Tanpa Sepatah Kata, Dua Siswi SMP Ini Bikin Panggung SIPA Terdiam
Panggung Pra-Event SIPA menjadi kesempatan penting untuk menguji kemampuan sekaligus memperkenalkan kekuatan seni pantomim kepada publik yang lebih luas.
NUMLIT, SURAKARTA – Tidak semua cerita harus disampaikan dengan suara. Di panggung, terkadang gerak tubuh, tatapan mata, dan ekspresi wajah justru mampu berbicara lebih lantang daripada ribuan kata.
Table Of Content
Hal itulah yang ditunjukkan Gabriella Anargya Rucira Devi atau Agya dan Carren Novena Diariesta. Dua siswi SMP Pangudi Luhur Bintang Laut Surakarta itu tampil memukau dalam Pra-Event Solo International Performing Arts (SIPA) di Foodcourt Solo Paragon, Sabtu (18/7/2026).
Di tengah deretan penampil dewasa dan mahasiswa, Agya dan Carren hadir sebagai dua penampil termuda. Namun, usia belia tidak membuat keduanya tampil minder.
Melalui seni pantomim, mereka justru berhasil membawa penonton masuk ke dalam sebuah kisah tentang kerja keras, perjalanan, kehilangan, dan kerinduan terhadap keluarga.
Penampilan tersebut bukan sekadar panggung hiburan. Bagi SMP Pangudi Luhur Bintang Laut, Agya dan Carren merupakan lineup yang dipersiapkan untuk mengikuti Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N).
Panggung Pra-Event SIPA menjadi kesempatan penting bagi keduanya untuk menguji kemampuan sekaligus memperkenalkan kekuatan seni pantomim kepada publik yang lebih luas.
Cerita Tentang Perantauan di Atas Kapal Imajiner
Malam itu, Agya dan Carren memerankan dua pekerja keras yang tengah mengarungi lautan. Mereka digambarkan berada di atas sebuah kapal dan menjalani perjalanan panjang yang penuh tantangan.
Di tengah perjalanan, keduanya menemukan sebuah botol misterius.
Agya kemudian memanggil Carren untuk mengambil botol tersebut. Rasa penasaran berubah menjadi keterkejutan ketika mereka menemukan sebuah foto keluarga di dalamnya.
Namun, foto tersebut ternyata bukan sekadar foto biasa. Foto yang mereka temukan merupakan potongan yang melengkapi foto yang selama ini mereka simpan. Dua robekan foto itu akhirnya menyatu menjadi satu gambar keluarga.
Adegan tersebut kemudian membawa cerita pada puncak emosional. Di tengah kerasnya kehidupan sebagai perantau, keduanya harus menghadapi rasa rindu yang mendalam kepada keluarga yang mereka tinggalkan.
“Waktu dilihat, rasanya tidak asing dengan foto yang sedang kubawa. Ternyata, foto di dalam botol dan foto yang aku simpan adalah dua robekan yang saling melengkapi. Adegan itu ditutup dengan rasa sedih yang mendalam karena rindu dengan keluarga di tengah kerasnya perantauan,” jelas Agya.
Yang membuat penampilan tersebut menarik, seluruh cerita disampaikan tanpa dialog.
Tidak ada kalimat yang diucapkan. Tidak ada narasi panjang yang menjelaskan alur cerita. Hanya ada gerakan tubuh, ekspresi, dan permainan emosi.
Bagi Agya dan Carren, tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana membuat penonton memahami cerita yang mereka bawakan.
Keduanya harus membangun empati dan imajinasi yang kuat. Mereka tidak cukup hanya menghafal gerakan, tetapi harus memahami karakter dan situasi yang dimainkan.
Mereka dituntut untuk benar-benar masuk ke dalam dunia tokoh yang diperankan sehingga setiap gerakan memiliki makna.
Dua Jalan Berbeda yang Bertemu di Panggung Pantomim
Kecintaan Agya dan Carren terhadap pantomim juga lahir dari perjalanan yang berbeda.
Carren mengenal pantomim sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, ia mengikuti seleksi pantomim hanya karena rasa penasaran.

Tak disangka, pengalaman tersebut justru membawanya meraih juara dalam sebuah perlombaan.
Pengalaman itulah yang kemudian membuat Carren terus menekuni pantomim hingga jenjang SMP.
“Dulu waktu SD ada seleksi pantomim, aku coba-coba saja dan akhirnya malah tertarik. Puji Tuhan, waktu itu dapat juara lomba. Jadi, di masa SMP ini aku sekadar melanjutkan apa yang sudah dimulai sejak SD,” kenangnya.
Sementara Agya menemukan kecintaannya pada pantomim melalui dorongan sang ibu.
Awalnya, ia tidak memiliki ketertarikan khusus terhadap seni pantomim. Sang ibu kemudian mendorongnya untuk mengikuti perlombaan demi menambah prestasi sebagai bekal melanjutkan pendidikan.
Namun, dari sebuah dorongan sederhana itu, Agya justru menemukan dunia yang kemudian ia cintai.
“Dulu ibu memintaku untuk maju lomba saja demi menambah pundi-pundi prestasi sebagai bekal masuk SMP. Dari dorongan itulah, akhirnya aku justru menemukan kecintaan pada pantomim,” ujarnya.
Dua cerita tersebut memperlihatkan bahwa minat dan bakat anak terkadang tumbuh dari sebuah kesempatan kecil.
Ada yang berawal dari rasa ingin tahu. Ada pula yang lahir dari dorongan orang terdekat. Yang terpenting adalah adanya ruang untuk mencoba.
Ketika Sekolah dan Keluarga Menjadi Tim Pendukung
Di balik penampilan Agya dan Carren, terdapat dukungan kuat dari dua lingkungan terdekat mereka: keluarga dan sekolah.
Orang tua tidak sekadar memberikan dukungan moral. Mereka ikut terlibat dalam mempersiapkan berbagai kebutuhan pementasan, termasuk memikirkan konsep kostum, mencari bahan kain, hingga mengurus proses pembuatannya kepada penjahit.
Sementara itu, SMP Pangudi Luhur Bintang Laut memberikan dukungan melalui berbagai fasilitas dan pendampingan.
Sekolah menyediakan ruang latihan, mendukung kebutuhan tata rias, menugaskan guru pembina, hingga menghadirkan pelatih profesional untuk membantu mematangkan kemampuan keduanya.
Kolaborasi tersebut menjadi salah satu kunci penting dalam proses tumbuhnya bakat Agya dan Carren.
Sebab, kemampuan anak untuk berprestasi tidak hanya ditentukan oleh bakat personal. Lingkungan yang mendukung juga memiliki peran besar dalam membuat mereka berani mencoba, berlatih, dan tampil di hadapan publik.
Panggung Besar, Mental Tak Gentar
Tampil di pusat perbelanjaan dengan penonton yang beragam tentu menghadirkan tantangan tersendiri.
Terlebih, Agya dan Carren menjadi penampil yang usianya jauh lebih muda dibandingkan sebagian besar pengisi acara lainnya.
Namun, pengalaman mengikuti berbagai perlombaan membuat keduanya lebih siap menghadapi panggung.
Kepercayaan diri menjadi modal penting. Begitu pula doa dan dukungan dari orang-orang di sekitar mereka.
Hasilnya, kedua siswi tersebut mampu menunjukkan bahwa panggung seni tidak mengenal batas usia.
Justru melalui penampilan mereka, pantomim kembali menunjukkan kekuatannya sebagai seni yang mampu menjembatani siapa saja dengan penonton.
Tanpa bahasa verbal, cerita tetap dapat dipahami. Tanpa dialog, emosi tetap dapat dirasakan.
Dan tanpa banyak kata, dua siswi SMP itu berhasil meninggalkan pesan yang kuat bahwa seni memiliki bahasa universal yang dapat berbicara kepada siapa saja.
Agya dan Carren berharap seni pantomim ke depan semakin dikenal masyarakat dan semakin banyak anak muda yang tertarik untuk mempelajarinya.
Harapan itu terasa sederhana, tetapi penting.
Sebab, di tengah derasnya perkembangan berbagai bentuk hiburan modern, keberadaan generasi muda yang mau merawat seni pertunjukan menjadi bagian penting dari keberlanjutan ekosistem seni.
Panggung Pra-Event SIPA akhirnya bukan hanya menjadi tempat Agya dan Carren tampil.
Panggung itu menjadi ruang pembuktian bahwa talenta anak-anak muda dapat tumbuh ketika diberi kesempatan, didampingi dengan sabar, dan didukung oleh lingkungan yang percaya pada potensi mereka.
Dan malam itu, dua siswi SMP Pangudi Luhur Bintang Laut membuktikannya dengan cara yang paling unik: mereka tidak mengatakan apa-apa, tetapi berhasil membuat penonton memahami segalanya. (Ditya Sri Pramudita)



No Comment! Be the first one.