Lulus Doktor dalam 2 Tahun 9 Bulan, Imam Samodra Ingin Ubah Cara Anak Indonesia Belajar
Sebagai Pelaksana Harian Yayasan Al Abidin Surakarta yang membina 34 satuan pendidikan dengan sekitar 7.650 peserta didik di Jawa Tengah dan DIY, Imam Samodra masih aktif mengajar sebagai guru kimia...
NUMLIT, SURAKARTA — Bagi sebagian orang, menyelesaikan pendidikan doktor dalam waktu kurang dari tiga tahun mungkin sudah menjadi prestasi yang membanggakan.
Namun bagi Dr. Imam Samodra, S.Si., M.Si., Gr., capaian itu hanyalah awal dari misi yang lebih besar, menghadirkan pembelajaran yang mampu melahirkan generasi Indonesia yang kreatif, adaptif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Pada Wisuda Periode V Tahun 2026 Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Sabtu (27/6/2026), Imam dinobatkan sebagai Wisudawan Tercepat Program Doktor setelah menyelesaikan studi hanya dalam waktu 2 tahun 9 bulan.
Tidak hanya itu, ia juga menyandang predikat Wisudawan Terbaik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98.
Di balik capaian akademik tersebut, tersimpan sebuah gagasan yang ingin ia bawa ke ruang-ruang kelas di Indonesia.
Melalui disertasinya, Imam mengembangkan model pembelajaran Computational Thinking Project Learning (CTPjL), sebuah pendekatan yang menggabungkan Computational Thinking dengan Project-Based Learning.
Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya membuat siswa menguasai teori, tetapi juga harus melatih mereka berpikir sistematis, memecahkan persoalan nyata, dan menghasilkan solusi yang kreatif.
“Melalui model ini, siswa tidak hanya mempelajari konsep, tetapi juga dilatih berpikir secara sistematis, menganalisis dan memecahkan permasalahan nyata, serta menghasilkan solusi inovatif melalui pembelajaran berbasis proyek yang relevan dengan kehidupan sehari-hari,” jelas Imam.
Baginya, pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang membuat ilmu pengetahuan terasa dekat dengan kehidupan masyarakat.
Disiplin Menjadi Kunci
Keberhasilan menyelesaikan studi doktor dalam waktu singkat bukanlah hasil kerja instan.
Imam mengaku sejak awal telah menetapkan target penyelesaian studi berdasarkan arahan promotornya, Prof. Dr. Fitria Rahmawati, S.Si., M.Si., yang mendorong agar studi doktor dapat dituntaskan maksimal dalam tiga tahun.
Target tersebut kemudian diterjemahkan menjadi langkah-langkah yang terukur. Mulai dari penyusunan proposal, penelitian, analisis data, penulisan disertasi hingga ujian terbuka, seluruh tahapan direncanakan secara rinci.
“Saya menyusun jadwal penyelesaian studi secara rinci dan berusaha menjalankannya dengan disiplin. Komunikasi yang intensif dengan promotor menjadi kunci agar setiap perkembangan penelitian memperoleh arahan secara berkala,” ujarnya.
Ia bahkan mendokumentasikan seluruh proses bimbingan dalam buku catatan khusus sehingga perkembangan penelitian dapat dipantau secara sistematis.

UNS bukanlah kampus yang baru dikenalnya. Imam merupakan salah satu akademisi yang menempuh seluruh jenjang pendidikan tingginya di kampus tersebut, mulai dari Program Sarjana Pendidikan Kimia, Pendidikan Profesi Guru (PPG), Magister Kimia, hingga akhirnya meraih gelar Doktor Pendidikan IPA.
Menurutnya, budaya akademik yang kuat dan iklim riset yang kondusif menjadi alasan mengapa ia terus mempercayakan perjalanan intelektualnya kepada UNS.
Kini, di tengah kesibukannya sebagai Pelaksana Harian Yayasan Al Abidin Surakarta yang membina 34 satuan pendidikan dengan sekitar 7.650 peserta didik di Jawa Tengah dan DIY, Imam masih aktif mengajar sebagai guru kimia di SMA Al Abidin Bilingual Boarding School Surakarta.
Kesibukan tersebut tidak menghalanginya untuk terus melakukan penelitian, terutama dalam pengembangan pembelajaran sains yang terintegrasi dengan Computational Thinking dan konsep Green Chemistry.
Pendidikan sebagai Jalan Mengubah Bangsa
Bagi Imam, gelar doktor bukanlah garis akhir perjalanan akademik.
Ia justru melihatnya sebagai amanah untuk memberikan kontribusi yang lebih luas bagi dunia pendidikan Indonesia.
Inspirasi itu ia temukan dari kutipan tokoh dunia Nelson Mandela yang selalu dipegangnya, bahwa pendidikan merupakan senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.
“Saya meyakini bahwa pendidikan merupakan senjata paling kuat untuk membawa perubahan. Karena itu, saya ingin berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia melalui pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan,” tuturnya.
Ia juga memandang pengembangan pendidikan sebagai bagian dari dakwah yang manfaatnya dapat dirasakan banyak orang.
Melalui inovasi pembelajaran yang dikembangkannya, Imam berharap sekolah-sekolah di Indonesia mampu menghadirkan proses belajar yang lebih kreatif, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Bagi Imam Samodra, gelar doktor tercepat bukanlah tujuan utama. Yang lebih penting adalah memastikan ilmu yang diperoleh benar-benar hidup di ruang kelas, menginspirasi guru, dan membantu lahirnya generasi Indonesia yang mampu berpikir kritis, berani berinovasi, serta siap menjawab tantangan masa depan. (Damar Sri Prakoso)



No Comment! Be the first one.