Bukan Sekadar Kumpul Ekskul, WIKA SMAN 2 Surakarta Mulai Kerjakan Proyek Jurnalistik Tiap Divisi
Kegiatan WIKA tidak berhenti pada proses belajar teori jurnalistik. Anggota mulai dilatih untuk memiliki tanggung jawab terhadap pekerjaan, mengatur proses pengerjaan, serta menyelesaikan tugas...
Para peserta ekstrakurikuler jurnalistik WIKA SMAN 2 Surakarta menyimak arahan Herlina Perdanawati, guru pembina, pada kegiatan ekstrakurikuler, Selasa (1/9/2029). (dok WIKA SMAN 2 Surakarta) NUMLIT, SURAKARTA — Suasana kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik Wijaya Kusuma (WIKA) SMAN 2 Surakarta pada Selasa (1/9/2026) tidak diisi dengan sekadar berkumpul dan menerima materi. Para anggota langsung bergerak ke kelompok masing-masing untuk mengerjakan proyek yang telah ditentukan.
Setelah berkumpul sesuai divisi, anggota WIKA mulai berdiskusi mengenai pekerjaan yang harus diselesaikan. Masing-masing divisi membahas pembagian tugas sekaligus menentukan langkah yang perlu dilakukan untuk menuntaskan proyek mereka.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses belajar anggota WIKA untuk bekerja secara lebih terarah dalam sebuah organisasi jurnalistik sekolah.
Alih-alih seluruh anggota mengerjakan tugas yang sama, sebagian besar proyek diberikan secara individu. Setiap anggota bertanggung jawab menyelesaikan bagian pekerjaan masing-masing sesuai tugas yang telah disepakati.
“Hari ini anak-anak belajar mandiri menyelesaikan penugasan sebelumnya,” ujar Herlina Perdanawati, guru pembina ekstrakurikuler jurnalistik SMAN 2 Surakarta.

Pola tersebut membuat kegiatan WIKA tidak berhenti pada proses belajar teori jurnalistik. Anggota mulai dilatih untuk memiliki tanggung jawab terhadap pekerjaan, mengatur proses pengerjaan, serta menyelesaikan tugas sesuai peran dalam divisi.
Setiap Divisi Punya Peran Berbeda
Pembagian anggota berdasarkan divisi membuat proses pengerjaan proyek berlangsung dengan pola yang berbeda-beda.
Anggota dari masing-masing divisi terlebih dahulu melakukan diskusi untuk menentukan apa saja yang perlu dikerjakan. Setelah itu, mereka mulai mengerjakan tugas sesuai tanggung jawab masing-masing.
Sebagian anggota mengerjakan proyek secara mandiri karena tugas yang diberikan bersifat individual.
Namun, pola berbeda terlihat pada divisi radio. Berbeda dengan sebagian divisi lainnya, anggota radio mengerjakan proyek secara bersama-sama. Mereka berkoordinasi dalam satu tim untuk menyelesaikan pekerjaan yang telah ditentukan.
Perbedaan pola kerja tersebut sekaligus memberikan pengalaman kepada anggota bahwa produksi karya jurnalistik tidak selalu dilakukan dengan cara yang sama.
Ada pekerjaan yang membutuhkan kemandirian dan tanggung jawab personal. Ada pula pekerjaan yang menuntut koordinasi dan kekompakan tim.
Belajar Bertanggung Jawab terhadap Karya
Kegiatan WIKA pada hari itu berlangsung dengan lancar. Setiap anggota mengikuti proses sesuai tugas dan tanggung jawab yang telah ditentukan.
Meskipun terbagi dalam divisi yang berbeda, seluruh anggota tetap memiliki tujuan yang sama, yakni menyelesaikan proyek masing-masing dengan baik.

Bagi sebuah ekskul jurnalistik, proses seperti ini menjadi bagian penting dari pembelajaran. Dunia jurnalistik tidak hanya membutuhkan kemampuan menulis atau menghasilkan karya, tetapi juga kemampuan bekerja dalam tim, berkomunikasi, membagi pekerjaan, dan bertanggung jawab terhadap hasil.
Karena itu, kegiatan WIKA pada 1 September 2026 dapat menjadi gambaran bagaimana kegiatan ekstrakurikuler tersebut mulai membangun pola kerja berbasis proyek.
Anggota tidak hanya datang untuk belajar. Mereka mulai mengerjakan, berdiskusi, berbagi peran, dan menghasilkan karya.
Dari ruang-ruang divisi itulah proses belajar jurnalistik berlangsung secara langsung. Satu proyek demi satu proyek, dengan setiap anggota belajar memahami bahwa sebuah karya yang baik selalu membutuhkan proses dan tanggung jawab.
Berita ini ditulis oleh wartawan siswa, Khaliluna Almaghvira Guhanzha, siswa kelas X-E5 SMAN 2 Surakarta.



No Comment! Be the first one.