Diskusi dari Kapur ke Algoritma Kupas Transformasi Pendidikan di Era AI
Diskusi tidak hanya membahas teknologi, tapi juga menggarisbawahi pentingnya nilai-nilai kemanusiaan dalam menghadapi transformasi pendidikan di era digital.
NUMLIT, SURAKARTA — Sesi diskusi panel dalam rangkaian Edutech and AI Expo 2026 menghadirkan perbincangan hangat bertajuk Dari Kapur ke Algoritma: Membedah Tantangan Evolusi Tiga Generasi Pendidikan.
Kegiatan ini berlangsung di The Park Mall Solo Baru, Rabu (29/4/2026), dipandu oleh Damar Sri Prakoso, pengajar broadcasting profesional, jurnalis senior, sekaligus founder Numeralitera.
Hadir sebagai narasumber, Dr. Sutanto, SSi, DEA, tokoh Inspiratif Kota Solo 2025 yang juga peneliti FMIPA UNS serta Wakil Rektor Bidang Kolaborasi Industri dan Kewirausahaan Universitas Tiga Serangkai (UTS) Solo.
Sementara itu, Ary Yulistiana, penulis buku Guru Era Metaverse dan Belajar Pendidikan Abad 21 di Queensland Australia, turut memberikan perspektifnya sebagai kandidat doktor di UMS sekaligus pengajar di SMKN 9 Surakarta.
Dalam paparannya, Sutanto membuka diskusi dengan membahas peran algoritma dalam dunia pendidikan. Melanjutkan Sutanto, Ary Yulistiana yang mengangkat tema Guru Era Metaverse: Menjadi Inspirasi di Tengah Transformasi AI dan Dunia Digital.
Ia menyampaikan materi secara interaktif dengan memanfaatkan aplikasi Kahoot!, menyisipkan pertanyaan dalam bentuk games untuk menjaga keterlibatan audiens.
Dalam sesi tanya jawab, Indah Kurniawati dari Sekolah Dasar Islam Internasional (SDII) Al Abidin Sragen, Jawa Tengah, menanyakan sejauh mana AI dapat mengubah dunia pendidikan.
Menanggapi hal ini, Sutanto menegaskan bahwa kehadiran kecerdasan buatan (AI) tidak akan menggantikan peran guru sepenuhnya.
“Dalam dunia pendidikan, guru tidak bisa tergantikan. AI lebih analitik. Ada hal-hal yang tetap membutuhkan penjelasan metodologis dari seorang guru,” ujarnya.
Pertanyaan lain datang dari Christina, peserta diskusi lainnya, terkait pendidikan yang tepat bagi generasi Z dan Alpha di era digital. Ary menjawab bahwa pendekatan yang relevan dan dekat dengan kehidupan mereka menjadi kunci utama.
“Secara sederhana, yang relevan dan yang dekat dengan mereka,” ujarnya.
Menambahkan hal tersebut, Sutanto menyoroti pentingnya filosofi pendidikan yang tidak berubah sejak dulu.
“Anda datang ke sekolah bukan untuk menyelesaikan Ujian Tengah Semester (UTS) atau Ujian Akhir Semester (UAS), tapi menyelesaikan ujian kehidupan. Sekolah menyiapkan anak-anak kita untuk masuk ke kehidupan sesungguhnya,” jelasnya.
“Bukan, apa matematika digunakan, tapi di mana matematika digunakan,” lanjutnya.

Topik lain yang turut dibahas adalah fenomena learning without signal. Ary menilai keterbatasan akses internet dapat berdampak pada masa depan pendidikan.
“Kehilangan sinyal bisa jadi kehilangan impian masa depan. Harapannya Indonesia bisa membuat platform yang lebih inklusif, yang tetap bisa digunakan saat offline atau sinyal buruk,” ungkapnya.
Hal ini disepakati oleh Sutanto yang menegaskan pentingnya akses sinyal dalam mendukung pembelajaran digital.
Moderator, Damar, menambahkan bahwa masih banyak persoalan yang dekat dengan keseharian, namun belum sepenuhnya terselesaikan.
Menutup diskusi, Ary mengajak para pendidik untuk terus beradaptasi.
“Mari menjadi guru yang humanis, inovatif, dan adaptif di era metaverse,” tuturnya.
Sementara itu, Sutanto menutup dengan pesan reflektif, “sebaik-baik orang adalah orang yang selalu memudahkan tatkala berurusan dengan orang lain.”
Diskusi panel ini menjadi salah satu sesi yang tidak hanya membahas teknologi, tapi juga menggarisbawahi pentingnya nilai-nilai kemanusiaan dalam menghadapi transformasi pendidikan di era digital. (Alfarisa Khusni F. R.)



No Comment! Be the first one.