Api Tak Pernah Mengenal Niat
Opini ini ditulis oleh M. Jamil Hamdani, reporter magang Numeralitera dari Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) UIN Raden Mas Said Surakarta.
NUMLIT, SURAKARTA — Kemarau datang bersama panas, tanah yang mengering, rerumputan yang menguning, dan udara yang terasa lebih menyengat. Semua itu merupakan bagian dari siklus alam yang tidak bisa kita hentikan.
Table Of Content
Tetapi ada satu hal yang sebenarnya bisa kita cegah. Membiarkan kondisi kering bertemu dengan kelalaian manusia.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang tercantum dalam Portal Data Bencana Indonesia menunjukkan hingga saat ini terdapat 1.764 kejadian bencana di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 651 kejadian merupakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Angka itu menjadi yang tertinggi dibandingkan jenis bencana lainnya. Banjir tercatat 548 kejadian, cuaca ekstrem 324 kejadian, kekeringan 106 kejadian, tanah longsor 105 kejadian, gelombang pasang dan abrasi 14 kejadian, gempa bumi 13 kejadian, serta erupsi gunung api tiga kejadian. Sementara tsunami tercatat nol kejadian.
Jika dibandingkan dengan keseluruhan 1.764 kejadian, karhutla menyumbang sekitar 36,9 persen.
Angka tersebut seharusnya tidak sekadar menjadi statistik dalam sebuah portal data. Ia semestinya menjadi alarm.
Sebab ketika lebih dari sepertiga kejadian bencana dalam data tersebut berupa karhutla, kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa musim kemarau memang identik dengan kebakaran.
Pertanyaan yang lebih penting justru mengapa setiap kali lingkungan mengering, kewaspadaan kita terhadap api tidak ikut meningkat?
Api Tidak Mengenal Niat Baik
Selama ini, pembicaraan mengenai pencegahan kebakaran sering berhenti pada imbauan klasik, “jangan membuang puntung rokok sembarangan”.
Tentu itu penting. Namun sumber risiko tidak berhenti di sana. Ada kebiasaan lain yang juga perlu diperiksa kembali, salah satunya membakar sampah.
Api yang dinyalakan untuk menghabiskan tumpukan sampah mungkin terlihat kecil dan terkendali. Tetapi situasinya bisa berubah ketika angin bertiup. Di lingkungan yang kering, rerumputan, daun, ranting, atau material lain yang mudah terbakar dapat menjadi jalan bagi api untuk bergerak lebih jauh.
Hal serupa terjadi ketika masyarakat membakar sisa tanaman atau membersihkan lahan dengan api.
Tujuannya mungkin bukan membuat kebakaran. Niat awalnya bisa saja sederhana yaitu membersihkan halaman, mengurangi tumpukan sampah, atau menghilangkan sisa tanaman. Tetapi api tidak mengenal niat. Api hanya mengenal bahan bakar, panas, oksigen, dan kondisi di sekitarnya.
Api yang awalnya digunakan untuk membakar sampah dapat merambat ke lahan. Api untuk membersihkan sisa tanaman dapat menyebar ketika tertiup angin. Bara yang dianggap telah mati dapat kembali menyala ketika bertemu material yang mudah terbakar.
Karena itu, kewaspadaan sebenarnya harus dimulai sebelum api dinyalakan, bukan setelah api mulai membesar.
Kemarau Bukan Penyebab Tunggal
Kita sering menggunakan kalimat “karena musim kemarau” untuk menjelaskan kebakaran. Padahal, kemarau sendiri tidak menyalakan api.
Panas dan kondisi kering memang membuat lingkungan lebih mudah terbakar. Tetapi tetap diperlukan sumber api untuk memulai sebuah kebakaran. Di sinilah perilaku manusia menjadi penting.
Kemarau seharusnya justru menjadi musim untuk meningkatkan disiplin. Ketika rumput mengering, daun menumpuk, dan kelembapan lingkungan menurun, aktivitas yang menggunakan api harus dilakukan dengan kewaspadaan lebih tinggi.
Bahkan ketika api terlihat sudah padam, pekerjaan belum tentu selesai. Bara harus dipastikan benar-benar mati sebelum lokasi ditinggalkan. Area di sekitar sumber api juga perlu diperiksa untuk memastikan tidak ada material yang masih berpotensi terbakar.
Sebab kebakaran besar tidak selalu dimulai dari api yang besar. Kadang ia bermula dari bara kecil yang dianggap sepele.
Informasi Cuaca Harus Menjadi Dasar Bertindak
Dalam situasi seperti ini, informasi mengenai cuaca dan musim bukan sekadar informasi untuk mengetahui apakah hari ini akan panas atau hujan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara berkala menyampaikan informasi mengenai kondisi cuaca dan musim sebagai bagian dari upaya meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai dampak kondisi cuaca dan iklim.
Informasi tersebut seharusnya menjadi salah satu pertimbangan sebelum masyarakat melakukan aktivitas yang berkaitan dengan api.
Ketika lingkungan sangat kering dan angin cukup kencang, misalnya, keputusan paling bijak bukan mencari cara agar pembakaran tetap dilakukan, melainkan mempertimbangkan untuk menundanya atau menggunakan metode lain yang lebih aman.
Di sisi lain, BNPB melalui berbagai informasi kebencanaan juga terus mendorong peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana, termasuk kebakaran hutan dan lahan. Artinya, informasi dan peringatan sebenarnya tersedia. Tantangannya adalah bagaimana informasi tersebut diterjemahkan menjadi perilaku.
Jangan Biarkan Kemarau Menjadi Musim Kebakaran
Kemarau sering datang dengan panas yang menyengat, tanah yang mengering, dan vegetasi yang kehilangan kelembapannya. Namun, kemarau tidak pernah dengan sendirinya menyalakan api. Api membutuhkan pemicu. Dan dalam banyak kasus, pemicu itu justru datang dari cara manusia memperlakukan api.
Karena itu, kebakaran di musim kemarau tidak semestinya hanya dipandang sebagai konsekuensi alam yang sulit dihindari. Ada bagian dari persoalan yang sebenarnya bisa dicegah, terutama ketika api digunakan secara sembarangan atau bara yang tersisa dibiarkan begitu saja.
Di musim hujan, bara kecil mungkin lebih cepat padam karena lingkungan masih lembap. Situasinya berbeda ketika memasuki periode kering. Daun, rumput, ranting, dan material mudah terbakar lainnya berada dalam kondisi yang jauh lebih rentan. Bara yang tampak kecil pun dapat berubah menjadi sumber api ketika tertiup angin.
Di sinilah pentingnya mengubah cara kita memandang api. Membakar sampah bukan sekadar persoalan apakah api terlihat besar atau kecil. Membakar sisa tanaman juga bukan persoalan apakah bara tampak sudah mati. Yang perlu dipastikan adalah apakah api benar-benar padam dan tidak menyisakan bara yang dapat kembali menyala. Sebab, api tidak mengenal niat.
Seseorang mungkin hanya bermaksud membakar beberapa lembar daun. Orang lain mungkin hanya ingin membersihkan halaman dengan membakar sampah. Ada pula yang membuang puntung rokok tanpa berpikir panjang. Namun, api tidak memahami bahwa niat awalnya sederhana. Ketika bertemu material kering dan angin, api hanya mengikuti sifatnya yaitu menyebar.
Karena itu, pencegahan kebakaran seharusnya dimulai jauh sebelum petugas pemadam kebakaran datang.
Pemerintah memang memiliki tanggung jawab besar melalui BNPB, BPBD, pemadam kebakaran, maupun lembaga terkait lainnya. Namun, masyarakat merupakan pihak yang paling dekat dengan sumber-sumber risiko tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakatlah yang berada di halaman rumah, kebun, lahan kosong, pinggir jalan, maupun lingkungan tempat sampah dibakar. Artinya, masyarakat juga memiliki posisi penting sebagai garda pertama pencegahan kebakaran.
Langkahnya sebenarnya sederhana. Jangan membuang puntung rokok di kawasan kering. Jika harus membakar sesuatu, lakukan dengan pengawasan dan hindari pembakaran ketika kondisi sangat kering atau berangin. Pastikan seluruh api dan bara benar-benar padam setelah pembakaran. Dan ketika melihat api yang mulai tidak terkendali, jangan menunggu sampai membesar untuk melaporkannya.
Persoalannya bukan apakah tindakan tersebut terlihat sepele. Justru karena terlihat sepele, sering kali orang mengabaikannya. Padahal, pencegahan bencana sering kali memang dimulai dari keputusan-keputusan kecil.
Data BNPB seharusnya membuat kita bertanya: berapa banyak kejadian kebakaran yang sebenarnya dapat dicegah jika masyarakat lebih berhati-hati terhadap api? Pertanyaan itu penting karena tidak semua kebakaran harus diterima sebagai sesuatu yang tidak terhindarkan.
Kemarau adalah bagian dari siklus alam. Cuaca panas adalah kondisi yang harus kita hadapi. Informasi mengenai musim dan cuaca yang disediakan BMKG membantu kita memahami kapan risiko lingkungan meningkat.
Tetapi kelalaian manusia bukan bagian dari siklus alam. Kita tidak bisa menghentikan kemarau. Kita tidak bisa mengatur kapan angin bertiup atau kapan hujan turun. Namun, kita bisa memilih untuk tidak menambah risiko dengan membuang puntung rokok sembarangan, membakar sampah tanpa pengawasan, atau meninggalkan bara api dalam kondisi yang belum benar-benar aman.
Karena itu, jangan biarkan kemarau berubah menjadi musim kebakaran. Kemarau boleh datang. Panas boleh menyengat. Tetapi kelalaian tidak boleh ikut menjadi musim.
Opini ini ditulis oleh M. Jamil Hamdani, reporter magang Numeralitera dari Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) UIN Raden Mas Said Surakarta.



No Comment! Be the first one.