Dari Kampus ke Panggung Musik, Twenty One Plus Rilis Lagu “Judas”
Melalui lagu "Judas", Twenty One Plus ingin mengajak para pendengar yang pernah merasakan luka serupa untuk tidak memendam emosi sendirian.
NUMLIT, SURAKARTA — Tidak semua band lahir dari studio rekaman profesional atau lingkungan musik yang mapan.
Table Of Content
Twenty One Plus justru tumbuh dari ruang-ruang diskusi kampus, pertemanan mahasiswa, dan mimpi sederhana untuk menciptakan karya sendiri.
Band asal Surakarta, Jawa Tengah, yang digawangi mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta ini membuktikan bahwa perjalanan bermusik bukan hanya soal menghasilkan lagu.
Ada hal lain, seperti tentang belajar bertahan, beradaptasi, dan menjadi dewasa di tengah berbagai tantangan.
Nama Twenty One Plus sendiri menyimpan cerita unik. Terinspirasi dari grup legendaris Koes Plus, nama tersebut awalnya merujuk pada komposisi personel yang terdiri atas tiga mahasiswa angkatan 2021 dan satu mahasiswa angkatan 2022.
Namun lebih dari itu, angka 21 juga melambangkan fase kedewasaan yang ingin mereka pegang sebagai prinsip dalam bermusik.
Harapan tersebut bukan tanpa alasan. Di awal perjalanan, Twenty One Plus harus menghadapi dinamika yang kerap dialami band independen yaitu pergantian personel dan proses pencarian identitas musikal.
Alih-alih menyerah, mereka memilih bertahan. Kini Twenty One Plus tampil dengan formasi yang lebih solid.
Ditya Sri Pramudita, mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2021, menjadi vokalis utama sekaligus gitaris. Ia ditemani Satryo Herlambang atau Aryo dari Ilmu Sejarah 2023 pada posisi gitar dan vokal latar.
Di lini ritme, Keanu Ario Putra Rachmansyah atau Rio dari D3 Desain Komunikasi Visual 2021 mengisi bas, sementara Belva Kynan Sahasika dari Sastra Inggris 2022 menjadi penggebuk drum.
Menariknya, posisi gitar utama dalam band ini tidak pernah benar-benar tetap. Ditya dan Aryo kerap bergantian memainkan lead guitar sesuai kebutuhan karakter lagu yang mereka bawakan.
Menolak Terjebak Zona Nyaman
Sebagai band yang tumbuh dengan referensi musik Britpop dan British Rock, Twenty One Plus sebenarnya memiliki akar yang kuat pada musik-musik Inggris.
Nama-nama besar seperti The Beatles, The Smiths, The Cure, Radiohead, Oasis, Blur, hingga The Stone Roses menjadi santapan sehari-hari mereka.
Pengaruh tersebut kemudian diperkaya dengan energi modern dari Arctic Monkeys dan sentuhan garage rock ala The Strokes.
Dari Indonesia, mereka mengagumi kekuatan panggung dan karakter musik yang dimiliki The Changcuters serta The Panturas.
Namun ketika tiba saatnya merilis karya pertama, Twenty One Plus justru mengambil langkah yang tidak terduga. Mereka memilih keluar dari zona nyaman.
Alih-alih memperkenalkan diri lewat lagu Britpop yang menjadi identitas musikal mereka, Twenty One Plus merilis single debut berjudul “Judas“, sebuah lagu rock yang keras, agresif, dan penuh ledakan emosi.
Keputusan itu sengaja diambil sebagai bentuk eksplorasi. Mereka ingin menunjukkan bahwa karya pertama bukan sekadar kartu nama, melainkan ruang eksperimen untuk menguji kemampuan musikal masing-masing personel.
Ketika Pengkhianatan Menjadi Inspirasi
Di balik judulnya yang provokatif, “Judas” menyimpan cerita yang sangat dekat dengan kehidupan banyak orang. Pengkhianatan dalam pertemanan.
Bagi Twenty One Plus, nama Judas atau Yudas Iskariot merupakan simbol paling kuat untuk menggambarkan rasa dikhianati oleh orang yang sebelumnya dipercaya.
Namun lagu ini tidak dibangun dengan nuansa melankolis atau kesedihan yang mendayu-dayu.
“Sebaliknya, ‘Judas’ lahir dari kemarahan, kekecewaan, dan kesadaran pahit ketika seseorang akhirnya menyadari bahwa teman yang selama ini dianggap dekat ternyata memiliki wajah yang berbeda di belakangnya,” kata Ditya, saat diwawancarai Rabu (24/6/2026).

Emosi tersebut diterjemahkan ke dalam komposisi musik yang bertenaga. Distorsi gitar yang tebal, vokal dengan karakter serak dan teriakan emosional, hingga melodi gitar yang liar di bagian akhir menjadi medium untuk meluapkan amarah yang terpendam.
Melalui lagu ini, lanjut dia, Twenty One Plus ingin mengajak para pendengar yang pernah merasakan luka serupa untuk tidak memendam emosi sendirian.
Berkarya dari Sudut Kampus
Di balik proses kreatif “Judas“, semangat kolaborasi antarmahasiswa juga menjadi kekuatan utama.
Proses mixing dan mastering lagu ini ditangani oleh Alif Maulana Yusuf. Aransemen turut diperkaya permainan keyboard dari Marvellandaru Bagiyanto, sementara suara tawa yang muncul dalam lagu diisi oleh Setia Bela Adi Nugroho.
Rekaman drum dilakukan di Studio Biru di Kota Surakarta, sedangkan instrumen lainnya direkam secara mandiri di sekretariat Komunitas Musik dan Film (KMF) Fakultas Ilmu Budaya UNS.
Bagi Twenty One Plus, keterbatasan fasilitas bukan alasan untuk berhenti berkarya.
Justru dari lingkungan kampus itulah mereka menemukan ruang untuk tumbuh, bereksperimen, dan membangun identitas sebagai musisi muda.
Perjalanan Twenty One Plus mungkin baru dimulai. Namun melalui “Judas”, mereka telah mengirimkan pesan penting bahwa musik tidak selalu lahir dari kisah-kisah manis.
“Kadang, karya terbaik justru muncul dari pengalaman pahit yang diolah menjadi energi kreatif. Lagu ‘Judas’ ini juga sudah dapat dinikmati di spotify,” ujar Ditya.
Dari ruang-ruang kampus di Surakarta, empat mahasiswa ini sedang membuktikan bahwa mimpi besar bisa dimulai dari langkah sederhana.
Mereka berani menciptakan lagu pertama dan tetap dewasa menghadapi setiap tantangan di sepanjang perjalanan. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.