Merawat Ingatan Kota, UNS Latih Pengelola Perpustakaan dan Naskah Kuno
Preservasi bukan sekadar memperbaiki buku yang rusak, tetapi menjadi upaya menjaga agar informasi dan warisan budaya tetap dapat diakses oleh generasi mendatang.
NUMLIT, SURAKARTA — Sebuah naskah kuno yang robek atau buku tua yang rapuh mungkin tampak seperti benda usang. Namun di balik lembar-lembar yang mulai menguning itu tersimpan jejak sejarah, pengetahuan, dan identitas sebuah kota.
Menyadari pentingnya menjaga warisan tersebut, Program Studi D3 Perpustakaan Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar pelatihan preservasi bagi para pengelola informasi di Kota Surakarta.
Kegiatan bertajuk “Peningkatan Kompetensi Preservasi Berbasis Kearifan Lokal bagi Pengelola Informasi di Kota Surakarta” ini berlangsung selama dua hari, 25–26 Juni 2026, di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surakarta.
Pelatihan tidak hanya diikuti pustakawan, tetapi juga para pengelola koleksi bersejarah dari berbagai lembaga, mulai dari Pura Mangkunegaran, Sasana Pustaka Keraton Surakarta, Perpustakaan Masjid Agung Surakarta, hingga sejumlah perpustakaan wilayah di Kota Solo.
Ketua tim pengabdian, Katrin Setio Devi, M.Hum., mengatakan preservasi bukan sekadar memperbaiki buku yang rusak, tetapi menjadi upaya menjaga agar informasi dan warisan budaya tetap dapat diakses oleh generasi mendatang.
“Melalui kegiatan ini kami ingin memperkuat kompetensi para pengelola informasi sehingga koleksi perpustakaan maupun naskah kuno dapat terus terawat. Tidak hanya memahami teorinya, peserta juga langsung mempraktikkan berbagai teknik preservasi yang dapat diterapkan di instansi masing-masing,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UNS.
Selama dua hari pelatihan, peserta diajak mengenal berbagai teknik penyelamatan koleksi, mulai dari penjilidan ulang, enkapsulasi dokumen, mending atau perbaikan lembar naskah yang rusak, pembuatan portepel sebagai media penyimpanan naskah, hingga digitalisasi koleksi untuk menjaga keberlanjutan akses informasi.
Berbeda dengan pelatihan yang hanya berisi paparan materi, kegiatan ini memberikan ruang praktik langsung.
Para peserta mencoba sendiri setiap teknik dengan didampingi dosen-dosen Prodi D3 Perpustakaan UNS yang telah memiliki kompetensi di bidang preservasi informasi.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surakarta, Heny Ermawati, S.H., M.Hum., mengapresiasi kolaborasi antara dunia akademik dan pemerintah daerah dalam meningkatkan kapasitas para pengelola informasi.
Menurutnya, tantangan pelestarian koleksi semakin besar seiring bertambahnya usia dokumen dan naskah yang dimiliki berbagai lembaga di Kota Surakarta.
“Kolaborasi seperti ini sangat kami butuhkan. Dukungan dari akademisi menjadi bekal penting bagi para pengelola perpustakaan untuk meningkatkan kualitas layanan sekaligus menjaga koleksi bersejarah yang dimiliki Kota Surakarta,” katanya.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang pelatihan. Berbagai pertanyaan muncul mengenai cara menangani koleksi yang mulai lapuk, teknik penyimpanan yang tepat, hingga proses digitalisasi agar naskah tetap aman tanpa mengurangi nilai autentiknya.
Bagi UNS, kegiatan ini menjadi bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang tidak hanya memperkuat kompetensi teknis, tetapi juga mempererat sinergi antara perguruan tinggi dengan berbagai lembaga pengelola informasi di Kota Surakarta.
Lebih dari itu, pelatihan ini menjadi pengingat bahwa menjaga buku dan naskah kuno sesungguhnya berarti menjaga ingatan kolektif sebuah kota.
Sebab ketika warisan pengetahuan berhasil diselamatkan, generasi mendatang masih memiliki kesempatan untuk membaca, mempelajari, dan memahami sejarah yang pernah ditulis para pendahulunya. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.