Dosen FMIPA UNS Masuk Daftar Top 100 Asian Scientist 2026
Prof. Dr. rer. nat. Witri Wahyu Lestari, dosen Program Studi Kimia FMIPA UNS Surakarta masuk dalam daftar bergengsi Top 100 Asian Scientist 2026, sebuah penghargaan yang diberikan kepada ilmuwan...
NUMLIT, SURAKARTA — Sebagian besar orang mungkin tak pernah membayangkan bahwa masa depan energi bersih bisa berawal dari butiran material berpori yang diteliti berjam-jam di dalam laboratorium.
Namun, bagi Prof. Dr. rer. nat. Witri Wahyu Lestari, ruang laboratorium bukan sekadar tempat melakukan eksperimen, melainkan ruang untuk menjawab tantangan besar dunia.
Dedikasi panjang itulah yang akhirnya mengantarkan dosen Program Studi Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta ini masuk dalam daftar bergengsi Top 100 Asian Scientist 2026, sebuah penghargaan yang diberikan kepada ilmuwan paling berpengaruh di kawasan Asia-Pasifik.
Pengakuan tersebut bukan lahir dari satu penelitian semalam. Di baliknya, ada perjalanan panjang membangun inovasi yang berangkat dari persoalan sederhana namun mendesak.
Bagaimana menghasilkan energi yang lebih ramah lingkungan sekaligus menciptakan teknologi yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Selama bertahun-tahun, Prof. Witri menaruh perhatian pada pengembangan material katalis berbasis zeolit alam dan Metal-Organic Frameworks (MOFs).
Material berpori tersebut dikembangkan untuk membantu mengubah biomassa menjadi bahan bakar yang lebih bersih sekaligus menghasilkan berbagai senyawa kimia bernilai tinggi.
Di tangan Prof. Witri, material yang bagi sebagian orang tampak biasa justru memiliki potensi luar biasa.
Selain mendukung pengembangan energi berkelanjutan, MOFs juga diteliti untuk berbagai kebutuhan biomedis hingga teknologi remediasi lingkungan.
Penelitian itu menjadi bagian dari upaya menjawab tantangan global di tengah meningkatnya kebutuhan energi bersih dan pengelolaan sumber daya yang semakin berkelanjutan.
Masuknya nama Prof. Witri dalam daftar Top 100 Asian Scientist 2026 menjadi bukti bahwa karya ilmiah yang lahir dari laboratorium di Solo mampu mendapat pengakuan di tingkat internasional.
Daftar yang diterbitkan Asian Scientist Magazine tersebut setiap tahun hanya memuat ilmuwan, inovator, dan peneliti yang dinilai memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di kawasan Asia.
Para penerimanya dipilih melalui proses seleksi ketat, baik berdasarkan penghargaan internasional yang diraih maupun dampak nyata dari inovasi yang mereka hasilkan.
Di balik capaian tersebut, Prof. Witri sesungguhnya sedang membawa pesan yang lebih besar. Bahwa riset tidak boleh berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi harus mampu menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat.
Hasil penelitiannya mendukung pengembangan energi terbarukan berbasis biomassa, teknologi pengelolaan lingkungan, hingga aplikasi biomedis yang berpotensi meningkatkan kualitas hidup manusia.
Tak heran jika inovasi tersebut juga berkontribusi pada berbagai target Sustainable Development Goals (SDGs), mulai dari energi bersih, lingkungan sehat, konsumsi berkelanjutan, hingga kemitraan riset global.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNS, Prof. I Gusti Ayu Ketut Rachmi Handayani, menyebut pencapaian Prof. Witri sebagai kebanggaan sekaligus pengakuan internasional terhadap kualitas riset yang berkembang di UNS.
“Kami turut bangga atas terpilihnya Prof. Witri dalam daftar Top 100 Asian Scientist 2026. Prestasi ini merupakan pengakuan atas dedikasi dan kontribusi beliau dalam pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat internasional,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UNS.
Menurutnya, keberhasilan tersebut diharapkan menjadi pemantik semangat bagi para dosen dan peneliti muda untuk terus menghasilkan penelitian yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Harapan itu bukan tanpa alasan. Selain aktif sebagai peneliti, Prof. Witri saat ini juga mengemban amanah sebagai salah satu Kepala Seksi di LPPM UNS yang berperan dalam mendorong budaya riset di lingkungan kampus.
Kisah Prof. Witri menunjukkan bahwa pengakuan internasional bukanlah tujuan akhir sebuah penelitian. Penghargaan hanyalah penanda bahwa kerja sunyi di laboratorium dapat menjelma menjadi solusi bagi persoalan dunia.
Dari ruang riset di UNS, ia membuktikan bahwa ilmu pengetahuan tidak mengenal batas geografis.
Sebuah ide yang lahir di Solo dapat berbicara di panggung Asia, bahkan memberi harapan bagi masa depan energi yang lebih bersih, lingkungan yang lebih sehat, dan kehidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.