Teater Sanggar Jejak Bawa Pesan tentang Keserakahan ke Tengah Mal
Teater Sanggar Jejak memiliki jejak sejarah dalam perkembangan seni pertunjukan di lingkungan ISI Surakarta dan telah berdiri sebelum Program Studi Teater resmi hadir di kampus tersebut.
NUMLIT, SURAKARTA — Panggung teater tidak selalu membutuhkan gedung pertunjukan dengan lampu yang diredupkan dan kursi penonton yang tertata rapi.
Table Of Content
Di tengah hiruk-pikuk pusat perbelanjaan pun, teater bisa hadir, menyapa penonton, sekaligus mengajak mereka berhenti sejenak dari kesibukan dan budaya scroll di layar ponsel.
Pesan itulah yang dibawa Teater Sanggar Jejak saat tampil dalam Pra-Event Solo International Performing Arts (SIPA) di Foodcourt Solo Paragon, Sabtu (18/7/2026).
Dua mahasiswa Jurusan Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta angkatan 2025, Tegar Wijaya Budiman dan Khairul Rizam, tampil membawakan lakon berjudul “Malam Botak”.
Di ruang publik yang terbuka dan penuh aktivitas tersebut, keduanya menghadirkan cerita tentang manusia, nasib, kehilangan, dan keserakahan.
Penampilan itu sekaligus menjadi bukti bahwa teater dapat menemukan panggungnya di mana saja. Bahkan, ketika ruang pertunjukan tidak ideal sekalipun.
Membawa Teater Keluar dari Ruang Eksklusif
Bagi Tegar dan Khairul, Sanggar Jejak bukan sekadar kelompok teater. Sanggar tersebut memiliki jejak sejarah dalam perkembangan seni pertunjukan di lingkungan ISI Surakarta dan telah berdiri sebelum Program Studi Teater resmi hadir di kampus tersebut.
Sanggar Jejak juga menjadi salah satu ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan teater dan mengikuti berbagai ajang seni, termasuk Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida), khususnya pada tangkai lomba monolog.
Namun, ada satu nilai yang membuat Sanggar Jejak tetap relevan hingga kini yakni keterbukaan.
Khairul atau yang akrab disapa Khai mengatakan Sanggar Jejak tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa Jurusan Teater. Mahasiswa dari berbagai program studi dapat bergabung dan belajar bersama.
“Mahasiswa dari prodi FTV, Seni Murni, DKV, pokoknya terbuka untuk semua. Sanggar ini adalah wadah bagi siapa saja yang ingin berteater,” ujarnya saat diwawancarai seusai tampil.
Keterbukaan tersebut membuat teater tidak berhenti menjadi ruang ekspresi bagi mereka yang secara akademis mempelajarinya.
Sebaliknya, teater menjadi ruang pertemuan lintas disiplin bagi mahasiswa yang ingin belajar berbicara, berekspresi, berimajinasi, dan memahami manusia melalui seni pertunjukan.
Ketika “Sisir” Menjadi Simbol Keserakahan
Di balik pementasan “Malam Botak”, ada cerita tentang dua manusia yang sama-sama berhadapan dengan getirnya kehidupan.
Gondrong, yang diperankan Tegar, digambarkan sebagai pensiunan seniman yang pernah dipenjara dan kemudian menerima jalan hidupnya sebagai manusia yang menjalani kehidupan di jalanan.
Sementara Botak, yang diperankan Khai, merupakan korban pemutusan hubungan kerja (PHK) yang ditinggal istrinya dan kehilangan buah hati. Ia hidup dalam bayang-bayang masa lalu, tetapi tetap berusaha bertahan dengan apa yang dimilikinya.
Di tengah kondisi tersebut, Botak justru membawa pesan sederhana tentang rasa syukur.
“Prinsip hidupnya sederhana, ‘yang penting hari ini bisa makan’, itu saja sudah cukup untuk disyukuri,” kata Khai.
Namun, cerita kemudian bergerak menuju sebuah metafora yang lebih tajam. Di akhir pertunjukan, Botak justru mendapatkan sebuah sisir.
Benda sederhana itu menjadi simbol tentang perilaku manusia yang kerap mengambil sesuatu bukan karena membutuhkan, melainkan karena merasa harus memiliki.

Tegar menjelaskan, ending tersebut menjadi kritik terhadap sifat manusia yang egois dan serakah. Manusia sering kali terus mengambil sesuatu meski sebenarnya tidak membutuhkannya.
Dari sebuah sisir, penonton diajak melihat persoalan yang jauh lebih besar. Tentang keinginan untuk memiliki, mengambil, dan menguasai yang tidak pernah selesai.
Tujuh Hari Menaklukkan Panggung Mal
Membawa lakon teater ke dalam ruang foodcourt tentu bukan perkara mudah.
Di gedung pertunjukan, pemain dapat mengandalkan tata cahaya untuk membangun atmosfer. Namun, di pusat perbelanjaan dengan cahaya yang terus menyala dan aktivitas pengunjung yang berjalan seperti biasa, mereka harus mencari cara lain.
Tim pun memilih memaksimalkan permainan musik untuk membangun suasana.
“Karena tidak memungkinkan ada tim lighting di mal, kami akhirnya beradaptasi dengan hanya memaksimalkan peran operator musik,” jelas Tegar.
Tantangan semakin besar karena mereka hanya memiliki waktu sekitar satu minggu untuk mempersiapkan pertunjukan.
Sebagian anggota Sanggar Jejak lainnya sedang fokus mengikuti persiapan Peksimida. Akibatnya, Tegar dan Khai harus berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan berbagai kebutuhan pertunjukan, mulai dari menghafalkan naskah, mengatur blocking, menyiapkan musik, hingga tata rias.
Bagi Khai, persiapan singkat tersebut menuntut pengorbanan waktu dan energi.
“Ada urusan-urusan pribadi yang harus kami kesampingkan. Ini karena ada beban moral dan ekspektasi dalam setiap pertunjukan, sehingga kami usahakan sekeras mungkin agar semuanya bisa tersampaikan dengan baik ke penonton,” tegasnya.
Hasilnya, panggung Pra-Event SIPA menjadi ruang pembuktian. Bahwa keterbatasan waktu dan tempat tidak harus menjadi alasan untuk membatasi kreativitas.
Melawan Budaya “Scroll” dengan Imajinasi
Lebih dari sekadar pertunjukan, Tegar melihat teater memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan berpikir generasi muda di tengah derasnya konsumsi konten digital.
Ia menilai kebiasaan menghabiskan waktu dengan terus menggulir layar ponsel atau yang ia sebut sebagai budaya scroll berpotensi membuat anak muda kehilangan ruang untuk berimajinasi dan mengolah pikiran secara mendalam.
Sebaliknya, teater menuntut proses yang panjang. Pemain harus menghafalkan dialog, memahami karakter, mengolah vokal dan artikulasi, membaca naskah, hingga menyelami persoalan yang dibawa tokoh.
“Budaya scroll di zaman sekarang saya anggap menumpulkan otak dan memori. Sebaliknya, di teater kita dilatih untuk olah vokal, artikulasi, merangkai kata, berimajinasi, hingga menyelami naskah dan setiap tokoh. Proses inilah yang menajamkan otak,” urainya.
Bagi Tegar, teater bukan sekadar seni pertunjukan. Ia adalah ruang latihan untuk berpikir, merasakan, memahami orang lain, sekaligus mengolah imajinasi.
Karena itu, ia berharap dunia teater terus berkembang dengan menghadirkan bentuk-bentuk baru tanpa kehilangan akar tradisi. Teater, menurutnya, tidak harus selalu mengikuti pola yang monoton atau terlalu berorientasi pada gaya Barat.
Khai memiliki harapan yang tidak kalah penting. Ia ingin teater tidak berhenti menjadi konsumsi kalangan remaja dan dewasa, tetapi dapat diperkenalkan sejak dini sebagai bagian dari nilai kehidupan.
Pada akhirnya, penampilan Sanggar Jejak di Pra-Event SIPA menyampaikan pesan yang lebih luas daripada sekadar cerita tentang dua tokoh bernama Gondrong dan Botak.
Di tengah pusat perbelanjaan yang dipenuhi aktivitas dan layar digital, teater hadir untuk mengajak manusia berhenti sejenak. Mendengarkan. Membayangkan. Dan mungkin, bercermin.
Sebab dari sebuah cerita sederhana tentang kehidupan, penonton bisa diajak mempertanyakan kembali. Ketika hidup sudah mengajarkan kita tentang rasa cukup, mengapa manusia masih terus mengambil sesuatu yang sebenarnya tidak ia butuhkan?
Itulah kekuatan teater. Ia tidak hanya menghibur, tetapi juga memberi ruang bagi manusia untuk berpikir kembali tentang dirinya sendiri. (Ditya Sri Pramudita)



No Comment! Be the first one.