Tak Sekadar Akreditasi, Perpustakaan UIN Surakarta Bidik Layanan yang Relevan di Era AI
Layanan perpustakaan harus semakin adaptif, berbasis teknologi, dan mampu menjawab kebutuhan pemustaka yang terus berubah.
NUMLIT, SURAKARTA — Perpustakaan perguruan tinggi kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Di tengah perubahan cara mahasiswa mencari dan mengolah informasi, perpustakaan tidak cukup hanya memiliki koleksi yang lengkap.
Table Of Content
Layanan harus semakin adaptif, berbasis teknologi, dan mampu menjawab kebutuhan pemustaka yang terus berubah.
Tantangan itulah yang mendorong UPT Perpustakaan UIN Raden Mas Said Surakarta melakukan studi banding dan sharing knowledge ke Perpustakaan UIN Sunan Ampel Surabaya dan Perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya, Selasa-Rabu (21–22/7/2026).
Kunjungan tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperkuat persiapan akreditasi, tetapi juga mencari praktik baik yang dapat diadaptasi untuk mengembangkan layanan perpustakaan yang lebih inovatif dan berorientasi pada kebutuhan sivitas akademika.
Rombongan UIN Raden Mas Said Surakarta terdiri atas Triningsih, S.IP., Nushrotul Hasanah Rahmawati, M.IP., Dwi Julia Hargiyanti, S.IP., Muhammad Zaki Mubarok, A.Md., dan Joko Susilo, S.I.Pust.
Dari dua institusi yang dikunjungi, rombongan mendapatkan dua perspektif yang saling melengkapi.
“UIN Sunan Ampel menjadi ruang belajar mengenai pengalaman akreditasi dan penguatan tata kelola, sementara Universitas Ciputra memberikan inspirasi tentang inovasi layanan perpustakaan yang semakin dekat dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pengguna,” ujar Kepala UPT Perpustakaan UIN Raden Mas Said Surakarta M. Zainal Anwar, M.Si, Jumat (24/7/2026).
Belajar dari Pengalaman Akreditasi UIN Sunan Ampel
Kunjungan pertama dilakukan di Perpustakaan UIN Sunan Ampel Surabaya, Selasa (21/7/2026).
Momentum tersebut menjadi penting karena Perpustakaan UIN Sunan Ampel baru saja menjalani proses akreditasi pada 15–16 Juni 2026.
Pengalaman selama proses asesmen, termasuk berbagai catatan evaluasi, menjadi bahan pembelajaran bagi UIN Raden Mas Said Surakarta dalam mempersiapkan proses akreditasi.
Menurut Zainal Anwar, sejumlah aspek strategis dibahas dalam forum tersebut, mulai dari penguatan kelembagaan, kecukupan jumlah pustakawan berdasarkan rasio pengguna, hingga peningkatan kompetensi sumber daya manusia.
“Diskusi juga menyentuh berbagai aspek instrumen akreditasi, termasuk penyusunan dokumen pendukung, tata kelola organisasi, pengembangan koleksi, kualitas layanan, serta upaya membangun budaya mutu secara berkelanjutan,” kata dia.

Rombongan kemudian mengikuti library tour untuk melihat secara langsung fasilitas dan layanan yang dikembangkan Perpustakaan UIN Sunan Ampel.
Bagi UIN Raden Mas Said Surakarta, lanjut Zainal Anwar, pengalaman tersebut menjadi bahan penting untuk memetakan berbagai hal yang perlu diperkuat dalam menghadapi akreditasi sekaligus mengembangkan perpustakaan secara lebih sistematis.
Menariknya, UIN Sunan Ampel juga berbagi pengalaman mengenai pengembangan program income generating yang turut mendukung peningkatan kesejahteraan pustakawan.
Dari Akreditasi Beralih ke Inovasi Era AI
Sehari kemudian, rombongan melanjutkan kunjungan ke Perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya, Rabu (22/7/2026).
“Jika kunjungan sebelumnya lebih banyak memberikan perspektif tentang tata kelola dan akreditasi, Universitas Ciputra membuka wawasan mengenai bagaimana perpustakaan dapat bertransformasi menjadi ruang belajar yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi,” terang Zainal Anwar.
Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah keberadaan AI Corner, sebuah ruang yang mendukung pembelajaran berbasis kecerdasan buatan.
Selain itu, Perpustakaan Universitas Ciputra mengembangkan layanan sirkulasi, referensi, repositori institusi, akses e-resources, hingga program kelas literasi informasi yang dilaksanakan secara berkala bersama program studi.
Program literasi tersebut membekali mahasiswa dengan kemampuan menelusuri informasi ilmiah, memanfaatkan basis data elektronik, serta menggunakan aplikasi reference manager.
Model ini menunjukkan bahwa perpustakaan tidak hanya menunggu mahasiswa datang untuk meminjam buku.
Perpustakaan justru mengambil peran aktif dalam membekali mahasiswa dengan kemampuan menemukan, mengevaluasi, dan mengelola informasi secara tepat.
Mahasiswa Diajak Mengenal Perpustakaan Sejak Hari Pertama
Praktik lain yang menjadi perhatian rombongan adalah strategi pendidikan pemakai (user education).
Perpustakaan Universitas Ciputra mengintegrasikan library tour dengan kegiatan orientasi mahasiswa baru.
Pendekatan ini dinilai efektif karena mahasiswa diperkenalkan dengan fasilitas dan layanan perpustakaan sejak awal mereka memasuki lingkungan perguruan tinggi.
Strategi tersebut menjadi penting di tengah perubahan perilaku generasi mahasiswa yang semakin akrab dengan teknologi digital.
Dengan pengenalan sejak awal, perpustakaan diharapkan tidak sekadar dipahami sebagai tempat mencari buku, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran dan pengembangan kompetensi mahasiswa.
Dalam diskusi, rombongan UIN Raden Mas Said Surakarta juga mempelajari strategi pengelolaan layanan dengan sumber daya manusia yang relatif terbatas.
Salah satu praktik yang menarik adalah pelibatan mahasiswa penerima beasiswa sebagai tenaga pendukung operasional perpustakaan melalui sistem penugasan yang terintegrasi dengan program beasiswa kampus.
Praktik tersebut menunjukkan bahwa inovasi layanan tidak selalu bergantung pada besarnya sumber daya.
Dengan pengelolaan yang tepat dan kolaborasi yang baik, keterbatasan sumber daya justru dapat diubah menjadi peluang untuk menciptakan model layanan yang lebih partisipatif.
Perkuat Jejaring, Buka Ruang Kolaborasi
Kunjungan ke Universitas Ciputra juga menjadi momentum memperkuat hubungan kelembagaan.
Perpustakaan Universitas Ciputra Surabaya dan UPT Perpustakaan UIN Raden Mas Said Surakarta menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) sebagai landasan kerja sama di bidang kepustakawanan, pengembangan sumber daya manusia, serta inovasi layanan perpustakaan.
Kepala Perpustakaan Universitas Ciputra, Yehuda Abiel, S.Sos., M.A., menyampaikan bahwa kunjungan antarlembaga menjadi ruang untuk saling berbagi pengalaman, memperluas jejaring, dan membuka peluang kolaborasi berkelanjutan.

Sementara itu, dari UIN Raden Mas Said Surakarta disampaikan apresiasi atas sambutan dan berbagai praktik baik yang dibagikan selama kunjungan.
Kerja sama tersebut diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi dapat berkembang menjadi kolaborasi konkret dalam penguatan kompetensi pustakawan, pengembangan layanan, dan inovasi kepustakawanan.
Akreditasi sebagai Titik Awal Transformasi
Dari rangkaian kunjungan tersebut, UPT Perpustakaan UIN Raden Mas Said Surakarta memperoleh sejumlah referensi strategis, mulai dari penguatan kelembagaan dan persiapan akreditasi hingga pengembangan layanan berbasis teknologi dan kebutuhan pengguna.
Namun, pembelajaran terpenting dari studi banding tersebut adalah bahwa akreditasi seharusnya tidak dipandang sebagai tujuan akhir.
Akreditasi menjadi momentum untuk membangun budaya mutu sekaligus mendorong perpustakaan agar terus berbenah.
Sementara perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, menuntut perpustakaan untuk terus beradaptasi agar tetap relevan dengan kebutuhan mahasiswa.
“Melalui pengalaman UIN Sunan Ampel dan Universitas Ciputra, UIN Raden Mas Said Surakarta memiliki ruang untuk mengembangkan perpustakaan yang tidak hanya memenuhi standar kelembagaan, tetapi juga mampu menjadi pusat pembelajaran yang inovatif, adaptif, dan dekat dengan kehidupan sivitas akademika,” terang Zainal Anwar.
Pada akhirnya, transformasi perpustakaan bukan sekadar tentang menambah koleksi atau memperbarui fasilitas.
Lebih dari itu, transformasi menyangkut bagaimana perpustakaan mampu hadir pada saat mahasiswa membutuhkan informasi, membekali mereka dengan kemampuan literasi yang relevan, serta menjadi ruang tumbuhnya budaya belajar di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat.
Studi banding tersebut menjadi bagian dari komitmen UIN Raden Mas Said Surakarta untuk membangun layanan informasi yang semakin berkualitas, inovatif, dan berorientasi pada pemustaka, sekaligus memperkuat jejaring kolaborasi dengan perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.