35 Hari Sekali, Warga Gunung Kunci Hidupkan Lagi Pasar Tempo Dulu
Pasar dengan konsep klasik di Gunung Kunci, Kartasura, Sukoharjo, lahir dari kerinduan masyarakat terhadap suasana pasar tradisional zaman dahulu.
NUMLIT, SUKOHARJO — Ketika pasar modern menawarkan kemudahan dan kecepatan, warga Gunung Kunci, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, justru memilih menghadirkan sesuatu yang semakin sulit ditemukan yaitu suasana pasar tempo dulu.
Table Of Content
Setiap 35 hari sekali, tepatnya pada pasaran Pahing dalam penanggalan Jawa, kawasan Gunung Kunci berubah menjadi ruang nostalgia.
Pepohonan yang masih rindang, suasana pedesaan, serta jajanan tradisional berpadu menghadirkan kembali atmosfer pasar jadul yang pernah akrab dengan kehidupan masyarakat. Pasar tersebut dikenal sebagai Pasar Pahing Gunung.
Pada Minggu (23/8/2026), pasar kembali digelar setelah sempat vakum akibat pandemi Covid-19. Kali ini, geliatnya terasa lebih istimewa karena Pasar Pahing sekaligus diresmikan sebagai salah satu destinasi wisata di Kabupaten Sukoharjo.

Bagi pengelola, menghidupkan kembali pasar bukan sekadar membuka lapak dan mendatangkan pedagang. Ada suasana masa lalu yang ingin dipertahankan.
“Alasan kami memilih lahan ini karena vibes-nya seperti dulu. Di sini masih ada pepohonan dan situasinya seperti zaman tempo,” ujar pengelola Pasar Pahing, Joko Priyanto.
Pasar dengan konsep klasik tersebut pertama kali berdiri pada 2017. Gagasannya lahir dari kerinduan masyarakat terhadap suasana pasar tradisional zaman dahulu.
Pandemi sempat membuat aktivitas pasar terhenti. Namun, kerinduan terhadap suasana tersebut tidak ikut hilang. Setelah vakum, masyarakat kemudian kembali menghidupkan Pasar Pahing dengan konsep yang dikembangkan sebagai ruang wisata sekaligus aktivitas ekonomi warga.
Jajanan Lama Menjadi Daya Tarik Baru
Salah satu kekuatan Pasar Pahing adalah kuliner tradisional. Di tengah menjamurnya makanan kekinian, pasar ini justru menawarkan jajanan dan makanan tempo dulu yang mulai sulit ditemukan di tempat lain.
Bagi sebagian pengunjung, datang ke pasar bukan sekadar mencari makanan, tetapi juga menemukan kembali rasa dan suasana yang mungkin sudah lama tidak ditemui.
“Respons masyarakat sekitar sangat baik dan antusias. Di sini juga tempat berkulineran makanan jadoel yang jarang ditemui di luar sana,” kata Joko.
Konsep tersebut sekaligus membuka ruang bagi warga sekitar untuk terlibat langsung dalam aktivitas ekonomi.
Sekitar 60 persen pedagang Pasar Pahing merupakan warga Gunung Kunci. Sementara sisanya terbuka bagi masyarakat umum yang ingin ikut berjualan.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa pasar tidak hanya dibangun untuk mendatangkan pengunjung dari luar, tetapi juga memberi ruang kepada masyarakat setempat untuk memperoleh manfaat ekonomi dari geliat wisata.
Dengan demikian, nostalgia yang ditawarkan Pasar Pahing memiliki nilai ekonomi yang nyata. Kuliner tradisional menjadi daya tarik, sementara warga menjadi bagian penting dari ekosistemnya.
Bukan Sekadar Pasar, Tapi Destinasi Wisata
Momentum Minggu (23/8/2026) menjadi babak baru bagi Pasar Pahing Gunung.
Plt Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo hadir langsung untuk meresmikan pasar jadul tersebut sebagai salah satu destinasi wisata di Kabupaten Sukoharjo.
Peresmian turut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Rektor UIN Surakarta Prof. Dr. Toto Suharto, S.Ag., M.Ag., serta HR Harto Hadiningrat yang merupakan bagian dari keluarga Keraton Kartasura.
Status sebagai destinasi wisata memberikan harapan baru bagi pengelola dan masyarakat. Pasar yang sebelumnya lahir dari kerinduan terhadap suasana tempo dulu kini memiliki peluang untuk berkembang menjadi tujuan wisata berbasis budaya dan kuliner.
Konsepnya pun memiliki keunikan tersendiri. Pasar tidak hadir setiap hari, melainkan hanya 35 hari sekali mengikuti siklus selapanan dalam tradisi Jawa. Kelangkaan waktu tersebut justru dapat menjadi daya tarik.
Pengunjung memiliki alasan untuk kembali menunggu. Ada sensasi bahwa pasar ini bukan tempat yang bisa dikunjungi kapan saja. Ketika pasaran Pahing tiba, suasana Desa Gunung kembali berubah dan pasar kembali hidup.
Menjaga Tradisi, Menggerakkan Ekonomi
Di tengah perubahan gaya hidup masyarakat, Pasar Pahing menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu harus ditempatkan sebagai sesuatu yang kuno. Tradisi justru dapat dikemas menjadi pengalaman baru.
Kuliner jadoel menjadi produk wisata. Suasana pedesaan menjadi daya tarik. Pasar tradisional menjadi ruang interaksi. Dan warga lokal menjadi pelaku utama ekonomi.
Untuk memastikan kegiatan berjalan lancar, pengelola juga memanfaatkan teknologi sederhana. Koordinasi pedagang dan panitia dilakukan melalui grup WhatsApp khusus sehingga informasi mengenai jadwal maupun kebutuhan kegiatan dapat disampaikan dengan cepat.
Perpaduan antara tradisi dan teknologi tersebut memperlihatkan bahwa menjaga suasana tempo dulu tidak berarti harus meninggalkan cara-cara modern dalam pengelolaannya.
Kini, tantangan berikutnya adalah menjaga agar Pasar Pahing tidak berhenti sebagai seremoni peresmian.
Pasar tersebut diharapkan mampu berkembang secara konsisten, mempertahankan karakter lokal, menjaga kualitas kuliner tradisional, serta semakin melibatkan masyarakat sekitar.
Jika itu dapat dilakukan, Pasar Pahing Gunung bukan hanya menjadi tempat orang datang untuk bernostalgia.
Ia bisa menjadi contoh bagaimana kerinduan terhadap masa lalu dapat diubah menjadi kekuatan ekonomi masa kini.
Setiap 35 hari sekali, ketika Pahing kembali tiba, Desa Gunung pun memiliki kesempatan untuk menghidupkan kembali cerita lama. Bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk menjadi bagian dari masa depan warga.



No Comment! Be the first one.