Festival Budaya Karanganyar Jadi Ruang Anak-anak Menjaga Tradisi Jawa
Generasi muda diharapkan tidak sekadar mengenal budaya sebagai warisan masa lalu, tetapi juga menjadikannya bagian dari identitas dan karakter di masa depan.
NUMLIT, KARANGANYAR — Denting gamelan mulai terdengar sejak pagi di tengah semangat ratusan pelajar yang bersiap tampil dalam Festival Budaya Kabupaten Karanganyar 2026.
Tak sekadar perlombaan seni, ajang yang digelar pada Rabu-Jumat (20–22/5/2026) itu menjadi ruang bagi generasi muda untuk belajar mencintai budaya sekaligus membangun karakter melalui tradisi Jawa.
Festival yang digelar Pemerintah Kabupaten Karanganyar tersebut menghadirkan dua agenda utama, yakni Lomba Karawitan tingkat SD/MI dan SMP/MTs serta Lomba Tari Karang Tumandang untuk jenjang SMP/MTs dan SMA/MA/SMK.
Acara dibuka secara simbolis oleh Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Karanganyar, Eny Dwi Suryani, S.H.,M.M., dengan memukul gol di Pendapa Rumah Dinas Bupati Karanganyar.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Karanganyar, Heri Sutrisno, S.Sn., M.M., mengatakan festival budaya rutin digelar sejak 2020 dan menunjukkan peningkatan setiap tahunnya, baik dari sisi antusiasme maupun kualitas peserta.
“Ini yang membuat kami bangga. Kami meyakini pembentukan karakter melalui budaya itu sangat kuat. Karena itu kami ingin memberi ruang agar anak-anak senang dan rasa cinta memiliki tradisi budaya,” ujarnya saat diwawancarai di lokasi acara.
Menurut Heri, pendidikan budaya tidak hanya soal melestarikan seni tradisional, tetapi juga membentuk sikap dan karakter siswa dalam kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan pembelajaran karawitan dan penggunaan bahasa Jawa yang dinilai mampu menanamkan nilai kesantunan, kerja sama, dan kedisiplinan pada anak.
“Kalau bahasa Jawa bisa menjadi pengantar pembelajaran, karakter anak juga akan lebih santun dan dekat dengan nilai budaya,” katanya.
Festival budaya tahun ini digelar dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional. Selain melestarikan budaya lokal, kegiatan tersebut juga bertujuan menumbuhkan rasa cinta terhadap seni tradisi, mempererat kolaborasi antarsiswa dan guru, hingga meningkatkan prestasi di bidang seni budaya.
Untuk lomba karawitan tingkat SD, sebanyak 14 grup dari perwakilan korwil kecamatan ambil bagian. Sementara kategori SMP diikuti 19 sekolah sederajat. Adapun lomba Tari Karang Tumandang diikuti 33 SMP sederajat dan 14 SMA/SMK sederajat.

Salah satu peserta datang dari Korwilcam Colomadu yang menggabungkan siswa dari empat SD berbeda. Guru pendamping sekaligus guru SDN Paulan Colomadu, Endang Purwati, mengaku proses persiapan tidak mudah karena harus membangun kekompakan antarsiswa dari sekolah berbeda.
“Kami latihan sekitar dua bulan. Tantangan utamanya membangun chemistry anak-anak karena mereka berasal dari empat sekolah berbeda,” ujarnya.
Dalam satu grup karawitan terdapat 24 siswa dengan peran berbeda-beda, mulai pemain saron, demung, kenong, bonang, kendang hingga vokalis gerong. Sebelum tampil di festival, para siswa lebih dulu mengikuti seleksi di sekolah masing-masing.
Menurut Endang, anak-anak sebenarnya memiliki naluri seni yang kuat. Tinggal bagaimana guru mengarahkan bakat tersebut agar lebih teratur dan memiliki irama yang harmonis.
“Kalau anak-anak sudah punya jiwa seni, sekali diberi arahan biasanya langsung nyambung,” katanya sambil tersenyum.
Sementara itu, Tari Karang Tumandang yang diperlombakan dalam festival juga memiliki makna historis tersendiri bagi Kabupaten Karanganyar. Tarian yang diciptakan pada tahun 2021 tersebut ditetapkan oleh Bupati Karanganyar H. Rober Christianto, S.E., M.M., pada 17 Agustus 2025 sebagai tari penyambutan resmi daerah.
Heri menjelaskan, Tari Karang Tumandang terinspirasi dari kisah Nyi Ageng Karang sebagai tokoh cikal bakal Karanganyar. Kini tarian tersebut rutin ditampilkan dalam berbagai acara resmi pemerintahan.
Melalui festival budaya ini, Pemerintah Kabupaten Karanganyar berharap generasi muda tidak sekadar mengenal budaya sebagai warisan masa lalu, tetapi juga menjadikannya bagian dari identitas dan karakter di masa depan. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.