolaborasi Sulaman Gorontalo dan Batik
D’Khatulistiwa, galeri wastra di bawah naungan Diwa Foundation, mendapat undangan khusus dalam rangkaian kegiatan HARFEST 2026 yang berlangsung pada Jumat-Minggu (11–13/9/2026).
Founder Diwa Foundation, Diah Warih Anjari (kiri) menyerahkan nota kesepakatan kerja sama antara D'Khatulistiwa dan UMKM Olami Gorontalo dalam acara pembukaan Hulonthalo Art and Craft Festival (HARFEST) 2026 Gorontalo, Sabtu (12/9/2026), yang dipersembahkan Bank Indonesia bekerja sama dengan Pemprov Gorontalo dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Gorontalo. (istimewa) NUMLIT, GORONTALO — Sebuah kain tidak hanya menyimpan motif dan warna. Di dalamnya ada keterampilan, identitas budaya, sekaligus peluang ekonomi bagi orang-orang yang mengerjakannya.
Potensi itulah yang dilihat Diwa Foundation ketika menghadiri Hulonthalo Art & Craft Festival (HARFEST) 2026 di Kota Gorontalo, Jumat-Minggu (11–13/9/2026).
Dari ajang yang mempertemukan pelaku UMKM, perajin, pemerintah, dan mitra strategis tersebut, muncul gagasan untuk membawa wastra Gorontalo ke ruang kreasi yang lebih luas melalui kolaborasi dengan batik.
Founder Diwa Foundation Diah Warih Anjari mengatakan pihaknya membuka peluang kerja sama dengan salah satu UMKM di Gorontalo sebagai langkah awal membangun kolaborasi yang lebih berkelanjutan.
“Kami akan melakukan kerja sama dengan salah satu UMKM yang ada di Gorontalo. Ini merupakan sebuah apresiasi dari kami dan kami juga mengucapkan terima kasih atas undangan tersebut,” kata Diah, Sabtu (12/9/2026).
Bagi Diah, HARFEST 2026 bukan sekadar agenda pameran. Pertemuan dengan pelaku usaha dan perajin justru menjadi kesempatan untuk melihat langsung potensi produk lokal sekaligus mencari kemungkinan pengembangan yang dapat dilakukan bersama.
“Harapan kami bukan hanya berhenti di sini saja. Harfest ini merupakan sesuatu yang menarik buat saya untuk kita mengambil peran sebagai partner dan kolaborasi,” ujarnya.
Salah satu potensi yang menarik perhatian Diwa Foundation adalah sulaman khas Gorontalo, termasuk Karawo, yang memiliki karakter kuat sebagai bagian dari kekayaan wastra daerah.

Diah melihat sulaman tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk dengan nilai ekonomi dan pasar yang lebih luas. Salah satu gagasan yang sedang disiapkan adalah mempertemukan karakter sulaman Gorontalo dengan batik dalam sebuah karya desain baru.
“Bagaimana batik akan kita kreasikan di atas sulaman. Artinya, sulaman bisa berpadu dengan batik. Ini hal yang menarik bagi saya karena menjadi sebuah inovasi dalam satu karya desain baru yang akan kami launching ke depan,” jelasnya.
Perpaduan tersebut sekaligus membuka kemungkinan baru dalam pengembangan produk. Sulaman Gorontalo tidak hanya dipertahankan sebagai karya tradisional, tetapi diberi ruang untuk bertemu dengan elemen wastra dari daerah lain sehingga menghasilkan desain yang memiliki identitas berbeda.
Bagi Diwa Foundation, pendekatan semacam itu penting karena Indonesia memiliki kekayaan wastra yang sangat beragam. Tantangannya bukan hanya menjaga agar warisan tersebut tetap ada, tetapi juga membuatnya terus hidup, berkembang, dan memiliki nilai ekonomi bagi para pelaku yang berada di dalam ekosistemnya.
“Kita melihat pangsa pasar. Indonesia ini memiliki banyak warisan Nusantara atau wastra yang harus kita jaga,” tutur Diah.
Ia menilai kolaborasi lintas daerah dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga warisan tersebut sekaligus membuka ruang inovasi.
“Wastra ini menjadi sebuah karya dan karya ini sebagai karya anak bangsa. Anak bangsa bisa bekerja sama lintas provinsi. Ini merupakan suatu kekayaan yang luar biasa,” pungkasnya.
HARFEST Mempertemukan UMKM dan Pasar
Rencana kolaborasi tersebut berawal dari kehadiran Diwa Foundation dalam rangkaian HARFEST 2026 yang digelar Bank Indonesia Provinsi Gorontalo bersama Pemerintah Provinsi Gorontalo dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Gorontalo.
D’Khatulistiwa, galeri wastra di bawah naungan Diwa Foundation, mendapat undangan khusus dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung pada Jumat-Minggu (11–13/9/2026). Founder Diwa Foundation Diah Warih Anjari hadir langsung dalam kegiatan yang dipusatkan di Grand Palace Convention Center (GPCC), Kota Gorontalo.
HARFEST 2026 tidak hanya menampilkan produk kerajinan dan wastra. Festival tersebut juga mempertemukan pelaku UMKM dengan konsumen dan calon mitra melalui berbagai kegiatan, termasuk festival kuliner dan business matching.
Sekitar 75 UMKM kuliner, termasuk pelaku street food di kawasan Jalan Andalas, terlibat dalam Festival Kuliner. Sementara pameran HARFEST melibatkan 165 UMKM binaan Bank Indonesia.
Diah menilai format semacam ini penting karena pelaku usaha tidak hanya mendapatkan ruang promosi, tetapi juga kesempatan bertemu langsung dengan calon konsumen maupun mitra.
“Baik produsen, perajin, UMKM dan konsumen seperti kami bisa bertemu langsung dan bertatap muka dalam forum ini. Tentu saja ajang Harfest 2026 ini penting dan wajib kita hadiri. Jauh tidak menjadi masalah bagi kami,” terang Diah.
Dari pertemuan tersebut, ia berkomitmen untuk terus membangun hubungan dengan para pemangku kepentingan dan perajin di Gorontalo.
Gorontalo Dorong Wastra dan UMKM Naik Kelas
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo Bambang Satya Permana mengatakan Festival Kuliner merupakan bagian dari rangkaian HARFEST yang diselenggarakan secara kolaboratif bersama pemerintah daerah, Dekranas, dan berbagai mitra strategis.
“Kegiatan festival kuliner ini adalah satu dari bagian rangkaian Gorontalo Art & Craft Festival, satu event besar tahunan yang kami selenggarakan secara kolaboratif dengan pemerintah provinsi, pemerintah kota dan kabupaten, Dekranas provinsi maupun kota dan kabupaten serta seluruh mitra strategis,” ujar Bambang.
Menurut Bambang, HARFEST menjadi momentum untuk memperkenalkan berbagai potensi ekonomi kreatif dan komoditas unggulan Gorontalo. Salah satunya kopi Liberika yang telah memenuhi cupping score sebagai kopi spesialti dan berpeluang masuk pasar ekspor.
Di sektor wastra, Gorontalo juga tengah mendorong pengembangan tenun yang dapat dipadukan dengan sulaman Karawo.
“Gorontalo tidak hanya dikenal dengan Karawo, namun ke depan Gorontalo juga punya tenun yang akan dipadukan dengan sulaman Karawo,” katanya.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan wastra tidak berhenti pada upaya mempertahankan produk tradisional. Ada dorongan untuk mempertemukan keterampilan lokal dengan desain, inovasi, dan kebutuhan pasar.
Hal senada disampaikan Wakil Wali Kota Gorontalo Indra Gobel. Ia menilai sektor UMKM, khususnya kuliner dan kriya, memiliki posisi penting dalam perekonomian masyarakat Kota Gorontalo.
“Sektor UMKM, khususnya bidang kuliner dan kriya, merupakan tulang punggung perekonomian masyarakat di Kota Gorontalo,” ujar Indra.
Menurut dia, Festival Kuliner HARFEST 2026 bukan hanya menjadi ruang promosi dan apresiasi, tetapi juga sarana untuk memperluas akses pasar dan membuka kesempatan bagi UMKM lokal agar semakin dikenal.
“Kegiatan ini tidak hanya sekadar ajang promosi dan apresiasi, tetapi juga menjadi sarana strategis untuk memperluas akses pasar, membuka ruang bagi UMKM lokal agar lebih dikenal secara luas,” jelasnya.
Dari sinilah HARFEST menemukan maknanya yang lebih luas. Pertemuan antara UMKM lokal dan mitra dari luar daerah dapat menjadi awal dari kerja sama baru.
Bagi Diwa Foundation, salah satu peluang itu kini mengarah pada sulaman Gorontalo dan batik.
Jika gagasan tersebut terealisasi, kolaborasi itu bukan sekadar mempertemukan dua jenis kain. Lebih jauh, ia mempertemukan dua kekuatan yaitu warisan budaya dan inovasi pasar.
Dari tangan perajin Gorontalo, sulaman lokal berpeluang menemukan bentuk baru. Dari kolaborasi lintas daerah, wastra Nusantara mendapat kesempatan untuk terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.
Dan, dari sebuah pertemuan di HARFEST, peluang itu mulai menemukan jalannya. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.