Hadirkan 65 Museum, Pameran Vijaya Jaladri Nusantara Sedot 21.971 Pengunjung
Tingginya jumlah pengunjung menunjukkan bahwa museum memiliki daya tarik besar ketika dikemas dalam konsep yang lebih terbuka, interaktif, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.
NUMLIT, SURAKARTA – Museum ternyata bisa menjadi magnet wisata edukasi yang kuat ketika koleksi sejarah dibawa lebih dekat kepada masyarakat.
Table Of Content
Hal itu terlihat dari tingginya antusiasme publik terhadap Pameran Museum Keliling Abhinawa Bhumi #2 bertajuk “Vijaya Jaladri Nusantara 2026” yang digelar di Ndalem Djojokoesoeman, Surakarta, Jawa Tengah.
Selama empat hari penyelenggaraan, Kamis-Minggu (23–26/7/2026), pameran yang menghadirkan 65 museum, galeri, dan komunitas budaya dari berbagai daerah di Indonesia tersebut berhasil menarik 21.971 pengunjung.
Kepala UPTD Museum Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surakarta, Bonita Rintyowati, S.S., M.M., mengatakan tingginya jumlah pengunjung menunjukkan bahwa museum memiliki daya tarik besar ketika dikemas dalam konsep yang lebih terbuka, interaktif, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.
“Total pengunjung selama empat hari mencapai 21.971 orang. Rata-rata kunjungan pada hari kerja sekitar 3.500 orang, sedangkan pada akhir pekan mencapai sekitar 7.300 pengunjung,” ujar Bonita, saat dimintai konfirmasi, Minggu (26/7/2026).
Menurutnya, tingginya kunjungan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa pameran museum bersama dapat menjadi alternatif ruang edukasi sekaligus rekreasi bagi masyarakat.
Pengunjung yang datang pun berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak sekolah, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
“Ini menunjukkan bahwa museum bisa menjadi ruang belajar yang menarik untuk berbagai kelompok usia. Ketika museum-museum hadir bersama dalam satu lokasi, masyarakat bisa mendapatkan pengalaman mengenal sejarah dan budaya Indonesia secara lebih luas tanpa harus mengunjungi satu per satu museum di berbagai daerah,” jelasnya.
Museum Hadir Lebih Dekat dengan Masyarakat
Mengusung tema kejayaan maritim dan kekayaan budaya Nusantara, pameran tersebut memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melihat beragam koleksi sejarah yang biasanya hanya dapat ditemui di museum asalnya.

Salah satu daya tarik pameran adalah kehadiran koleksi dari berbagai daerah yang dikemas dalam 33 stan. Pengunjung dapat menemukan beragam narasi sejarah dan kebudayaan, termasuk koleksi yang berkaitan dengan perjalanan maritim Indonesia.
Museum Geologi Kementerian ESDM, misalnya, menghadirkan koleksi jejak kehidupan maritim hingga bagian dari kerak bumi Indonesia. Salah satu koleksi yang menarik perhatian pengunjung adalah gigi Megalodon, spesies hiu purba raksasa yang pernah mendominasi lautan jutaan tahun lalu.
Sementara itu, Museum Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menghadirkan narasi “Jejak Peradaban, Maritim Nagari Surakarta” yang mengangkat sejarah kawasan maritim seperti Semanggi, Nusupan, Beton, dan Kabanaran melalui buku, lukisan, serta peta lama.
Beragam koleksi tersebut menjadi pengalaman yang berbeda bagi pengunjung karena mereka tidak hanya melihat benda bersejarah, tetapi juga mendapatkan cerita dan konteks yang menghubungkan koleksi tersebut dengan perjalanan panjang peradaban Nusantara.
Dikemas Edukatif, Interaktif, dan Gratis
Bonita mengatakan keberhasilan pameran dalam menarik puluhan ribu pengunjung tidak terlepas dari konsep kegiatan yang tidak hanya berfokus pada koleksi museum.
Selama pameran berlangsung, pengunjung juga dapat mengikuti berbagai aktivitas edukatif dan hiburan, mulai dari edutalk museum, atraksi tempa keris, olimpiade seni dan budaya, Wuku dan Primbon, lomba fashion show, pertunjukan wayang dan tari, hingga panggung hiburan.
Kawasan Ndalem Djojokoesoeman yang disulap penuh nuansa kemaritiman juga menarik perhatian pengunjung. Banyak dari mereka yang berburu spot foto untuk mengabadikan momen kunjungannya di tempat itu. Ada gurita raksasa, gerbang ombak, kuda laut, ikan, dan sebagainya.

Pameran juga menghadirkan aneka kuliner Nusantara serta berbagai aktivitas interaktif yang membuat pengalaman berkunjung ke museum terasa lebih dinamis.
Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan museum sekaligus mengubah persepsi bahwa museum merupakan ruang yang kaku dan hanya berisi benda-benda lama.
“Pameran seperti ini menjadi momentum untuk mendekatkan museum kepada masyarakat. Museum bukan hanya tempat menyimpan koleksi, tetapi juga ruang belajar, ruang interaksi, dan ruang untuk mengenal kembali identitas serta perjalanan budaya kita,” kata Bonita.
Sebelumnya, Sekretaris Daerah Kota Surakarta, Budi Murtono, mengapresiasi penyelenggaraan pameran yang mempertemukan berbagai museum dalam satu lokasi.
“Saya sangat mengapresiasi karena pesertanya dari berbagai museum yang ada di Indonesia, di Jawa Tengah, Jogja, dari Bandung juga ada,” ujar Budi.
Menurutnya, konsep Museum Keliling memudahkan masyarakat mempelajari sejarah Nusantara dalam satu lokasi. Tema kemaritiman yang diusung juga dinilai mampu memperlihatkan hubungan koleksi museum dengan kejayaan maritim Indonesia.

“Sangat bagus, sangat beraneka ragam. Dengan tema tentang kemaritiman ternyata semua museum bisa menunjukkan hubungan koleksi mereka dengan kejayaan maritim Indonesia masa lalu,” ucapnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, Maretha Dinar Cahyono, mengatakan pameran diselenggarakan untuk menghadirkan edukasi budaya di luar ruang fisik museum. Kegiatan tersebut juga bertujuan memperluas jangkauan museum kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Pengunjung Jadi Modal Pengembangan Museum
Bagi pengelola museum di Kota Surakarta, capaian 21.971 pengunjung selama empat hari bukan sekadar angka statistik.
Tingginya antusiasme masyarakat menjadi bukti bahwa terdapat kebutuhan terhadap ruang edukasi budaya yang dikemas dengan pendekatan yang lebih menarik dan mudah diakses.
Kegiatan tersebut juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antarmuseum, galeri, komunitas, dan lembaga budaya dalam memperluas jangkauan edukasi sejarah.
Pameran Vijaya Jaladri Nusantara 2026 akhirnya memberikan satu pesan penting. Ketika sejarah dikemas secara menarik dan dibawa lebih dekat kepada masyarakat, museum tidak lagi sekadar menjadi tempat penyimpanan masa lalu.
Museum dapat berubah menjadi ruang yang hidup, tempat anak-anak belajar, mahasiswa menemukan perspektif baru, dan keluarga menikmati perjalanan mengenal sejarah bersama.
Dan, angka 21.971 pengunjung dalam empat hari menjadi bukti bahwa minat masyarakat terhadap sejarah dan budaya masih sangat besar, selama tersedia ruang yang mampu menghadirkannya dengan cara yang relevan dan menyenangkan. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.