Dari Komik ke Meja Makan, Cara Indra Gunawan Menanamkan Budaya Literasi Lewat Restoran
Komik bisa menjadi media belajar yang efektif karena mampu membuat orang memahami sesuatu tanpa merasa sedang belajar.
NUMLIT, SURAKARTA — Di salah satu sisi dinding sebuah restoran bernuansa taman di kawasan Banyuanyar, Surakarta, rak-rak buku estetik berdiri di antara meja makan dan suara pengunjung yang menikmati hidangan.
Bagi sebagian orang, keberadaan buku di restoran mungkin sekadar dekorasi. Namun bagi Indra Gunawan, owner Mr. Uduk Resto Garden, buku adalah bagian dari perjalanan hidup yang ingin terus ia rawat.
Kecintaan Indra terhadap dunia baca ternyata sudah tumbuh sejak kecil. Bahkan jauh sebelum duduk di bangku sekolah dasar (SD), ia mulai mengenal komik dari seorang tetangga yang membawa buku bergambar berwarna.
“Saya dulu lihat teman bawa buku bergambar kotak-kotak, warnanya bagus sekali. Ternyata itu komik Tapak Sakti karya Tony Wong. Dari situ saya mulai suka baca,” kenangnya, saat ditemui di restonya yang berlokasi di Jl. Pleret Utama No.20, Banyuanyar, Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah.

Di era 1980-an ketika anak-anak seusianya lebih banyak bermain kelereng atau sepak bola, Indra justru mulai akrab dengan dunia komik. Ia rela menyewa buku di persewaan komik “Ferdian” di kawasan Sumber, Surakarta. Kegemarannya semakin berkembang setiap kali bersilaturahmi ke Yogyakarta saat Lebaran.
“Di Jogja saya menemukan banyak komik wayang karya R.A. Kosasih dan komik Petruk karya Tatang S. Untuk komik wayang ada Mahabharata, Ramayana, wayang purwa. Dari situ imajinasi saya berkembang,” ujarnya.
Kebiasaan membaca komik itu terus bertahan hingga kuliah. Setelah mulai bekerja, ia perlahan membeli koleksi-koleksi favoritnya sendiri. Beberapa bahkan ia cari dalam satu seri lengkap karena ingin membacanya berulang kali.
Menurut Indra, komik bukan sekadar hiburan ringan. Ia percaya komik menjadi media belajar yang efektif karena mampu membuat orang memahami sesuatu tanpa merasa sedang belajar.
“Dari komik bertema olahraga misalnya. Kita jadi tahu istilah-istilah dalam olahraga karate, kendo, biliar, sepak bola, dan lain-lain. Karena dibaca berulang-ulang, tanpa sadar kita jadi ingat terus,” katanya.
Ia menilai kekuatan komik terletak pada kemampuannya membangun imajinasi. Gambar-gambar diam dalam komik justru memberi ruang bagi pembaca untuk membayangkan gerakan, suasana, hingga emosi tokohnya.
“Membaca itu seni yang berbeda dibanding melihat animasi. Dari gambar mati kita bisa berimajinasi sendiri,” ucapnya.

Semangat literasi itulah yang kemudian ia bawa ke dalam bisnis kulinernya. Mr. Uduk Resto Garden yang berdiri sejak 2 Januari 2019 memang tidak hanya dirancang sebagai tempat makan, tetapi juga ruang nyaman untuk membaca dan berbincang santai.
Awalnya, Indra mengaku hanya ingin memanfaatkan tanah kosong yang dimilikinya. Saat itu ia juga sudah memiliki usaha katering yang berjalan cukup baik.
“Karena sering ada teman dari luar Jawa datang dan selalu makan di luar, saya berpikir kenapa tidak bikin resto sendiri saja,” katanya.
Tanah yang ia dapatkan pada Oktober 2018 langsung dibangun menjadi restoran. Pada 2025, resto tersebut kembali direnovasi dan dikembangkan dengan fasilitas ruang pertemuan yang lebih representatif.
Meski bisnis kuliner terus berkembang, Indra tetap ingin mempertahankan identitas dirinya yang dekat dengan dunia buku. Ia yang juga bergerak di bidang penerbitan sengaja menghadirkan rak-rak bacaan di area restoran, mulai buku anak, pengetahuan umum, hingga komik.
Sebagian buku itu ia terbitkan sendiri melalui penerbit Qiyabooks, baik dalam format fisik maupun digital.
“Semangatnya sederhana. Sambil menunggu makanan, orang jadi terbiasa membaca,” katanya.
Menurutnya, komik menjadi jenis bacaan paling cocok untuk suasana restoran karena ringan, sederhana, dan mudah dinikmati semua usia.
Salah satu momen yang paling ia sukai adalah ketika melihat anak-anak duduk membaca buku sambil menunggu pesanan datang. Baginya, pemandangan kecil seperti itu menjadi harapan bahwa budaya literasi masih bisa tumbuh di tengah kehidupan modern yang serba digital.
Bahkan di era bacaan online saat ini, Indra masih memilih membeli buku fisik untuk beberapa koleksi favoritnya.
“Kadang walaupun sudah baca online, saya tetap beli buku fisiknya. Buat saya itu seperti monumen,” tuturnya sambil tersenyum. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.