Mahasiswa ATMI Belajar Sambil Mengabdi di Sekolah Mitra
Melalui model Project-Based Learning (PjBL), mahasiswa diajak turun langsung ke sekolah-sekolah mitra di Solo Raya untuk merancang sekaligus menjalankan berbagai proyek edukatif yang berdampak bagi...
NUMLIT, SURAKARTA – Mata kuliah wajib di perguruan tinggi umumnya identik dengan pembelajaran di dalam kelas. Namun, Politeknik ATMI Surakarta memilih pendekatan berbeda.
Melalui model Project-Based Learning (PjBL), mahasiswa diajak turun langsung ke sekolah-sekolah mitra di Solo Raya untuk merancang sekaligus menjalankan berbagai proyek edukatif yang berdampak bagi masyarakat.
Program tersebut menjadi bagian dari implementasi pembelajaran berbasis proyek yang dikembangkan Politeknik ATMI Surakarta untuk memperkuat karakter kepedulian sosial (social caring) dan civic engagement mahasiswa, sekaligus menjembatani dunia pendidikan tinggi dengan kebutuhan masyarakat.
Wakil Direktur Bidang Kerja Sama dan Pusat Karir Politeknik ATMI Surakarta, Ir. FX. Suryadi, Dipl.Ing.FH., M.T., mengatakan pembelajaran vokasi tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi teknis.
Menurutnya, lulusan juga perlu memiliki kepekaan sosial, kemampuan bekerja sama, serta pengalaman menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat.
“Melalui Project-Based Learning, mahasiswa tidak hanya belajar memahami teori, tetapi juga mengimplementasikan pengetahuan yang dimiliki melalui proyek nyata bersama sekolah mitra. Mereka belajar berkomunikasi, bekerja dalam tim, memimpin kegiatan, hingga menghadirkan solusi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya, belum lama ini.
Program tersebut merupakan bagian dari pengembangan model pembelajaran Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) yang mengintegrasikan pendekatan Outcome-Based Education (OBE).
Seluruh proses pembelajaran dirancang agar mahasiswa menghasilkan luaran nyata berupa produk, laporan, dokumentasi, hingga refleksi pembelajaran yang terukur.
Sepanjang pelaksanaan program, mahasiswa diterjunkan ke sejumlah sekolah mitra di Solo Raya, di antaranya SMP PL Bintang Laut, SMP Regina Pacis, SMK Negeri 9 Surakarta, SD Negeri Kleco, serta SD Marsudirini.
Beragam tema diangkat dalam proyek tersebut, mulai dari penguatan nilai toleransi, kampanye antiperundungan, pendidikan kewarganegaraan, kepedulian lingkungan, hingga edukasi energi terbarukan.
Kegiatan dikemas dalam bentuk lomba mural, pembuatan mading edukatif, robot angin, dongeng, permainan interaktif, serta kampanye karakter yang melibatkan siswa secara aktif.
Menurut Suryadi, pendekatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang jauh lebih bermakna dibandingkan pembelajaran konvensional.
“Mahasiswa belajar menghadapi dinamika di lapangan, berinteraksi dengan peserta didik, menyusun strategi pembelajaran, sekaligus mengevaluasi dampak dari program yang mereka jalankan. Ini merupakan bekal penting ketika nantinya mereka memasuki dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat,” katanya.
Tak hanya mahasiswa, sekolah mitra juga memperoleh manfaat dari program tersebut. Berbagai aktivitas edukatif yang dilaksanakan menjadi penguatan pendidikan karakter bagi siswa sekaligus menghadirkan metode pembelajaran yang lebih kreatif dan menyenangkan.
Sebagai institusi pendidikan vokasi, Politeknik ATMI juga menyusun pedoman resmi implementasi PjBL, memperbarui Rencana Pembelajaran Semester (RPS), serta mengembangkan sistem penilaian berbasis rubrik OBE agar pelaksanaan program berjalan lebih sistematis dan berkelanjutan.
FX Suryadi menjelaskan implementasi PjBL turut memberikan dampak positif bagi dosen karena mendorong perubahan peran dari pengajar menjadi fasilitator pembelajaran.
Dosen dituntut merancang pengalaman belajar yang lebih kontekstual sekaligus melakukan pendampingan selama mahasiswa menjalankan proyek.
Selain menghasilkan berbagai produk pembelajaran, program ini juga melahirkan sejumlah luaran berupa publikasi media, dokumentasi digital, video edukasi, hingga artikel ilmiah sebagai bagian dari diseminasi praktik baik pembelajaran vokasi.
Ke depan, Politeknik ATMI berkomitmen memperluas kolaborasi dengan lebih banyak sekolah mitra serta mengintegrasikan model pembelajaran berbasis proyek ke dalam kurikulum secara lebih menyeluruh.
“Kami ingin pembelajaran di ATMI benar-benar berdampak. Mahasiswa tidak hanya lulus dengan kemampuan akademik dan teknis, tetapi juga memiliki karakter, kepedulian sosial, kemampuan berkolaborasi, serta kesiapan menghadapi tantangan dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat,” pungkas FX Suryadi. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.