Desa Bero Menanam Benih Literasi Sejak Usia Dini
Kegiatan "Cari Udin" tidak hanya menyasar anak-anak, tetapi juga mengajak orang tua untuk terlibat aktif dalam proses tumbuh kembang literasi anak.
NUMLIT, WONOGIRI — Senin (15/6/2026) pagi itu, Balai Dusun Pageyan, Desa Bero, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, tidak dipenuhi suara rapat atau musyawarah warga.
Table Of Content
Sebaliknya, ruangan itu dipenuhi tawa riang anak-anak yang berlarian sambil sesekali menggandeng tangan orang tuanya.
Mereka datang bukan untuk mengikuti perlombaan atau pertunjukan hiburan. Mereka berkumpul untuk sebuah kegiatan sederhana yang menyimpan makna besar yaitu belajar mencintai buku sejak dini.
Melalui program “Cari Udin” (Membaca Nyaring Anak Usia Dini), Tim Penggerak PKK Desa Bero berupaya menghadirkan pengalaman literasi yang menyenangkan bagi anak-anak sekaligus mengingatkan para orang tua bahwa kebiasaan membaca sebenarnya dapat dimulai dari rumah.
Sejak pagi, suasana hangat sudah terasa. Sebelum memasuki acara utama, anak-anak diajak bergerak bersama melalui senam ceria yang dipandu Warsiti dari Pokja II TP PKK Desa Bero.
Gerakan sederhana itu bukan sekadar pemanasan, tetapi juga cara untuk membangun semangat dan fokus anak-anak sebelum mengikuti rangkaian kegiatan.
Setelah lagu Indonesia Raya berkumandang dan doa bersama dipanjatkan, acara berlanjut dengan sambutan dari sejumlah pihak yang hadir, mulai dari perwakilan Kecamatan Manyaran, TP PKK Kecamatan Manyaran, hingga jajaran TP PKK Desa Bero.
Namun inti kegiatan sesungguhnya baru dimulai ketika seorang pendongeng dan pegiat literasi, Ayahanda Ibnu Aufin, mengambil tempat di depan peserta.
Ketika Cerita Menjadi Jembatan Kedekatan
Tak membutuhkan panggung megah atau teknologi canggih, Ayahanda Ibnu Aufin hanya membawa buku cerita, ekspresi yang hidup, dan kemampuan bertutur yang memikat.

Perlahan, perhatian anak-anak yang semula sibuk sendiri mulai tertuju ke arah depan. Mata mereka mengikuti setiap gerak tangan, perubahan mimik wajah, dan intonasi suara yang dimainkan sang narasumber.
Inilah yang dikenal sebagai metode membaca nyaring (read aloud), sebuah cara membacakan cerita dengan ekspresif agar anak tidak hanya mendengar kata-kata, tetapi juga merasakan emosi dan makna yang terkandung di dalamnya.
Menurut Ayahanda Ibnu Aufin, membaca nyaring memiliki manfaat yang jauh lebih besar daripada sekadar mengenalkan huruf dan kata.
Melalui kegiatan tersebut, anak-anak dapat memperkaya kosakata, melatih konsentrasi, merangsang daya imajinasi, hingga membangun kemampuan berkomunikasi. Lebih dari itu, membaca nyaring menjadi sarana mempererat hubungan emosional antara orang tua dan anak.
Di tengah kesibukan sehari-hari, momen sederhana saat orang tua membacakan cerita ternyata mampu menciptakan kedekatan yang sulit tergantikan oleh gawai atau hiburan digital.
Literasi yang Dimulai dari Rumah
Pembina TP PKK Desa Bero, Roh Edy Wibowo, dalam sambutannya menegaskan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam membangun fondasi literasi anak.
Sebelum mengenal buku pelajaran di sekolah, anak-anak terlebih dahulu mengenal cerita dari rumah. Dari situlah rasa ingin tahu, kemampuan berbahasa, dan kecintaan terhadap belajar mulai tumbuh.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat kegiatan “Cari Udin” yang tidak hanya menyasar anak-anak, tetapi juga mengajak orang tua untuk terlibat aktif dalam proses tumbuh kembang literasi anak.
Karena pada akhirnya, budaya membaca tidak lahir dari kewajiban, melainkan dari pengalaman yang menyenangkan.
Ruang Belajar yang Penuh Tawa
Suasana semakin hidup ketika sesi tanya jawab dimulai. Anak-anak yang semula duduk tenang mulai berebut mengangkat tangan. Beberapa dengan percaya diri maju ke depan menjawab pertanyaan, sementara yang lain bersorak memberi dukungan kepada teman-temannya.
Hadiah-hadiah sederhana yang disiapkan panitia menjadi penyemangat tambahan. Namun lebih dari itu, yang terlihat jelas adalah rasa bahagia ketika anak-anak merasa didengar, diapresiasi, dan dilibatkan.
Gelak tawa memenuhi ruangan. Orang tua ikut tersenyum melihat anak-anak mereka berani tampil dan berinteraksi.
Momen-momen seperti itulah yang menjadi kekuatan utama kegiatan literasi berbasis komunitas. Tidak terasa menggurui, tetapi mampu meninggalkan kesan mendalam.
Menanam Hari Ini, Memanen di Masa Depan
Di tengah derasnya arus informasi digital, membangun budaya membaca memang bukan pekerjaan yang mudah. Namun Desa Bero memilih memulainya dari langkah kecil, mengumpulkan anak-anak, menghadirkan cerita, dan menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan.
Kegiatan “Cari Udin” mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun benih yang ditanam hari itu berpotensi tumbuh jauh lebih lama.
Sebab kecintaan terhadap membaca tidak lahir dari paksaan. Ia tumbuh dari cerita yang menyenangkan, dari suara orang tua yang membacakan dongeng sebelum tidur, dan dari pengalaman sederhana yang membuat anak merasa bahwa membaca adalah petualangan yang seru.
Di Balai Dusun Pageyan pagi itu, literasi tidak diajarkan lewat teori. Literasi hadir dalam bentuk tawa, cerita, dan kebersamaan. Dan dari situlah masa depan pembaca-pembaca kecil mulai dibangun. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.