Saat Mahasiswa UNS Melawan Dominasi Layar Lewat Panggung Teater
Teater bukan hanya soal tampil di atas panggung, melainkan tentang menjaga ruang refleksi, dialog, dan kemanusiaan yang tidak bisa digantikan oleh algoritma media sosial.
NUMLIT, SURAKARTA — Di tengah kebiasaan masyarakat menikmati hiburan melalui layar ponsel, sekelompok mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) memilih cara berbeda untuk menyampaikan kegelisahan mereka.
Table Of Content
Melalui panggung teater, mereka mengajak publik kembali merasakan pengalaman seni yang hidup, nyata, dan penuh emosi.
Semangat itu terlihat dalam Pentas Produksi Teater Sastra (TESA), Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS yang digelar di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) di Surakarta, Senin (15/6/2026) malam.
Mengangkat lakon “Keluarga yang Dikuburkan”, para pemain tidak hanya menampilkan pertunjukan seni, tetapi juga menghadirkan refleksi atas persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Ketua TESA, Setia Bela Adi Nugroho, menjelaskan bahwa pentas produksi merupakan ruang apresiasi sekaligus ajang eksplorasi yang lebih luas bagi anggota organisasi.
“Selama ini teman-teman rutin melakukan pentas-pentas kecil. Melalui pentas produksi, mereka mendapatkan ruang yang lebih besar untuk berproses dan menunjukkan hasil kerja kreatifnya kepada publik,” ujarnya.
Mengangkat Keresahan Sosial
Lakon “Keluarga yang Dikuburkan” merupakan adaptasi dari karya dramawan Amerika Serikat Sam Shepard berjudul “Buried Child” yang diterjemahkan oleh penyair Afrizal Malna. Naskah tersebut kemudian diinterpretasikan ulang oleh sutradara Rochmad Basuki, salah satu senior TESA.

Menurut Bela, pemilihan naskah tersebut bukan tanpa alasan. Cerita yang dihadirkan merefleksikan berbagai persoalan keluarga, termasuk fenomena perselingkuhan yang dinilai semakin sering muncul di tengah masyarakat.
Melalui pementasan itu, TESA ingin mengajak penonton melihat dampak sosial dan psikologis yang muncul ketika nilai-nilai dalam keluarga mulai rapuh.
Namun keresahan yang diangkat tidak berhenti pada persoalan keluarga semata.
Menjaga Nyawa Teater di Era Digital
Di balik lakon yang dimainkan, para anggota TESA juga membawa kegelisahan lain yang mereka rasakan sebagai pelaku seni pertunjukan yaitu semakin berkurangnya minat masyarakat menikmati seni secara langsung akibat derasnya arus digitalisasi.
Bela menilai pengalaman menonton pertunjukan teater tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh layar gawai.
“Menikmati pertunjukan teater dari layar ponsel atau media elektronik tentu akan sangat mengurangi pengalaman yang didapat. Atmosfer panggung, tata cahaya, musik, hingga interaksi emosional dengan pemain hanya bisa dirasakan secara utuh ketika ditonton langsung,” katanya.
Karena itu, TESA berupaya terus menjaga eksistensi seni pertunjukan sebagai ruang perjumpaan antara karya, pemain, dan penonton.
Berani Keluar dari Zona Nyaman
Pentas produksi tahun ini juga menjadi langkah baru bagi TESA. Jika biasanya mereka tampil di Sanggar TESA yang berada di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya UNS, kali ini mereka memilih panggung yang lebih besar di TBJT.
Keputusan tersebut diambil setelah proses persiapan yang berlangsung sejak Januari 2026.
Selain mempertimbangkan faktor teknis seperti cuaca, tampil di luar kampus menjadi strategi untuk menjangkau audiens yang lebih luas dan memperkenalkan karya mahasiswa kepada masyarakat umum.

Bagi TESA, tampil di salah satu pusat kesenian terbesar di Jawa Tengah juga menjadi pengalaman penting yang menambah nilai profesionalisme organisasi sekaligus portofolio berkesenian para anggotanya.
Merawat Komitmen dalam Berproses
Di balik suksesnya pementasan, terdapat proses panjang yang harus dijalani para anggota selama berbulan-bulan. Menjaga semangat latihan, membagi waktu antara kuliah dan produksi, hingga menyatukan visi dalam sebuah pertunjukan menjadi tantangan tersendiri.
Bela mengaku cara utama yang dilakukan untuk menjaga konsistensi tim adalah menanamkan rasa tanggung jawab terhadap pilihan yang telah mereka ambil.
“Ketika seseorang memutuskan bergabung dengan TESA, maka keputusan itu harus diwujudkan dalam bentuk komitmen untuk terus berproses dan bertanggung jawab terhadap perannya masing-masing,” ujarnya.
Melalui pentas ini, TESA berharap seni pertunjukan tetap memiliki ruang di tengah perubahan zaman. Bagi mereka, teater bukan hanya soal tampil di atas panggung, melainkan tentang menjaga ruang refleksi, dialog, dan kemanusiaan yang tidak bisa digantikan oleh algoritma media sosial.
“Semoga pertunjukan teater akan terus lestari dan teman-teman TESA selalu mampu menjaga komitmennya dalam setiap proses yang dijalani,” pungkas Bela. (Ditya Sri Pramudita)



No Comment! Be the first one.