Bersaing dengan 19 Negara, Mahasiswa FT UNS Borong Penghargaan di Singapura
Keikutsertaan mahasiswa FT UNS menunjukkan pentingnya pengalaman belajar yang mempertemukan mahasiswa dengan ekosistem inovasi dan kewirausahaan global.
NUMLIT, SURAKARTA – Empat mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (FT UNS) Surakarta tak hanya membawa nama kampus ke panggung internasional.
Di tengah persaingan peserta dari 19 negara, mereka berhasil membuktikan kemampuan dalam mengembangkan ide inovasi dan kewirausahaan hingga meraih sejumlah penghargaan dalam NUS Enterprise Summer Programme in Entrepreneurship 2026 di Singapura.
Program yang digelar National University of Singapore (NUS) pada 6–17 Juli 2026 tersebut mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara untuk belajar sekaligus mengembangkan solusi atas persoalan nyata melalui pendekatan kewirausahaan dan inovasi.
Empat mahasiswa FT UNS yang berpartisipasi adalah Amersya Suphaira dan Anindya Ardhaneswari dari Program Studi Arsitektur angkatan 2023, serta Amajida Ar Syifa dari Teknik Industri angkatan 2023 dan Nada Nadhifah dari Teknik Industri angkatan 2024.

Bukan sekadar mengikuti kelas, keempat mahasiswa tersebut harus berhadapan dengan tantangan nyata dalam tim multinasional.
Mereka dituntut mengidentifikasi persoalan, memvalidasi kebutuhan pengguna, menyusun model bisnis, hingga mempresentasikan solusi di hadapan mentor, investor, dan praktisi industri dalam sesi Demo Day.
Hasilnya, delegasi FT UNS berhasil membawa pulang sejumlah penghargaan.
Amajida Ar Syifa meraih Best Pitching Award (Track 3) sekaligus Best Pitch Deck for Problem Statement dari Zhou and Eesley Foundation.
Sementara itu, Nada Nadhifah meraih Best Pitch Deck for Problem Statement dari Huawei, sedangkan Anindya Ardhaneswari memperoleh penghargaan serupa dari ShopBack.
Prestasi tersebut menjadi capaian menarik karena para mahasiswa FT UNS harus berkompetisi dan berkolaborasi dengan peserta dari 19 negara, yakni Bangladesh, Brunei Darussalam, Kamboja, Kanada, Tiongkok, Jerman, Yunani, India, Indonesia, Italia, Jepang, Kazakhstan, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Swedia, Thailand, dan Vietnam.
Keberagaman latar belakang peserta justru menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Para mahasiswa dituntut mampu bertukar perspektif, memahami perbedaan budaya, serta bekerja sama dalam tim untuk menghasilkan solusi yang relevan.
Pengalaman tersebut diperkuat dengan materi pembelajaran yang mencakup ASEAN startup ecosystem, business model innovation, social innovation, branding and go-to-market strategy, artificial intelligence, corporate sustainability, fundraising, hingga pitching and storytelling.
Peserta juga mendapatkan kesempatan mengikuti company learning journey ke sejumlah perusahaan teknologi dan startup global, seperti Grab, Google, Huawei, Alibaba Cloud, ShopBack, Changi Airport Group, dan NCS.
Melalui kunjungan tersebut, peserta dapat melihat secara langsung bagaimana perusahaan mengembangkan inovasi, memanfaatkan teknologi, serta menjalankan transformasi digital dalam skala global.
Bagi Amajida, pengalaman paling berharga dari program tersebut justru terletak pada kesempatan untuk menguji pengetahuan secara langsung di lingkungan internasional.
“Program ini memberikan pengalaman yang sangat berharga karena saya dapat belajar langsung dari para founder, investor, dan praktisi startup, sekaligus bekerja dalam tim multinasional untuk menyelesaikan permasalahan nyata,” ujarnya, dikutip dari laman resmi FT UNS, Selasa (28/7/2026).
Penghargaan yang diraihnya, menurut Amajida, menjadi motivasi untuk terus mengembangkan kemampuan di bidang inovasi dan kewirausahaan.
“Saya berharap semakin banyak mahasiswa UNS yang berani mengambil kesempatan belajar di tingkat internasional,” katanya.
Pengalaman serupa dirasakan Anindya Ardhaneswari. Menurut dia, program tersebut memberikan pemahaman bahwa inovasi tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan ide.
“Inovasi tidak hanya bergantung pada ide yang baik, tetapi juga pada kemampuan memahami kebutuhan pengguna, menyusun model bisnis, dan menyampaikan solusi secara meyakinkan,” jelasnya.

Penghargaan yang diterimanya dari ShopBack menjadi pengalaman membanggakan sekaligus dorongan untuk terus mengembangkan kemampuan dalam bidang inovasi dan desain.
Keikutsertaan mahasiswa FT UNS dalam program tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya pengalaman belajar yang mempertemukan mahasiswa dengan ekosistem inovasi dan kewirausahaan global.
Melalui pendekatan experiential learning, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan dari ruang kelas, tetapi juga belajar menghadapi persoalan nyata, bekerja dalam tim lintas negara, serta mempertanggungjawabkan ide di hadapan para praktisi.
Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk mengembangkan inovasi yang tidak hanya kompetitif secara global, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Partisipasi dalam program ini juga berkontribusi terhadap pencapaian sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Bagi FT UNS, capaian para mahasiswa tersebut menjadi lebih dari sekadar daftar penghargaan. Prestasi itu menjadi bukti bahwa ketika mahasiswa diberi ruang untuk belajar, berkolaborasi, dan berkompetisi di lingkungan internasional, mereka mampu membawa gagasan dari kampus ke panggung global.
Dan dari Singapura, empat mahasiswa FT UNS pulang tidak hanya membawa penghargaan, tetapi juga pengalaman untuk melihat bahwa inovasi terbaik lahir dari keberanian untuk keluar dari zona nyaman, memahami persoalan, dan berani menawarkan solusi kepada dunia. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.