Di Antara Bara dan Bisu, Perempuan Berkisah di Tungku Para Empu
Dunia perkerisan selama ini identik dengan dunianya lelaki dan nyaris tak pernah dimasuki perempuan.
NUMLIT, SURAKARTA — Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Rabu (5/8/26) malam, ramai pengunjung. Di tengah gelaran Emparty Fest #1 itu, di antara deretan stan yang berjajar, kerumunan mengular di depan stan Program Studi Senjata Tradisional Keris Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Table Of Content
Bukan tanpa alasan, di sana, sedang berlangsung demonstrasi tempa keris langsung di hadapan publik.
Percikan api beradu dengan denting palu, aroma arang bercampur logam menguar di udara malam. Di tengah kerumunan yang menyaksikan itu, berdiri seorang perempuan yang sesekali turun tangan mengarahkan proses penempaan.
Namanya Intan Anggun Pangestu (32), salah satu dari sedikit perempuan di Indonesia yang menyandang gelar empu, sebutan bagi ahli pembuat keris.
Perjalanan Intan dimulai pada 2012, saat ia memutuskan masuk Program Studi Senjata Tradisional Keris di ISI Surakarta. Waktu itu, ia bahkan belum pernah melihat keris secara langsung, apalagi memegangnya.
“Awal mula tidak tahu apa itu keris, melihat langsung belum pernah, memegang juga belum pernah, dari nol,” kenangnya saat diwawancarai di lokasi acara.
Ia masuk program yang ternyata adalah sarjana terapan di mana porsi praktiknya jauh lebih besar ketimbang teori, tanpa gambaran sama sekali soal apa yang akan dihadapinya.
Yang paling berat bukan soal teknis menempa logam, melainkan rasa asing sebagai satu-satunya perempuan di antara mahasiswa laki-laki. Ya, dunia perkerisan selama ini identik dengan dunianya lelaki dan nyaris tak pernah dimasuki perempuan.
“Pada awal kuliah saya merasa menjadi minor, terasa sekali, dan saya belum pernah merasakan merantau jauh dari orang tua,” ujarnya.
Untungnya, dua teman laki-laki seangkatannya cukup solid dan suportif. Namun rasa nyaman itu tak bertahan lama. Memasuki semester III, keraguan mulai menggerogoti.
“Mulai bingung, tidak nyaman, karena perempuan sendiri, lingkungan semua laki-laki,” katanya.
Ia bahkan belum berani memegang mesin gerinda untuk proses finishing keris, sebuah keterampilan yang dianggap dasar bagi mahasiswa di prodi itu.
Ketidakberaniannya itu direspons dengan sindiran langsung dari lingkungan sekitarnya, “Wong wedok kok ra isa nggrinda” (perempuan kok tidak bisa menggerinda).
Tekanan itu sempat membuat Intan ingin menyerah. Ia mengadu kepada ibunya, meminta izin untuk mundur. Tapi, jawaban sang ibu justru menjadi titik balik. Keluarganya sudah melepasnya ke Solo. Maka, sudah menjadi tanggung jawabnya untuk menuntaskan pilihan itu. Tak elok mundur di tengah jalan.
Dari titik itu Intan bangkit lagi, meski keraguan sempat muncul lagi di semester V. Sebagai anak ragil dari dua bersaudara dan satu-satunya yang berkuliah, ia juga menanggung harapan keluarganya untuk menjadi sarjana.
Gelar yang Tak Diminta
Menariknya, sebutan “empu” pada Intan bukan gelar formal yang ia sandang sejak lulus, melainkan panggilan yang tumbuh organik dari komunitas perkerisan. Setelah lulus kuliah pada 2018, ia bergabung dengan komunitas perkerisan Brotosuro di Kota Solo.
Kariernya mulai dikenal setelah karya tugas akhirnya berupa tombak berbentuk daun pisang dipamerkan dalam memperingati Hari Ulang Tahun ke-1 Museum Keris Nusantara di Kota Solo pada Agustus 2018.
Ia juga ikut menempa langsung di salah satu sesi bersama para empu senior. Liputan seorang jurnalis perkerisan asal Jakarta kala itu juga membuat namanya mulai dikenal di kalangan pemerhati keris. Ternyata ada perempuan di Program Studi Keris.
Dari situ, undangan mengisi workshop dan pameran mulai berdatangan, dan orang-orang mulai memanggilnya “empu.”
Istilah itu menurutnya secara historis adalah gelar yang diberikan raja kepada para ahli di bidangnya, tak terbatas pada pembuat keris saja, tapi juga dalang, penari, hingga ahli karawitan.
“Ya sudah, saya mangga,” katanya, menerima panggilan itu dengan rendah hati.
Kini, jejak Intan di dunia perkerisan terbentang panjang. Lulus S2 pada 2022, ia sempat bekerja di Museum Keris Brojobuwono yang berlokasi di Wonosari, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar.
Tak hanya itu, Intan juga terlibat dalam program Empu Perempuan Indonesia di bawah lembaga perkerisan nasional, menjadi asesor di Lembaga Sertifikasi Profesi, hingga awal 2026 memiliki besalen sendiri di Bejen, Karanganyar, hasil dukungan Grup Pataka Bumi Lawu.
Ketika Keris Dianggap Milik Laki-Laki
Meski namanya kian moncer di dunai perkerisan, secara historis Intan mengakui keris memang lekat dengan laki-laki.
“Keris itu awalnya senjata untuk perang, kemudian bergeser strata sosialnya untuk diberikan kepada raja,” jelasnya.
Belum lagi tradisi busana adat pernikahan yang menempatkan keris sebagai simbol penggantinya laki-laki jika berhalangan hadir.
Namun dalam penelusurannya, Intan menemukan jejak sejarah lisan tentang Mbok Sumbro. Seorang perempuan pembuat keris dari era Pajajaran yang bermigrasi hingga ke Tuban dan membuat perkakas pertanian untuk menghidupi warga pesisir. Sosok inilah yang kerap ia jadikan rujukan bahwa perempuan pembuat keris bukan hal yang sepenuhnya asing dalam sejarah, meski nyaris terlupakan.
Ihwal stigma bahwa perempuan haid tidak boleh menempa, Intan punya caranya sendiri memaknainya.
“Dari segi budaya lebih ke menghormati, bahwa saat haid sedang membuang kotoran. Kalau segi biologis, perempuan saat masa haid biasanya tidak ada tenaga, perasaannya sedang amburadul, ketika membuat suatu karya juga tidak akan maksimal,” ujarnya.
Ia menegaskan itu bukan larangan mutlak, yang penting menjaga kondisi fisik dan batin tetap “connect” dengan pekerjaan berisiko tinggi ini. Sebab, menempa keris melibatkan api, listrik, dan percikan logam panas yang bisa mencederai siapa pun yang kehilangan fokus.

Yang menarik, di dalam komunitas perkerisan sendiri, kehadiran Intan justru dipandang sebagai keunikan, bukan ancaman.
“Di dunia perkerisan, para laki-laki ini tidak merasa posisi mereka terancam. Justru mereka mengapresiasi adanya perempuan adalah suatu keunikan,” katanya.
Kritik yang ia terima soal karyanya pun sebatas soal bentuk dan teknik, bukan soal keabsahannya sebagai perempuan yang menempa keris.
“Tidak ada hukumnya kalau keris itu laki-laki,” tegasnya.
Bayang-Bayang Pelecehan Verbal
Di balik apresiasi itu, Intan tak menampik pernah mengalami perlakuan negatif berbasis gender selama menekuni dunia yang didominasi laki-laki ini.
“Pernah. Mungkin secara verbal,” akunya.
Ia bercerita, dalam pergaulan sehari-hari komunitas perkerisan yang mayoritas laki-laki, pembicaraan kerap tanpa filter. Kehadirannya membuat sebagian dari mereka menyesuaikan diri, memilih bersikap lebih sopan. Tak sedikit pula candaan bernuansa pelecehan yang tetap muncul, seperti ajakan makan bersama yang dibumbui celetukan “ayo ke hotel”.
Menghadapi situasi itu, Intan memilih jalannya sendiri, mendengarkan, menegur, atau memilih pergi.
“Jadi ya tinggal bagaimana saya mau menanggapi atau tidak,” ujarnya.
Bagi Intan, hal itu menggambarkan betapa perempuan dalam ruang yang timpang gender kerap harus menanggung sendiri beban untuk menavigasi batas-batas kenyamanan.
Apresiasi, Bukan Ancaman
Heri Suryo Wibowo (51), salah satu tokoh perkerisan di Kota Solo, mengimbangi cerita Intan saat diwawancarai secara terpisah pada Minggu (9/8/2026). Ia mengaku mengenal keris sejak kecil lewat pusaka keluarga turun-temurun yang dirawat kakek dan ayahnya.
“Itu jalan yang dipilihkan Tuhan untuk saya,” katanya.
Laki-laki yang aktif di dunia perkerisan lebih dari dua dekade lamanya ini adalah pendiri dan pembina Paguyuban Sutresna Tosan Aji (PSTA) Nunggak Semi Surakarta, sebuah organisasi kemasyarakatan yang berbasis di Banyuanyar, Kota Solo, yang berfokus pada pelestarian, edukasi, dan pengembangan budaya tosan aji (keris).
Heri juga seorang kolektor, kurator pameran, sekaligus asesor Lembaga Sertifikasi Profesi Perkerisan.
Sepemahaman dengan Intan, Heri menegaskan peran perempuan di dunia perkerisan bukan hal baru. Ia membenarkan jejak Ni Mbok Sumbro, seorang empu Pajajaran yang berhijrah hingga Jawa Tengah dan Jawa Timur, meninggalkan gaya “Tuban Pajajaran” yang masih dikenal di dunia perkerisan klasik hingga kini, lengkap dengan artefak yang masih bisa ditelusuri.
Ia bahkan menambah satu nama yang jarang disebut, yaitu Raden Ngabehi Prodjotjurigo yang kerap disapa Mbah Wongso Putri. Ia seorang ahli keris perempuan terkenal di era sebelum tahun 2000-an yang berkarya bahu-membahu dengan suaminya, Raden Ngabehi Prodjotjurigo.
“Kalau zaman sekarang tidak ada perempuan yang berkiprah di dunia perkerisan, justru malah kemunduran,” tegasnya.
Masalahnya, menurut Heri, bukan soal keabsahan perempuan di bidang ini melainkan soal jumlah yang memang masih sedikit.
Meski di dunia akademik tempatnya mengajar ia mendapati beberapa mahasiswa perempuan jurusan perkerisan, bahkan dosen perempuan. Namun, jumlahnya memang masih sedikit.
Ia juga mulai mengenal sejumlah kolektor keris perempuan yang cukup menonjol belakangan ini.
“Kalau ada perempuan, memang sesuatu yang spesial,” katanya.
Di sisi lain, ia mengamini bahwa mayoritas pelaku dunia keris mulai dari empu, panjak, hingga kolektor, tetap didominasi laki-laki hingga sekarang.
Namun, inilah titik paling berbeda dari cerita Intan. Selama puluhan tahun berkecimpung di dunia perkerisan, Heri mengaku tak pernah mendengar atau menyaksikan langsung komentar diskriminatif semacam “perempuan kok tidak bisa nggrinda” terhadap perempuan yang belajar menempa.
“Justru mereka jadi bunganya, semacam sesuatu yang menyejukkan. Kami sangat menghargai dan memperlakukan mereka dengan hormat,” ujarnya.
Ia mengaitkan hal ini dengan sakralnya proses menempa keris itu sendiri. Baginya, ritual mengawali penempaan dengan memohon tuntunan Tuhan membuat sulit membayangkan hal-hal buruk bisa terlontar begitu saja di tengah prosesnya. Apalagi kepada seseorang yang sedang belajar.
“Bagaimana mungkin terlontar hal-hal yang buruk. Kami menghormati proses yang sakral itu,” katanya.
Karena itu, saat ditanya apakah candaan bernuansa pelecehan verbal lazim terjadi di lingkungan komunitas atau kampus perkerisan, jawabannya tegas, “Tidak lazim terjadi. Tidak biasa terjadi.”
Namun Heri tak sepenuhnya menutup mata. Ia mengakui jika hal semacam itu terjadi, itu murni soal adab personal pelakunya, bukan representasi budaya perkerisan secara umum.
“Kalaupun ada, memang si orangnya yang melontarkan itu memang orang yang tidak baik, jadi tidak secara khusus di perkerisan,” katanya.
Ia menyebutnya sebagai perilaku menyimpang dari oknum. Ia bahkan mengklaim kehadiran perempuan justru membuat laki-laki di sekitarnya lebih menjaga ucapan.
“Kami lebih berhati-hati di dalam menyampaikan suatu ungkapan, berkomentar, tidak sebebas apabila di dalam lingkungan yang hanya ada kaum laki-laki.”
Soal apakah stigma dan perlakuan kurang menyenangkan itu sudah dianggap kebiasaan wajar, Heri berpendapat itu murni soal tingkat pendidikan dan adab individu.
Pada kalangan yang well educated dan berpegang pada norma kesopanan, stigma negatif semacam itu menurutnya tidak akan muncul sama sekali.
Bukan Skill, tapi Bertahan Hidup dari Karya
Bagi Heri, tantangan terbesar perempuan yang serius menekuni jalur ini bukan soal kemampuan teknis menempa, melainkan soal bagaimana sebuah karya bisa diterima, dipasarkan, dan dihargai pantas oleh khalayak perkerisan dan kolektor.
Ini bukan perkara sepele. Modal produksi sebilah keris bisa mencapai jutaan rupiah, belum termasuk waktu, tenaga, dan pikiran yang dicurahkan.
“Kuncinya di situ, bagaimana karyanya dapat diterima dan dihargai dengan baik,” ujarnya sembari menekankan perlunya sosialisasi lebih luas bahwa ada empu-empu perempuan yang berkarya dan layak mendapat dukungan.
Ia menutup dengan refleksi yang menarik soal dimensi gender dalam karya itu sendiri. Menurutnya, perbedaan cara berpikir dan alam pikir antara laki-laki dan perempuan turut membentuk cita rasa dan jiwa yang berbeda dalam sebuah keris.
Ia mencontohkan Ni Mbok Sumbro. Dulu karyanya dianggap kurang sempurna dari sisi teknis penggarapan. Namun, belakangan justru mendapat apresiasi karena unsur lain di balik ketidaksempurnaan detail itu.
“Keris yang dibuat oleh perempuan tentunya mempunyai jiwa yang berbeda dengan keris yang dihasilkan oleh seorang empu laki-laki pada umumnya,” katanya.
Dua kesaksian ini, pengalaman personal Intan dan pengamatan Heri, sama-sama mengakui perempuan bukan hal asing dalam sejarah perkerisan, namun berbeda soal seberapa lazim perlakuan berbasis gender itu terjadi.
Bagi Intan, itu kenyataan yang harus dinavigasi sendiri setiap hari. Sedangkan bagi Heri, itu penyimpangan segelintir oknum yang tak mewakili komunitas secara umum.
Perbedaan sudut pandang ini justru menegaskan satu hal yang sama-sama mereka akui mengenai stigma terhadap perempuan di dunia keris tidak pernah benar-benar tunggal ceritanya.
Keris dan Filosofi Perempuan yang Lahir Kembali
Melihat kembali karya-karya Intan, tak dapat dipisahkan dari pengalaman hidupnya sebagai seorang perempuan. Salah satu karyanya, hasil kolaborasi dengan Lar Gangsir, mengangkat filosofi daun pisang sebagai simbol perempuan yang “lahir kembali,” sebuah metafora tentang perempuan yang menemukan kembali jati dirinya.
“Saya ingin mengingatkan bahwa perempuan ini sebenarnya bisa berkarya di manapun,” katanya.

Baginya, kehadiran perempuan di dunia perkerisan bukan soal menggantikan atau mengalahkan dominasi laki-laki, melainkan melengkapi.
“Justru saya ingin menjadi seimbang dalam arti saling melengkapi,” ujarnya.
Ia menegaskan hingga kini belum ada literatur atau ciri khas yang membedakan gaya “keris perempuan” dan “keris laki-laki”. Yang ada hanyalah karakter masing-masing pembuatnya.
Sebagai pengajar, Intan melihat tantangan bagi mahasiswa perempuan generasi baru tak jauh berbeda dari yang ia alami. Pekerjaan menempa keris tetaplah pekerjaan kasar yang menuntut keberanian personal.
Tantangan yang lebih besar, menurutnya, justru muncul setelah lulus. Bagaimana perempuan-perempuan ini berani mem-branding diri dan bertahan di jalur yang eksklusif dan minim pemesan ini.
Pesannya untuk perempuan muda yang ingin masuk ke bidang-bidang yang dianggap “milik laki-laki” pun tegas.
“Harus berani menunjukkan diri bahwa dirinya mampu di bidang ini. Ketika sudah mempelajari harus totalitas,” tuturnya.
Ia berharap makin banyak perempuan mau menyelami dunia keris secara utuh, dari sejarah, filosofi, bentuk, hingga proses pembuatannya.
“Meskipun ini pekerjaan kasar, pekerjaan laki-laki, perempuan juga bisa, kami juga kuat,” tegasnya.
Kepada masyarakat awam yang kerap mengaitkan keris dengan mistik dan energi magis, Intan punya satu pesan sederhana.
“Pahami dulu apa itu keris dan budaya di baliknya, sebelum buru-buru melabeli”. (Alfarisa Khusni F. R.)



No Comment! Be the first one.